Kamis, 22 Agustus 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Senin, 05 Agu 2019, 20:00:07 WIB, 1 View Tim Redaksi, Kategori : News
Rektor Asing dalam Jebakan Pemikiran Hofstede - Gudang Berita Viral

MENJELANG akhir masa jabatan sebagai menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi (Menristekdikti), Mohammad Nasir bersikeras merealisasikan gagasan penggunaan rektor asing. Tujuannya, meningkatkan daya saing melalui perbaikan ranking dan mutu perguruan tinggi (PT), khususnya kampus negeri (PTN).

Berjejaring luas, rektor asing diasumsikan dalam waktu singkat mampu menyulap PTN memasuki orbit world class university (WCU). Anggapan tersebut merujuk pada fakta bahwa sejumlah PT di Singapura, Malaysia, dan negara lain yang lebih dahulu mempekerjakan ekspatriat sebagai pimpinan sukses membawa PT dalam pusaran elite dunia.



Manuver Menristekdikti itu memicu reaksi keras sebagian besar kalangan meski ada yang berusaha memberikan pembenaran untuk mengganti pola kepemimpinan PTN. Beberapa guru besar melontarkan pendapat sinis bahwa hingga kini bangsa Indonesia masih bermental inlander, tak percaya kemampuan sendiri, termasuk dalam memilih rektor. Sementara itu, ada yang bersikap wait and see terhadap hasil kerja rektor asing bagi kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia disertai kekhawatiran kegagalan rektor asing.

Reaksi keras tersebut terlalu lemah untuk mampu mengubah rencana. Menristekdikti bahkan berancang-ancang mengubah peraturan pemerintah tentang statuta setiap PT yang melarang warga negara asing (WNA) menjadi rektor. Target pun sudah dicanangkan, mulai 2020 sudah ada rektor asing. Dalam nada penuh semangat, Menristekdikti segera melakukan global bidding untuk menemukan figur internasional paling fit and proper.

Sebenarnya, gagasan penggunaan tenaga asing bukan perkara asing dalam arus globalisasi. Perusahaan multinasional yang beroperasi di seluruh dunia tidak tabu menggunakan tenaga profesional dari wilayah atau negara berbeda. Untuk meningkatkan kinerja perusahaan, banyak perusahaan asing di Indonesia dan bahkan perusahaan nasional yang memanfaatkan tenaga asing kompeten sebagai manajer atau pimpinan puncak.

Dalam konteks demikian itulah program rektor asing yang dicanangkan Menristekdikti bisa dipahami sama halnya dengan strategi perusahaan multinasional yang menugaskan ekspatriat sebagai manajer di Indonesia. Di samping keberhasilan rektor asing di negara lain, keberhasilan para profesional mancanegara dalam memimpin perusahaan patut diduga menjadi dasar Menristekdikti membuka pintu bagi orang asing untuk menduduki kursi rektor.

Namun, terlalu absurd jika kebijakan penempatan pimpinan PT disamakan dengan penempatan manajer perusahaan. Sebuah perguruan tinggi memiliki misi, visi, dan nilai (core-values) yang sangat berbeda dengan perusahaan.

Beban tugas di pundak PTN, terutama PTN berbadan hukum (PTN-BH) yang menjadi target penempatan rektor asing, saat ini sangat berat. Di samping mengemban amanat tridarma –yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat berstandar internasional, mereka dituntut melaksanakan kebijakan afirmatif membantu masyarakat kurang beruntung dalam mengakses pendidikan tinggi. Di sisi lain, mereka harus memeras keringat mengembangkan unit kerja sebagai income generated untuk mengatasi beban biaya operasional yang tidak ditanggung pemerintah.

Dalam kondisi yang sangat berat, rektor nonasing ternyata mampu mengemban amanah dan membuktikan kinerja yang menggembirakan. Berbagai prestasi level internasional dapat dicapai yang terlihat dari meningkatnya jumlah publikasi internasional dan masuknya beberapa PTN dalam peringkat world university ranking (WUR).

Dibutuhkan waktu yang sebetulnya tidak lama lagi untuk menempatkan semua PT, baik PTN maupun PTS, dalam posisi terhormat di dunia internasional. Hanya, Menristekdikti tampak belum terlalu sabar sehingga menempuh jalan short-cut untuk segera mewujudkan target peringkat dunia.

Segala bentuk ketergesa-gesaan dan orientasi jangka pendek dalam beberapa kebijakan, khususnya di bidang pendidikan, tidak terlepas dari kebiasaan atau budaya bangsa Indonesia. Kebijakan yang semestinya dirumuskan dengan penuh kehati-hatian (prudence) tersubordinasi nafsu serta kepentingan jangka pendek.

Secara kultural, banyak pejabat di Indonesia yang terjebak dalam bingkai pemikiran lintas budaya (cross-cultural) dari Geert Hofstede, psikolog Belanda yang mengembangkan six dimensions of culture. Pemikiran Hofstede sangat penting dalam menjelaskan diversifikasi budaya pada era global.

Dari enam dimensi budaya menurut Hofstede, cukup satu dimensi untuk memaknai semangat Menristekdikti menggunakan tenaga asing sebagai rektor. Dimensi tersebut adalah power distance, yakni tingkat kepercayaan atau penerimaan dari suatu kekuatan (power) yang tidak seimbang antara satu pihak dan lainnya. Semakin tinggi power distance suatu masyarakat, semakin tinggi kepercayaan terhadap pihak lain.

Budaya dan mentalitas bangsa Indonesia berada dalam power distance yang sangat tinggi. Hingga saat ini, kita masih inlander. Merasa pihak lain lebih superior bukan saja karena status sosial, ekonomi, pendidikan, prestasi, atau faktor lain sehingga kehebatan diri sendiri tenggelam dalam bayang-bayang ’’kehebatan’’ pihak lain. Bangsa kita belum mampu mencapai titik rendah power distance sehingga lebih menghargai prestasi sendiri daripada pihak lain.

Jebakan pemikiran power distance dari Hosftede itulah yang secara sederhana dapat menjawab mengapa rektor harus ekspatriat. Atau, siapa tahu rektor asing berguna untuk meningkatkan ranking? (*)

*) Guru besar administrasi negara FISIP Universitas Airlangga




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Tahapan Pilkada Serentak 2020 Dimulai September 2019 - Gudang Berita Viral Tahapan Pilkada Serentak 2020 Dimulai September 2019
Kamis, 22 Agu 2019, 10:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Wanita tak Sulit Meraih Surga Jika Empat Hal Ini  - Gudang Berita Viral Wanita tak Sulit Meraih Surga Jika Empat Hal Ini
Kamis, 22 Agu 2019, 10:00:05 WIB, Dibaca : 0 Kali
 KSP Dukung Pembangunan PLTA Sungai Kayan Kaltara  - Gudang Berita Viral KSP Dukung Pembangunan PLTA Sungai Kayan Kaltara
Kamis, 22 Agu 2019, 10:00:04 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print