Selasa, 24 September 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Minggu, 08 Sep 2019, 19:00:06 WIB, 1 View Tim Redaksi, Kategori : News
TVRI yang Terus Bergerak Meninggalkan Zona Nyaman - Gudang Berita Viral

Di hadapan segunung tantangan di TVRI, Helmy Yahya turun langsung, termasuk menentukan penyanyi dan judul lagu di acara musik, juga menerapkan reward and punishment. Rating pun mulai bergerak naik.

AGAS P. HARTANTOFARID S. MAULANA, Jakarta, Jawa Pos



SETELAH belasan warsa menunggu, impian Zulkifli Muchtar itu akhirnya terwujud tahun ini. Membahas Manchester United, Liverpool, Arsenal, atau Chelsea. Di layar TVRI tiap akhir pekan.

“Dulu kesempatan itu tak pernah datang, entah karena anggaran atau spirit dari direksi. Sekarang mimpi itu jadi nyata,” kata Zulkifli yang sudah 21 tahun bekerja di TVRI, 17 tahun di antaranya sebagai sportcaster.

Tayangan langsung Premier League Inggris tersebut hanyalah bagian dari perubahan besar yang terjadi di TVRI sejak Helmy Yahya resmi menjadi direktur utama pada 24 November 2017. Sedari awal bertugas, Helmy sudah mendeklarasikan slogan #WeFightBack.

Bekerja keras agar saluran televisi pertama di Indonesia itu kembali ditonton banyak masyarakat. Menanggalkan kesan yang kuat tertancap di benak publik bahwa TVRI itu televisi jadul. Mulai logo, pola kerja, sampai tentu saja yang paling mencolok di mata publik: program tayangan. Di olahraga saja, sebelum Premier League, TVRI juga menayangkan Coppa Italia (sepak bola), Proliga (bola voli), dan BWF Tour (bulu tangkis).

Rizal Pahlevi, seorang pegawai TVRI desk olahraga, merasakan benar perubahan pola kerja di kantornya. Dulu yang kerap menganggur, sekarang semakin banyak kegiatan dan program. “Pak Helmy pernah bilang, yang nggak bisa diajak lari, tinggal,” ungkapnya.

Tentu saja tantangan yang dihadapi Helmy tidak ringan. Kesan jadul hanyalah satu di antara segunung tantangan yang harus dia hadapi. Problem besar lainnya, administrasi keuangan. Parah. Catatan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan predikat disclaimer atau tidak menyatakan pendapat. Belum lagi soal rating TVRI di dunia pertelevisian tanah air. Survei Nielsen menunjukkan bahwa lembaga penyiaran publik (LPP) itu selalu menempati posisi juru kunci dari 15 stasiun televisi. Dengan share rating 0,9.

“Itu kami alami sejak awal dekade sampai 2017. Tapi alhamdulillah, sekarang kami mendapat predikat WTP (dari BPK, Red), wajar tanpa pengecualian,” kata Helmy saat ditemui di ruangannya di Jakarta Senin (12/8) tiga pekan lalu.

Soal posisi rating, beber mantan pembawa acara kuis Siapa Berani itu, TVRI sudah merangkak di posisi sepuluh besar dalam beberapa survei terakhir. “Kadang di nomor 11 atau 10 dengan share rating 2 ke atas,” imbuhnya.

Helmy punya jejak panjang di dunia pertelevisian. Dia dikenal sebagai raja kuis, yang sebagian di antaranya pernah ditayangkan di TVRI. Pria kelahiran Indralaya, Sumatera Selatan, pada 6 Maret 1963 itu juga dikenal multitalenta. Pernah menjadi pembawa acara, baik kuis maupun olahraga, dan piawai pula dalam menulis. Politik juga sempat diterjuni adik kandung Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya tersebut dengan mengikuti dua pemilihan kepala daerah -meski tak berujung manis.

Bagi Helmy, tidak mudah memang mengajak TVRI berlari. Mengingat, anggaran dari pemerintah terbatas. Tahun 2018 hanya Rp 951 miliar. Sangat sedikit. Sebagian besar sudah habis terpangkas untuk gaji pegawai sebanyak 4.800 orang. Belum lagi, harus memodernisasi peralatan dan pemeliharaan kantor.

