Selasa, 15 Oktober 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Kamis, 26 Sep 2019, 10:00:07 WIB, 12 View Tim Redaksi, Kategori : News
Perlawanan Mahasiswa Terus Berlanjut - Gudang Berita Viral

gudangberitaviral.com – Aksi represif aparat kepolisian tidak menyurutkan semangat para mahasiswa. Mereka justru makin bersemangat menyatakan penolakan pada revisi UU KPK, KUHP, dan RUU kontroversial lain.

Kemarin (25/9) giliran ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Surabaya yang turun ke jalan. Aksi serupa berlangsung di kota-kota lain di Jawa Timur (Jatim) seperti Banyuwangi, Ponorogo, Pacitan, dan Kediri.



Sasaran aksi di Surabaya adalah gedung DPRD Jatim. Secara umum, aksi berlangsung tertib. Massa sempat memaksa masuk ke dalam gedung DPRD. Mereka berusaha menerobos garis pembatas yang dipasang Polrestabes Surabaya sejak pagi.

Wakapolrestabes Surabaya AKBP Leonardus Simarmata meminta mahasiswa tenang. ”Silakan menyampaikan aspirasi secara tertib,” katanya.

Untung, tidak ada keributan. Niat mahasiswa untuk masuk batal dilaksanakan. Sebab, Ketua DPRD Jatim Kusnadi keluar gedung dan menemui mereka. Kusnadi mendekat ke mimbar orasi. Kedatangannya sempat ditolak mahasiswa. Namun, selang 15 menit, politikus PDIP itu dipersilakan naik ke mimbar orasi. Dia menyatakan siap menampung semua aspirasi mahasiswa tersebut. Utamanya menolak revisi UU KPK. ”Akan kami teruskan ke DPR RI,” tegasnya.

Sejumlah pelajar terlibat bentrok dengan pasukan Brimob di Jalan Tentara Pelajar, Palmerah, Jakarta, Rabu (25/9/2019). Ratusan siswa yang menggelar aksi di Gedung DPR memakai atribut sekolah berseragam putih abu, pramuka, dan kaos bebas. (Dery Ridwansah/ gudangberitaviral.com)

Pernyataan itu belum memuaskan mahasiswa. Mereka meminta DPRD Jatim membuat pernyataan tertulis menolak revisi UU KPK. Permintaan tersebut tidak diiyakan Kusnadi. ”Itu bukan ranah kebijakan kami,” ujarnya.

Sesaat setelah mengucapkan pernyataan tersebut, Kusnadi melepas kemeja batiknya. Dia menyisakan kaus dalam putih dan celana. Selanjutnya dia berteriak, ”Saya di sini bukan atas nama DPRD Jatim maupun partai. Saya atas nama pribadi, menolak revisi Undang-Undang KPK.”

Sikap spontan itu memancing respons peserta aksi. Banyak yang berteriak memberikan apresiasi atas keberanian Kusnadi. Beberapa anggota DPRD Jatim yang mendampingi Kusnadi terkejut. Mereka tidak menyangka lelaki yang juga ketua DPD PDIP Jatim tersebut mengambil langkah itu.

Hari ini aksi masih berlanjut. Massa yang turun ke jalan diperkirakan lebih banyak. Sebab, peserta aksi bukan hanya mahasiswa. Ada elemen masyarakat yang akan ikut turun menyampaikan aspirasi.

Sementara itu, demonstrasi di sekitar gedung DPR terus berlanjut. Setelah mahasiswa, kemarin (25/9) giliran para pelajar SMK yang melakukan aksi. Bedanya, tidak ada penyampaian orasi. Tanpa ba-bi-bu, mereka langsung menyerang aparat kepolisian dengan batu dan kayu.

Para pelajar datang dari berbagai arah. Pantauan Jawa Pos, banyak yang keluar dari Stasiun Palmerah. Mereka langsung berkumpul di sekitar pintu rel kereta api listrik (KRL) Palmerah. Mereka berjejer di pinggir rel. Ada juga yang naik ke pagar rel.

Sekitar pukul 14.00, mereka mulai melempari aparat kepolisian yang berada di Jalan Tentara Pelajar. Aparat membalasnya dengan tembakan gas air mata. Para siswa itu kocar-kacir dan berlari ke arah Jalan Palmerah. Sebagian menuju ke arah stasiun. Namun, hanya beberapa saat, mereka kembali menyerang polisi dengan lemparan batu yang semakin deras. Pelajar yang datang semakin banyak.

Personel Brimob yang sebelumnya menutup Jalan Tentara Pelajar dengan tameng akhirnya mundur ke arah Jalan Gelora. Para demonstran pun semakin bersemangat menyerang aparat. Saat itu kereta masih bisa melintas, begitu juga kendaraan umum. Namun, semakin sore, makin sedikit yang melintas. KRL pun berhenti.

Pukul 15.30, para pelajar tidak hanya menyerang aparat yang berjejer di Jalan Gelora. Para peserta aksi juga melempari polisi di dalam pagar kompleks parlemen, Senayan, yang sebelumnya berkumpul di dekat pos polisi yang sudah hangus terbakar pada aksi Selasa (24/9).

