Minggu, 20 Oktober 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Senin, 30 Sep 2019, 16:00:08 WIB, 9 View Tim Redaksi, Kategori : News
Risma Bicara Kriteria Penerusnya: Banyak Mendengar, Sedikit Ngomong - Gudang Berita Viral

gudangberitaviral.com – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bicara mengenai kriteria penerusnya di Korea Selatan. Risma yang sudah menjadi wali kota hampir sembilan tahun mengungkapkan bahwa pemimpin harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Lebih banyak bekerja. Satu lagi, tak boleh berambisi jadi pemimpin.

Kisi-kisi pemimpin versi Risma secara simultan itu muncul dalam dialog antara Risma dan warga Indonesia di Busan, Korea Selatan, kemarin siang (29/9). Pertemuan di lantai 2 Busan Indonesia Center itu diikuti sekitar 60 warga. Mayoritas anak muda yang sedang kuliah. Juga ada keluarga muda asal Indonesia.



Pertemuan santai itu diawali dengan sambutan dari Kim Soo-il yang menjadi Sekjen Tourism Promotion Organization for Asia Pacific.

Dia juga dikenal sebagai tokoh Korea Selatan yang cinta Indonesia. Awalnya, Risma memaparkan berbagai capaian dan kondisi Surabaya terkini. Mulai pahlawan ekonomi, perbaikan lingkungan di perkampungan, jumlah lapangan yang kini lebih banyak daripada taman, hingga rencana penerapan sistem kamera face recognition. Paparan itu memukau para peserta yang beberapa kali bertepuk tangan. Mereka juga tersenyum dan tertawa saat Risma menceritakan pengalaman lucu yang pernah dia alami.

Setelah paparan hampir sejam itu, Risma memberikan kesempatan kepada para peserta untuk bertanya. Nah, dalam sesi tersebut, ada yang menanyakan sosok wali kota setelah Risma. ”Bagaimana Bu Risma memastikan wali kota yang memimpin Surabaya kelak bisa sebagus Bu Risma?” ujar Junaidi Al Fais. Pria yang sudah delapan tahun tinggal di Busan itu datang bersama istri dan dua anaknya yang masih balita.

Ada juga Dimas Haris, mahasiswa S-3 Pusan National University, yang menanyakan cara Risma menentukan prioritas dalam membuat kebijakan publik. Dia ingin menimba pengalaman Risma saat memimpin Surabaya. ”Mana program yang harus didahulukan untuk warga?” tanya Dimas.

Risma menceritakan bahwa menjadi wali kota atau pemimpin itu tak boleh meminta. Dengan meminta menjadi pemimpin, itu sama dengan punya ambisi untuk duduk di kursi pimpinan. Padahal, bisa jadi Tuhan memberikan cobaan untuk pemimpin yang punya ambisi tersebut. ”Cobaan itu juga berdampak langsung kepada rakyat. Kasihan kalau rakyat juga ikut menerima cobaan,” jelas Risma.

Saat ada kejadian bom di Surabaya, Risma sampai bertanya kepada diri sendiri apa yang telah diperbuat hingga ada cobaan yang begitu berat. ”Jadi wali kota itu berat. Berat. Berat sekali,” ujar Risma yang duduk di atas kursi roda.

Karena itu, Risma berupaya agar tidak ada warga yang menderita. Bila ada laporan anak tak sekolah, langsung ditangani. Bila ada orang miskin, langsung diberikan bantuan. Bahkan, termasuk membebaskan orang tak punya dari utang.

Menurut Risma, pemimpin juga harus lebih banyak mendengar daripada ngomong. Tujuannya, tahu kebutuhan prioritas bagi masyarakat. Suatu ketika Risma bertemu dengan ibu-ibu yang curhat bahwa mereka tak bisa kaya karena rumahnya kebanjiran tiap tahun. Barang-barangnya kerap rusak diterjang banjir. Saat dijual, rumah mereka tak kunjung laku. Karena itu, Risma berupaya keras mengatasi banjir dari akar persoalannya hingga terselesaikan. ”Justru kita harus banyak mendengar apa keluhan mereka. Itu yang saya lakukan,” ungkap Risma.

Selain mendengar, pemimpin perlu banyak inisiatif dan berupaya keras untuk mewujudkannya. Risma mencontohkan penutupan lokalisasi Dolly pada 2014. Banyak sekali rintangan yang harus dia hadapi. Mulai ancaman pembunuhan hingga intimidasi lainnya. Namun, dia berkeyakinan Dolly harus ditutup untuk masa depan anak-anak di lingkungan tersebut.

Soal bagaimana dan siapa wali kota Surabaya selanjutnya, Risma menyebutkan mudah saja bila dirinya yang menunjuk langsung. Tapi, kenyataannya tidak demikian. Ada peran serta warga kota dalam pemilihan tersebut. ”Saya sudah siapkan. Masyarakat sudah saya siapkan semua. Kalau ada yang jelek, ya dia (masyarakat) yang komplain,” ungkap dia.

Lagi pula, tipikal masing-masing orang tentu berbeda. Dia tidak ingin memaksakan orang atau penerusnya nanti sama dengan dirinya. ”Aku kondisi kesakitan itu lho masih memikirkan warga. Kan itu ndak bisa aku samakan setiap orang seperti aku,” tegas Risma yang pernah sepekan dirawat di RSUD dr Soetomo, termasuk di ruang ICU.

Begitu pula, dia tidak bisa memaksakan kepala daerah lain harus seperti dirinya. Pernah dia diminta KPK untuk menjadi pemateri suatu pertemuan yang melibatkan kepala daerah. Namun, yang dia temui ternyata malah banyak alasan untuk tak bisa melangkah maju. ”Saya tanya aja, ’Nanti suatu saat kalau bapak meninggal dunia, bapak mau dikenang jadi sosok yang seperti apa?’,” ungkap Risma.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Rapor Merah Karhutla, Jokowi Diminta Buat KPK versi Lingkungan Hidup - Gudang Berita Viral Rapor Merah Karhutla, Jokowi Diminta Buat KPK versi Lingkungan Hidup
Minggu, 20 Okt 2019, 19:00:10 WIB, Dibaca : 0 Kali
Periode Kedua Jokowi, Tetap Fokus di Infrastruktur - Gudang Berita Viral Periode Kedua Jokowi, Tetap Fokus di Infrastruktur
Minggu, 20 Okt 2019, 19:00:10 WIB, Dibaca : 0 Kali
Polisi Amankan ODGJ yang Mengaku Jadi Presiden - Gudang Berita Viral Polisi Amankan ODGJ yang Mengaku Jadi Presiden
Minggu, 20 Okt 2019, 19:00:10 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print