Rabu, 16 Oktober 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Minggu, 29 Sep 2019, 20:00:11 WIB, 7 View Tim Redaksi, Kategori : News
Penjual Kisah-Kisah Sedih - Gudang Berita Viral

KESEDIHAN ada karena ada kebahagiaan, katamu. Coba kalau saja tak ada kebahagiaan, maka kesedihan pun tak akan ada. Semua rasa akan sama. Namun, kau sendiri tak juga mampu melarang seseorang merasa bahagia hanya untuk melenyapkan kisah sedih dalam hidupmu.

Aku tersenyum setiap kali melihatmu datang berkunjung ke rumahku. Bukan karena aku senang membeli dagangan yang coba kau jual kepadaku, melainkan karena kisah-kisah sedih yang begitu banyak kau ceritakan kepadaku. Barangkali aku telanjur merasa larut melihatmu menceritakan kisah sedih hidupmu yang tak kunjung usai. Dalam hal ini, beberapa kali aku sempat khawatir jika kau akan mengetahuinya –mengetahui bahwa sebenarnya bukan daganganmu yang kubeli, melainkan kisah-kisah sedih hidupmu.



Setiap kali mendengar kau berteriak dari depan halaman rumahku –meneriakkan namaku–, maka aku segera berlari menghambur keluar rumah demi menemuimu. Bagaimana harus kujelaskan kepadamu bahwa kisah sedih hidupmu telah menjadi hal yang selalu kutunggu. Sekali kau menceritakan kisah sedihmu, kepalaku akan segera dipenuhi ribuan bayangan kisah sedihmu yang saling merekat dan membuatku kehilangan rasa sedihku sendiri karena telah terganti dengan kisah sedihmu.

Bagiku, sebagai penjual, kau bukanlah penjual yang baik karena selain barang daganganmu yang tak sesuai dengan apa yang kuinginkan, kau selalu menjual dengan harga selangit. Jauh lebih mahal dari harga pasaran yang ada pada umumnya. Namun, sebagai pencerita, kau sangat kutunggu-tunggu karena kau bisa melenyapkan kebosanan dan kesedihanku karena menggantinya dengan kisah sedihmu. Dalam hal ini, aku bahkan rela kehilangan uang untuk membeli daganganmu yang tak seberapa berharga karena kuanggap saja aku membeli kisah sedih yang kau jajakan.

Banyak kisah sedih yang telah kau jual dan kubeli darimu. Namun, satu kisah darimu yang selalu kuingat ialah kisah sedih hidupmu yang selalu kehilangan harapan. Dari kisah sedih yang kau ceritakan, tahulah aku bahwa kau selalu kehilangan anakmu sesaat setelah kau melahirkannya. Telah setidaknya empat kali kau mengalaminya. Hal itu membuatmu sedih tak berkesudahan. Aku turut sedih mendengar itu semua, dan aku rela membayarmu demi kisah sedih itu –meski sebenarnya saat itu yang kau jual kepadaku hanyalah singkong dan ubi jalar yang tak seberapa kuinginkan dan kubutuhkan.

Namun, anehnya, ada kisah darimu yang kau anggap berhubungan dengan kisah sedihmu yang selalu kehilangan anak sampai keempat kalinya itu. Kau mengatakan bahwa bapakmu sengaja menukar nyawa cucunya dengan nyawanya sendiri sehingga ia tak lekas mati atau lebih tepatnya tak kunjung bisa mati. Dalam kisah ini, kau bahkan sama sekali tak menyinggung takdir Tuhan yang mampu mengatur apa yang belum terjadi, sudah terjadi, dan akan terjadi dalam kehidupan.

Dengan cara pandangmu, kau menceritakan kisah bapakmu yang juga telah empat kali mengalami mati suri. Kau tak akan mampu melupakan kisah itu, ketika bapakmu yang telah dinyatakan tiada tapi setelah siap hendak dimakamkan terbangun secara tiba-tiba dan mengejutkan para pelayat. Tentu saja pelayat lari kocar-kacir melihat bapakmu bangkit lagi. Kejadian itu selalu membuatmu bingung. Dan akhirnya kau buat kesimpulan sendiri bahwa bapakmu yang sebenarnya telah dijadwalkan tiada itu memiliki kemampuan menukar nyawanya sendiri dengan nyawa cucunya –yakni calon anakmu– yang selalu gagal diselamatkan setelah beberapa jam kau lahirkan.

Dari sekian kisah sedih yang kau ceritakan, ada satu kisah sedih yang juga kau alami dan membuatku khawatir akan keselamatanmu. Kau memiliki suami yang berperangai kasar. Pada malam-malam tertentu ketika suamimu telah dikuasai perangainya yang kasar, ia tak segan-segan mengejarmu dan memaki-makimu karena tak mampu menyelamatkan buah hati kalian yang hanya berumur beberapa jam. Belum lagi kau bisa menyangkal semua tuduhan itu, kau bahkan telah dianggap sebagai ibu yang tak mampu merawat anakmu sendiri dengan baik sehingga kau selalu kehilangan anakmu.