TVRI sebagai LPP juga wajib menyiarkan acara televisi hingga pelosok negeri di 30 provinsi. Memiliki 360 buah pemancar yang harus dipelihara. Berbeda halnya dengan stasiun televisi swasta.

Mereka hanya memiliki 60 pemancar di kota-kota yang masuk dalam rating Nielsen. Dengan komposisi itu, seharusnya TVRI mendapatkan bujet yang lebih besar. “Tapi ternyata tidak,” kata Helmy.

Ditambah, masalah uang tunjangan kinerja bagi karyawan pegawai negeri sipil (PNS) yang belum turun hingga sekarang. Selain itu, faktor sumber daya manusia. Mayoritas karyawan TVRI sudah masuk kategori senior. Sebanyak 75 persen di antaranya berusia di atas 40 tahun. PNS pula. Merasa tenang di zona nyaman dan sudah lama tidak berkompetisi. Helmy sadar tidak semua orang mau ikut berubah. Karena sudah cukup lama bekerja dengan pola lama.

Harris Pardede, komentator Premier League di TVRI, mengakui bahwa memang sempat ada gesekan dalam proses memajukan TVRI. “Kami ini televisi tertua di Indonesia, punya infrastruktur lebih, tentunya punya tantangan,” ungkapnya.

Tantangan lain Helmy, TVRI dimoratorium tidak boleh menerima PNS selama 15 tahun. Padahal, menurut dia, idealnya harus ada tambahan seribu pegawai baru. Lantas, bagaimana dia mengatasinya? “Ya turun langsung. Saya direct langsung, ajari membuat rundown, (menata) kamera, membuat judul,” bebernya.

Bahkan, lanjut Helmy, untuk acara musik, siapa penyanyi dan apa judul lagu yang dibawakan juga harus sepersetujuan dia. Helmy teringat resep Ignasius Jonan saat membenahi PT KAI. “Leader has to be seen (pemimpin harus terlihat, Red),” kenangnya.

Hari ini masa kepemimpinan Helmy sudah 21 bulan 15 hari. Sentuhan tangan dinginnya membuat semua orang ramai membicarakan TVRI dengan segala gebrakannya. Mengubah logo, membuat program dengan konten yang kekinian, memperbaiki grafis, dan meremajakan program lama dengan konsep milenial.

Direktur Program dan Berita TVRI Apni Jaya Putra menjelaskan, mengubah logo perusahaan bertujuan untuk memutus kesan TVRI sebagai corong pemerintah. Sekaligus menunjukkan visi sebagai lembaga penyiaran kelas dunia. “Dengan rebranding kami ingin mengubah mindset sebuah korporasi. Mencakup reformasi birokrasi dan menjadi lembaga kreatif,” katanya.

Selain berbagai tayangan olahraga, TVRI kini menyajikan beberapa program siaran unggulan. Di antaranya tayangan dokumenter Discovery Channel pada jam tayang utama (prime time).

Dirut LPP TVRI Helmy Yahya (Imam Husein/Jawa Pos)

Selain itu, TVRI memiliki program unggulan dokumenter internal Jelajah Kopi dan Pesona Indonesia. Pesona Indonesia adalah produksi stasiun TVRI daerah masing-masing. Helmy melombakan program tersebut agar daerah termotivasi membuat karya sebagus mungkin.

Namanya penghargaan Gatra Kencana. Penilaian dilakukan dengan key performance indicator (KPI). “Yang menang kami kasih hadiah, diajak ke luar negeri dan anggarannya ditambah. Sedangkan yang kalah dikurangi. Jadi, ada reward and punishment,” terang pria 56 tahun itu.

Tujuannya, untuk mengubah cara bekerja. Untuk membuat TVRI semakin mendunia, ada empat macam kerja sama yang dilakukan bersama Discovery Channel. Yakni penayangan, cross promotion, cross selling, dan distribusi. “Poinnya adalah bagaimana peluang produk TVRI bisa mendunia melalui jalur distribusi Discovery,” ujar Apni.

