Minggu, 25 Agustus 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Selasa, 06 Agu 2019, 19:00:09 WIB, 2 View Tim Redaksi, Kategori : News
Sembilan Tahun Gelora Bung Tomo: Optimistis Tuntas Dua Tahun - Gudang Berita Viral

TEPAT hari ini, 9 tahun lalu, pemkot membuka Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) untuk kali pertama. Stadion berkapasitas 55 ribu orang itu sengaja ditempatkan di area pertambakan di daerah Pakal. Tujuannya banyak. Selain diharapkan menjadi kompleks olahraga seperti Senayan, stadion tersebut bisa menjadi pengungkit ekonomi kawasan itu.



Siapa pun tahu, kompleks olahraga yang menjadi venue bagi banyak event olahraga pasti membawa berkah ekonomi. Tapi, setelah sembilan tahun, GBT belum bisa menjadi seperti yang diharapkan. Seolah GBT hanya menjadi home base Persebaya.

Event olahraga memang sudah dilaksanakan, tetapi masih sangat terbatas. Maklum, fasilitas untuk olahraga lainnya belum sepenuhnya jadi. Apalagi, setelah Persebaya sempat vakum di persepakbolaan nasional menyusul kisruh di tubuh PSSI. Baru setelah Persebaya kembali pada 2017, GBT kembali ”hidup”. Banyak yang berharap kompleks olahraga itu bisa menjadi seperti Senayan dengan Gelora Bung Karno-nya.

Dari penelusuran Jawa Pos, ada sejumlah hal yang menjadi kendala. Pertama, tentu saja fasilitas stadion. Mulai papan skor yang manual, lampu yang sempat mati di laga Persebaya vs PS Tira Persikabo pada 22 Juli lalu, hingga toilet yang sempat dikeluhkan. Lalu, masih ada lagi akses masuk yang belum representatif untuk kompleks olahraga sebesar GBT. Selain itu, fasilitas olahraga lainnya, termasuk fasilitas pendukungnya, belum komplet. Masih jauh panggang dari api untuk menjadi seperti Senayan.

Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana mengatakan, pengembangan GBT sesuai rencana awal sebenarnya bisa tuntas dalam dua tahun. Tidak hanya stadion, tapi juga kompleks olahraga yang mengitarinya. ”Kalau mau dua tahun, itu bisa. Cuma, tahun ini belum dianggarkan untuk pengembangan totalnya,” ujar Whisnu kemarin (5/8).

Dalam APBD 2019, anggaran pengembangan GBT hanya menyangkut pengadaan papan skor dan perbaikan stadion utama. Itu pun masih kurang karena banyak lampu stadion yang mati. Cahaya lampu stadion belum memenuhi standar Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).

Anggaran pengadaan lampu masih terganjal proses birokrasi. Untuk merealisasikannya, diperlukan mekanisme Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) APBD 2019. PAK masih dikebut oleh DPRD Surabaya. Ditargetkan tuntas sebelum masa jabatan DPRD periode 2014–2019 habis pada 24 Agustus. ”Banyak yang mati. Dan harga lampunya itu Rp 40 juta satu biji,” kata mantan wakil ketua DPRD Surabaya itu.

Tahun ini anggaran pemkot juga tersedot untuk penambahan akses menuju stadion. Jalan satu-satunya tersebut sudah dilebarkan. Karena itu, keluhan soal akses bisa diminimalkan. Sejumlah lahan milik pemkot juga sudah diuruk dengan tanah untuk dijadikan tempat parkir.

TAMBAH FASILITAS: Lampu yang sempat mati saat laga Persebaya vs PS Tira pada 22 Juli lalu. (Angger Bondan/Jawa Pos)

Whisnu menerangkan, pengembangan GBT baru bisa dikebut tahun depan. Anggaran pengembangan itu bisa dibahas di DPRD Surabaya September nanti. Jika dewan sepakat adanya percepatan pengembangan GBT, rencana sejak sembilan tahun lalu itu bisa direalisasikan. ”Kalau tahun lalu baru bisa. Tidak hanya stadion utama, tapi juga sarana olahraga di sekelilingnya,” ujar alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu.

Secara terpisah, Ketua Komisi C DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri siap menyetujui berapa pun anggaran yang diajukan pemkot untuk pengembangan GBT. Namun, dia meminta komitmen pemkot saat merealisasikan anggaran tersebut. ”Kami tidak akan mengurangi atau minta tambahan. Kalau sudah komit, eksekusinya harus benar-benar serius,” kata dia.