Sejumlah pelajar terlibat bentrok dengan pasukan Brimob di Jalan Tentara Pelajar, Palmerah, Jakarta, Rabu (25/9/2019). Ratusan siswa yang menggelar aksi di Gedung DPR memakai atribut sekolah berseragam putih abu, pramuka, dan kaos bebas. (Dery Ridwansah/gudangberitaviral.com)

Sekitar pukul 17.30, ada seorang pegawai perempuan DPR yang mendekat ke polisi dan memegang pengeras suara. Suciati, nama pegawai itu, dengan menahan tangis meminta anaknya yang ikut demo agar segera pulang. ”Tolong pulang, tolong Nak pulang. Hentikan! Jangan lempar, jangan bakar,” ucapnya. ”Yang dengar suara saya adalah anak saleh. Saya tahu kamu anak saleh, tolong hentikan!” katanya dengan sesenggukan.

Sementara itu, aksi represif aparat kepolisian dalam aksi demo Selasa lalu mengundang protes para aktivis. Mereka menuding polisi bersikap berlebihan terhadap mahasiswa.

Tindakan represif tersebut dikritisi Amnesty International Indonesia. Mereka mencatat bahwa langkah-langkah yang diambil petugas selama aksi massa 24 September lalu itu menyalahi SOP internal. ”Ada banyak keanehan yang kami temukan di lapangan. Langkah represif dan penggunaan kekuatan berlebihan tidak sejalan dengan aturan internal Peraturan Kapolri 8/2019,” jelas Campaign Manager Amnesty International Indonesia Puri Kencana Putri kemarin (25/9).

Puri lantas membandingkan tindakan aparat dengan upaya pengamanan kerusuhan pada aksi 22 Mei lalu. Saat itu kepolisian membuka ruang dialog dengan massa di tengah aksi. Namun, langkah tersebut tidak dilakukan dalam aksi mahasiswa Selasa lalu.

Penggunaan meriam air (water cannon) dan gas air mata, menurut Puri, menyalahi aturan. Dalam penanganan aksi massa, aparat kepolisian membagi status ke dalam tiga jenis. Status hijau ketika aksi tertib, status kuning saat harus ada kebutuhan negosiasi dengan massa, dan status merah ketika mulai terjadi kerusuhan. ”Tetapi, kemarin dari hijau statusnya langsung merah sehingga terjadi (penggunaan, Red) water cannon dan gas air mata,” paparnya.

Di sisi lain, menindaklanjuti kekerasan yang dialami mahasiswa, sejumlah lembaga bergabung membuka posko pengaduan. Antara lain YLBHI, LBH Jakarta, LBH Pers, ICJR, Kontras, Lokataru, dan PP Muhammadiyah. Direktur LBH Jakarta Arif Maulana menjelaskan, posko itu diperuntukkan bagi mereka yang merasa anggota keluarga, teman, atau kenalannya masih dirawat atau belum kembali seusai aksi demonstrasi.

Dari data yang dihimpun LBH Jakarta, ada sekitar 50 laporan yang masuk dari massa aksi yang mayoritas mahasiswa sejak Selasa malam hingga Rabu siang kemarin. ”Ada yang mengatakan bahwa temannya belum kembali. Mereka juga khawatir ada sweeping di sekitar tempat aksi,” jelas Arif kemarin.

Mahasiswa memang sudah tidak turun kemarin. Mereka kini tengah berupaya mengumpulkan teman-teman yang belum kembali ke kelompok masing-masing. Meskipun aksi sempat berlangsung hingga malam, perwakilan mahasiswa membantah anggapan bahwa penyebab kerusuhan pada malam hari tersebut merupakan bagian dari mereka.

”Di sini teman-teman mahasiswa benar-benar steril dari oknum-oknum yang merusak dan membakar beberapa fasilitas publik. Oknum tersebut tidak terlibat dalam tuntutan kami,” tegas Presiden BEM UI Manik Margana Mahendra di kantor LBH Jakarta kemarin. Dia juga berterima kasih kepada warga yang sudah memberikan dukungan berupa makanan maupun akses evakuasi selama aksi.

Manik menyatakan, aksi mahasiswa kemarin bukan tiba-tiba datang dan memprotes anggota dewan. Sebab, sebelumnya telah dilakukan diskusi di berbagai lingkungan akademis untuk menyusun kajian permasalahan UU yang sedang dibahas.

Siswa Surabaya Diliburkan

Surat imbauan untuk meliburkan siswa TK, SD, hingga SMP itu tiba-tiba beredar di Surabaya semalam. Dalam surat yang ditandatangani Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Ikhsan tersebut, disebutkan alasan libur. Yakni, ada unjuk rasa hari ini (26/9).

Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya M. Fikser menuturkan, surat imbauan untuk meliburkan siswa itu didasarkan pada hasil evaluasi terakhir yang melibatkan banyak pihak. Memang mereka tidak sampai menyimpulkan pada aksi yang akan berujung ricuh. Demonstrasi kemarin pun berjalan tertib. ”Tapi, kan tidak tahu besok (hari ini, Red). Karena kami juga mendapatkan berbagai masukan,” ungkap Fikser yang dihubungi tadi malam.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Alasan Anggaran Pembangunan Flyover di Jakarta Membengkak - Gudang Berita Viral Alasan Anggaran Pembangunan Flyover di Jakarta Membengkak
Selasa, 15 Okt 2019, 13:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
Infrastruktur Penghubung jadi Prioritas Lima Tahun ke Depan - Gudang Berita Viral Infrastruktur Penghubung jadi Prioritas Lima Tahun ke Depan
Selasa, 15 Okt 2019, 13:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
Realme XT dengan 64MP Quad Camera Melenggang di Indonesia 23 Oktober - Gudang Berita Viral Realme XT dengan 64MP Quad Camera Melenggang di Indonesia 23 Oktober
Selasa, 15 Okt 2019, 13:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print