Salah satu buah kerja sama tersebut adalah film dokumenter karya TVRI berjudul Today’s Silk Road in My Eyes. Film itu terpilih untuk berkompetisi di 2019 Golden Ribbon International Co-production Project wakil Asia-Pasifik. “Tim sudah berangkat ke Xian, Tiongkok, awal Agustus untuk presentasi. Ini bukti bahwa kami berubah,” tegas Helmy.

Harris juga yakin perubahan sekarang bisa membawa TVRI ke masa depan yang lebih baik. “Bahkan bisa mendobrak di masa depan, bersaing dengan YouTube, misalnya, yang mengakibatkan beberapa televisi swasta mau ambruk,” katanya.

Biar Bisa seperti NHK

TAYANGAN Premier League Inggris sudah melanglang di berbagai televisi swasta tanah air. Sebelum akhirnya hinggap di TVRI musim ini.

Tapi, menurut Zulkifli Muchtar, tetap ada yang berbeda dari tayangan Premier League di TVRI. Kalau di televisi swasta sebelumnya lebih banyak iklan daripada materi pertandingan, di TVRI sebaliknya.

“Kami televisi publik. Jadi, iklannya tidak banyak. Kadang iklan 5 menit, 25 menitnya ngomong. Justru esensinya ada di perbincangan sebelum match,” kata presenter olahraga TVRI itu.

Karena itu pula, beban presenter dan komentator jadi semakin berat. Apalagi, Premier League adalah kompetisi sepak bola yang punya banyak penggemar di tanah air.

“Ini high program, monster, semua orang melihat,” katanya. “Kami juga mencoba memperbaiki semuanya, kekurangan SDM (sumber daya manusia, Red) ataupun peralatan,” katanya.

Pengalaman Direktur Utama TVRI Helmy Yahya sebagai mantan sportcaster atau pembawa acara olahraga dia akui sangat membantu. Helmy mengerti betul kekurangan dan kelebihan tiap kali evaluasi.

“Kalau bicara siaran olahraga itu sangat spesifik, apalagi sepak bola, istilahnya, datanya, tidak seperti siaran di berita umum atau budaya. Kami salah pengucapan nama orang bisa jadi viral. Itu yang sangat dijaga direksi sekarang,” tutur Zulkifli yang sudah 21 tahun bekerja di TVRI.

Soal kehadiran Helmy, dia juga mengakui banyak pro dan kontra. Dia sadar bahwa para pegawai TVRI selama ini sudah berada di zona nyaman. Tanpa tantangan karena merasa TVRI tidak akan bisa berkembang. “Tapi, kami yang punya mimpi TVRI bisa seperti televisi publik di negara maju jadi terlecut. Kalau tidak keluar dari zona nyaman, lalu menggaet high program, kapan TVRI bisa jadi televisi publik setara dengan NHK di Jepang atau negara maju lain?” katanya.

Harris Pardede, kolega Zulkifli, juga menilai Helmy bisa mengayomi semua pihak. Artinya, pegawai yang selama ini berada di zona nyaman secara spontan ikut bersemangat memajukan TVRI. “Kami berharap, ke depannya tantangan lain untuk Liga Primer Inggris adalah jumlah tayangan diperbanyak,” ucap dia.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Modifikasi Nyeleneh, Pikap Seolah Berjalan Mundur - Gudang Berita Viral Modifikasi Nyeleneh, Pikap Seolah Berjalan Mundur
Selasa, 24 Sep 2019, 00:00:11 WIB, Dibaca : 2 Kali
Tiga Kali Perombakan dalam Empat Hari, Ada Apa dengan Golkar? - Gudang Berita Viral Tiga Kali Perombakan dalam Empat Hari, Ada Apa dengan Golkar?
Selasa, 24 Sep 2019, 00:00:11 WIB, Dibaca : 0 Kali
OTT BUMN Perindo, KPK Amankan USD 30 Ribu - Gudang Berita Viral OTT BUMN Perindo, KPK Amankan USD 30 Ribu
Selasa, 24 Sep 2019, 00:00:11 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print