Menurut dia, waktu sembilan tahun sudah terlalu lama untuk menunggu realisasi pengembangan wilayah barat.

Banyak hal yang harus dikerjakan untuk menjadikan kompleks GBT seperti Senayan.

Bukan Hanya Olahraga, melainkan Juga Kesenian

POTENSI pengembangan kompleks Gelora Bung Tomo (GBT) sangat terbuka lebar. Bukan hanya untuk event olahraga. Melainkan juga kesenian dan tradisi khas Surabaya. GBT bisa jadi venue yang bisa menampung semua kreativitas di kawasan Surabaya Barat.

Pakar industri kreatif Freddy H. Istanto mengungkapkan, sebuah kompleks olahraga seperti GBT memang bisa menjadi pembangkit ekonomi baru. Sebab, GBT dapat menciptakan potensi-potensi ekonomi dari berkumpulnya banyak orang.

’’Kalau di Inggris ini terjadi. Kompleks olahraga dan band bisa jadi bangkitan ekonomi baru. Bisa punya sumbangsih yang besar untuk industri kreatifnya,’’ kata Freddy kemarin. Industri kreatif mulai dari suvenir, restoran, hingga kafe. ’’Kalau zaman dulu yang digunakan, maaf, pelacuran. Tapi, sekarang tentu akan banyak yang menentangnya,’’ tambah mantan dekan Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra itu.

SURABAYA PUNYA: Pemandangan sirkuit balap di Gelora Bung Tomo diambil dengan drone beberapa waktu lalu. Pemkot berencana untuk meningkatkan fasilitas di sirkuit ini. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

Bagaimana dengan GBT yang telah sembilan tahun ini? Menurut Freddy, masih banyak yang perlu dilakukan untuk bisa menjaikan GBT sebagai bangkitan ekonomi yang masif bagi masyarakat sekitar. Tidak hanya saat ada pertandingan sepak bola, tetapi harus berkesinambungan.

Dia mengusulkan agar pemkot membuat acara bertema budaya di GBT. ’’Misalnya, kalau rujak uleg di Kya-Kya. Lontong balap bisa di GBT. Tidak ada salahnya,’’ jelasnya. Menurut dia, konsep GBT seharusnya juga menampung event-event yang bukan hanya olahraga.

Selain itu, kegiatan tersebut harus disertai promosi yang besar. Bahkan, ada event tahunan yang sudah terjadwal dengan sangat rapi pada tahun berikutnya. Dengan begitu, pihak terkait bisa mempromosikannya. ’’Setahun sebelumnya ada promosi besar-besaran semacam kalender event begitu,’’ ungkap Freddy.

Masih Ada Plafon yang Jebol

Harapan masyarakat untuk melihat GBT menjadi kompleks olahraga yang bagus, tampaknya, masih lama terwujud. Setidaknya terlihat dari kondisi sekarang. Masih ditemui sejumlah plafon yang jebol. Yakni, di atap sisi barat lapangan indoor GBT dan masjid kompleks olahraga tersebut.

Penyebabnya diduga adalah angin kencang sekitar tiga bulan lalu. Meski rusaknya sudah lama, hingga kemarin belum ada tanda-tanda perbaikan. Kesannya, bangunan tersebut terbengkalai.

Rusaknya atap lapangan indoor itu sangat mudah diketahui. Tak perlu masuk ke area kompleks GBT. Cukup melintas di Jalan Jawar, jebolnya atap tersebut sudah bisa terlihat jelas. ”Itu sudah lama, sekitar tiga bulan yang lalu,” ucap Siswanto, warga Pakal, yang melihat latihan race di sirkuit GBT kemarin.

Siswanto mengatakan, bagian yang jebol berada di samping. ”Kira-kira tiga bulan lalu, angin sangat kencang. Sebagian atapnya bahkan melayang. Untung, tidak kena orang,” ujar Siswanto.

Pantauan Jawa Pos menunjukkan, kerusakan atap memang tidak mengganggu fungsi lapangan indoor. Lapangan masih bisa digunakan. Namun, jebolnya atap itu membuat pemandangan tidak nyaman. Ibarat sebuah jerawat besar di pipi seorang gadis cantik.

Selain itu, bagian luar terlihat kurang terawat. Cat tembok sudah kusam.

