Selasa, 17 September 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Rabu, 04 Sep 2019, 10:00:06 WIB, 8 View Tim Redaksi, Kategori : News
Update Tabrakan Beruntun: Truk Kelebihan Muatan 13 Ton dan Rem Blong - Gudang Berita Viral

gudangberitaviral.com – Penyebab kecelakaan beruntun yang melibatkan 20 kendaraan di tol Purbaleunyi mulai terungkap. Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan saksi, pihak Polres Purwakarta menyatakan bahwa truk penabrak mengangkut barang melebihi kapasitas. Dua truk yang terlibat kecelakaan itu ternyata milik satu perusahaan.

Kapolres Purwakarta AKBP Martius menuturkan, pihaknya telah memeriksa Subana bin Talkam, sopir dump truck yang menabrak beberapa mobil. “Dua truk itu dari satu perusahaan. Muatannya sama, tanah,” terangnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin sore.



Dari pengakuan Subana diketahui, awalnya dua truk itu melaju sejajar. Truk yang dikemudikan oleh Subana berada di depan truk yang disopiri Dedi Hidayat. Tak berapa lama, Dedi menyalip Subana. “Dedi lalu menelepon, mengatakan bahwa remnya blong akibat kurang angin,” jelasnya.

Namun, sesaat kemudian, Dedi kembali menelepon Subana dan memberitahukan bahwa remnya sudah normal. Tapi, entah bagaimana, truk yang dikemudikan Dedi akhirnya terguling. “Truk yang dikemudikan Subana masih di belakang,” terangnya.

Nah, saat empat kendaraan berhenti karena truk terguling, truk yang dikemudikan Subana baru mau sampai di lokasi. Namun, insiden serupa terjadi. Truk tersebut mengalami rem blong. “Akhirnya menabrak empat mobil dan membuat kendaraan di belakangnya mengalami tabrakan beruntun,” ungkapnya.

Dedi meninggal karena kecelakaan tersebut. Sesuai pengakuan Subana, truk yang dikendarainya membawa muatan melebihi kapasitas. Batas maksimal muatan hanya 24 ton, tapi truk itu malah mengangkut 37 ton. “Ada kelebihan beban 13 ton,” terangnya.

Dump Truck yang terbalik diduga menjadi pemicu terjadinya tabrakan beruntun di Tol Purbaleunyi. (Gani Mahnida/Radar Karawang)

Berdasar hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), ada turunan panjang di tol tersebut. Karena itu, diduga, kelebihan beban plus turunan panjang membuat pengereman tidak maksimal. “Tabrakan akhirnya terjadi,” tuturnya.

Sementara itu, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, korban yang meninggal ternyata hanya delapan. Bukan sembilan seperti yang dia sebutkan kemarin. “Dari delapan itu, empat telah teridentifikasi,” tuturnya.

Berdasar data yang dikumpulkan Jawa Pos, sudah tiga kali kecelakaan terjadi di sekitar km 90 hingga 91 sejak Februari hingga September 2019. Humas PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi Nandang mengungkapkan, pihaknya berencana menambah fitur keamanan di km 91 tol tersebut. Salah satunya adalah penambahan lampu penerangan jalan umum (PJU). “Jumlah dan sebagainya masih dikaji,” jelas dia kepada Jawa Pos kemarin (3/9).

Selain itu, akan dibuat jalur pengaman yang berupa urukan pasir tambahan di kanan-kiri bahu tol. Urukan akan meninggikan badan jalan. Dengan begitu, jika mengalami rem blong dan keluar dari jalur, kendaraan akan ditahan badan jalan pasir tersebut. Tidak langsung nyungsep ke jurang. Untuk rambu, menurut Nandang, jumlahnya masih cukup. “Apakah nanti akan ditambah, kami lihat dulu,” jelasnya.

Kepala Subbidang Mitigasi Pergerakan Tanah Wilayah Barat PVMBG Sumaryono mengatakan, daerah yang menjadi lokasi kecelakaan itu memang memiliki risiko gerakan tanah lambat. “Tapi, memang sudah ada dari dulu. Jadi, tidak ada kaitannya dengan kecelakaan,” ucap dia.

Sumaryono menambahkan, sepengetahuannya, pihak tol telah melakukan beberapa rekayasa engineering untuk mengatasi potensi gerakan tanah itu. “Lereng-lereng sudah diperkuat untuk km 91-92,” katanya.

Pakar transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Sony Sulaksono mengatakan, kelaikan dump truck menjadi faktor utama kecelakaan. Dia menduga, dua dump truck itu tidak menjalani uji kelaikan sebelum jalan. “Sehingga mengakibatkan rem blong,” kata Sony kepada Jawa Pos kemarin.

Padahal, kendaraan harus melewati tol Purbaleunyi yang berada di daerah pegunungan. Jalur menurun dari arah Bandung menuju Jakarta dan menanjak dari Jakarta menuju Bandung. Plus, rutenya berkelok-kelok. Pihak Jasa Marga sebenarnya sudah memberikan rambu peringatan di beberapa spot tol tersebut.

Truk Odol

Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi kemarin menyampaikan bahwa ruas tol Cipularang memang rawan kecelakaan. Karena itu, dalam waktu dekat pihaknya mengadakan pertemuan dengan Polri, KNKT, BPJT, dan Jasa Marga.

“Kami ingin belanja masalah dan cari masukan. Kami akan lakukan pemetaan kondisi jalan dan perilaku pengemudinya seperti apa,” ucapnya.

Hasil penyelidikan Polres Purwakarta, pada saat kejadian, truk kedua berkecepatan lebih dari 50 km/jam. Mulanya truk itu berjalan di gigi 6. Namun, saat melihat truk di depannya kecelakaan, truk kedua pindah ke gigi 4. Tapi, beban yang melebihi kapasitas membuat pengereman tidak maksimal. Bahkan, rem panas dan menjadi keras. Akibatnya, terjadi kecelakaan beruntun. “Odol (overdimension dan overload, Red) harus diselesaikan,” ucapnya.

Selama ini pemotongan truk odol sudah dilakukan di beberapa kota. Meski demikian, Budi akan berkoordinasi dengan BPJT dan operator tol lain agar membantu memberantas truk odol.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Bergeser ke Usia Lebih Muda, Kenali 10 Gejala Umum Alzheimer - Gudang Berita Viral Bergeser ke Usia Lebih Muda, Kenali 10 Gejala Umum Alzheimer
Selasa, 17 Sep 2019, 13:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
Polda Kalbar Tetapkan 61 Tersangka Karhutla, 9 Korporasi Disegel - Gudang Berita Viral Polda Kalbar Tetapkan 61 Tersangka Karhutla, 9 Korporasi Disegel
Selasa, 17 Sep 2019, 13:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
1.461 Mobil Mewah Belum Bayar Pajak, Total Tunggakan Rp 48,6 Miliar - Gudang Berita Viral 1.461 Mobil Mewah Belum Bayar Pajak, Total Tunggakan Rp 48,6 Miliar
Selasa, 17 Sep 2019, 13:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print