Sementara itu, Kepala Bidang Sarana Prasarana Dispora Edi Santoso mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mengetahui kondisi atap yang jebol tersebut. Dia menyebutkan, penyebabnya adalah angin kencang. ”Segera diperbaiki dalam waktu dekat ini,” janjinya.

Menanti Berkah dari Lapangan

Begitu GBT diresmikan, warga sudah membayangkan perekonomian setempat bakal meroket. Terutama warga Kampung Jawar yang tinggal paling dekat dengan stadion. Namun, mereka belum bisa mendapatkan limpahan berkah ekonomi seperti yang diharapkan.

Imbas ekonomi yang mereka rasakan secara lansung hanya berasal dari jasa membuka tempat parkir. Parkir di dalam stadion tak cukup menampung semua kendaraan suporter. Karena itu, warga setempat memanfaatkan lahan kosong untuk kantong parkir. ”Cuma kadang-kadang kami juga tidak kebagian orang parkir. Saat penjualan tiket di bawah 15 ribu, mbok jangan diparkir dalam semua,” ujar Ketua RW 6 Kampung Jawar Saiful Huda.

Dia berharap perekonomian warga setempat bisa meningkat gara-gara stadion hidup tak hanya saat pertandingan saja. Warga berharap GBT bisa jadi pusat keramaian kota yang baru. Dengan begitu, warga sekitar bisa membuka usaha lewat berjualan makanan atau suvenir.

Namun, kenyataan yang ada jauh dari harapan. Stadion hanya ramai saat ada pertandingan Persebaya. Jika tak ada kegiatan, akses ke stadion juga dibatasi. Sebab, untuk masuk, warga harus melintasi portal yang dijaga petugas 24 jam. Kompleks olahraga pun lebih sering sepi.

UNTUK MASYARAKAT: Foto Gelora Bung Tomo diambil dari udara. Dispora merencanakan penambahan beberapa fasilitas di GBT. Rencana tersebut tinggal menunggu persetujuan bappeko. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

Namun, sebelum membayangkan hal itu, Huda berharap akses juga dibenahi. Dengan begitu, tak ada lagi kemacetan sebelum dan sesudah pertandingan. Warga setempat bahkan sempat melahirkan di rumah gara-gara ambulans tak bisa masuk kampung. Jalan Jawar menjadi satu-satunya akses ke stadion. Beruntung, anak warga tersebut bisa selamat. ”Wis gede areke saiki,” tuturnya.

Di sisi lain, pembangunan stadion berimbas pada meningkatnya nilai jual tanah di sekitar stadion. Tanah pertambakan sudah memiliki nilai jual objek pajak di atas Rp 1 juta. Padahal, dua atau tiga tahun lalu harganya masih Rp 300 ribu–Rp 400 ribu.

Tak semua warga senang dengan kenaikan tersebut. Sebab, tagihan PBB warga jadi melonjak. Huda pun sedikit bercanda saat menyebut tidak ada kenaikan PBB dalam 9 tahun terakhir. Menurut dia, tarif PBB warga tidak bisa lagi dikategorikan naik. ”Kalau naik itu 15 persen lah. Nah, ini ganti harga. Awalnya PBB Rp 100 ribu tahun depannya Rp 300 ribu,” katanya.

Kenaikan tersebut terjadi karena adanya rencana pembangunan JLLB di sisi timur stadion. Meski jalan belum terbangun, harga tanah di sekitar GBT naik drastis.

Karena itulah, pengembangan stadion butuh percepatan agar kenaikan PBB warga berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi di sekitar stadion. ’’Sudah sembilan tahun. Waktunya dibenahi,” pungkasnya.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Cara Tepat Turunkan Berat Badan dengan Meminum Air Putih - Gudang Berita Viral Cara Tepat Turunkan Berat Badan dengan Meminum Air Putih
Minggu, 25 Agu 2019, 14:00:05 WIB, Dibaca : 0 Kali
‘Soon You’ll Get Better’, Kesedihan Taylor Swift Soal Penyakit Ibunya - Gudang Berita Viral ‘Soon You’ll Get Better’, Kesedihan Taylor Swift Soal Penyakit Ibunya
Minggu, 25 Agu 2019, 14:00:05 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Apa yang Biasa Tampak dari Mukminah Zaman Rasul?  - Gudang Berita Viral Apa yang Biasa Tampak dari Mukminah Zaman Rasul?
Minggu, 25 Agu 2019, 14:00:04 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print