Bahkan katamu, kau sangat gemetar ketika melihat suamimu mengacung-acungkan sebilah pisau dapur di hadapanmu di sela-sela makian itu. Kau yakin bahwa jika kau melawan, suamimu tak akan segan untuk menusukkan pisau dapur itu ke jantungmu.

”Kau percaya pada ceritaku?” tanyamu di sela-sela keseruanmu dalam bercerita.

Kau dikenal sebagai orang yang jujur. Maka, kukatakan kepadamu, ”Tentu saja, tentu aku sangat percaya.”

Tak ada satu pun ibu yang ingin menelantarkan anaknya, bukan? Andai suamimu itu benar-benar menusukkan pisau ke jantungmu, apa yang akan terjadi padamu? Aku yakin kau tak pernah merasa tenteram hidup bersama suamimu. Adakah kau merasa lelah dengan hidupmu yang penuh dengan kisah sedih itu?

Seperti waduk yang tak mampu menampung air, kisah sedih yang kau ceritakan kepadaku seakan meluap-luap tak terbendung. Akhirnya, kisah sedihmu meluap kepada ibuku. Aku melihat ibuku menyimak dengan sungguh-sungguh kisah sedihmu yang kuceritakan kepadanya. Mendadak ibuku teringat cerita dari pulau seberang tentang makhluk pengganggu yang mampu membunuh anak yang baru beberapa jam dilahirkan. Orang-orang di pulau seberang sangat berhati-hati jika akan melahirkan anak.

Ilustrasi. (Budiono/Jawa Pos)

Beberapa jam setelah anak dilahirkan, kata ibuku, makhluk itu akan mengisap darah si anak tak bersisa hingga akhirnya anak itu tiada. Agar tidak terjadi hal itu, orang-orang menunggui anak yang baru dilahirkan agar selamat dari gangguan makhluk tersebut. Jangan sampai makhluk itu mengganggu. Jika ia datang, langsung usir makhluk itu, kata ibu.

”Seperti apa rupa makhluk itu, Ibu?”

”Kau akan sulit percaya. Makhluk itu memiliki kepala namun tak berbadan. Di bawah kepala makhluk itu, ada juntaian usus yang panjang.”

Seakan tak mau kalah dalam bercerita, aku sengaja menceritakan juga kisah sedihmu tentang bapakmu yang memiliki kemampuan menukar nyawanya sendiri dengan nyawa cucunya.

”Bagaimana menurut Ibu tentang kisah itu?”

Dengan suara yang mantap ibu mengatakan bahwa menurutnya bapakmu memang orang yang memiliki ”pegangan”.

”Orang yang punya ’pegangan’ tak akan mati sebelum ’pegangan’ itu dilepaskan,” kata ibu dengan raut muka bersungguh-sungguh.

***

Suatu siang kau kembali datang kepadaku, menawarkan dagangan yang berupa beberapa buah sukun sebesar kepala manusia. Namun, dari dalam hati kecilku, aku tak sabar menunggu kisah sedihmu yang bakal kau riwayatkan kepadaku siang itu. Saat itu aku sudah mengetahui bahwa akhirnya kau berbadan dua untuk kelima kalinya. Namun, bukannya rasa bahagia yang ada dalam hatimu, melainkan ketakutan yang berkumpul begitu besarnya dalam hatimu. Layaknya sebuah ritual, ketakutanmu selalu tampak di setiap perilaku dan raut wajahmu.

Calon anakmu yang belum lahir telah membawamu pada labirin ketakutan dan kecemasan. Bersama adanya calon anak dalam rahimmu, kau juga khawatir akan adanya pertukaran nyawa yang akan dilakukan bapakmu kepada calon jabang bayi. Kau menjadi sama sekali tak bersemangat menyambut calon anakmu sendiri. Bayangan bapakmu yang mati kemudian hidup lagi menjadi sesuatu yang menghantui setiap helaan napasmu.

”Untuk apa kau selalu memendam kesedihan yang justru akan menghalangi kebahagiaan yang mungkin akan datang kepadamu?” gumamku, berusaha menghiburmu.

Matamu kulihat menyelidik kepadaku, seakan ingin meyakini gumaman yang baru saja kukatakan. Untuk pertama kalinya aku melihatmu tersenyum, seolah kisah sedihmu telah habis tandas. Layaknya anak kecil yang kehilangan permen, aku justru merasa kehilangan sesuatu –yakni kesedihanmu– yang selalu kutunggu-tunggu. Terbayang kemudian di benakku kalau selanjutnya kau akan melahirkan anak yang sehat dan lucu tanpa gangguan sedikit pun.

***

Seminggu sudah aku menunggu kedatanganmu sekadar untuk membeli kisah sedih yang kau ceritakan kepadaku. Sesekali tebersit dalam benakku, mungkin saja kisah sedihmu memang telah benar-benar purna. Namun, mengapa aku tidak bisa merasa bahagia sama sekali? Aku justru merasa ada yang hampa.

Tak sampai sore hari, seolah-olah mendapatkan sesuatu yang hilang, aku mendengar kabar tentangmu lagi. Namun, rupanya kisah sedihmu ini tak kudengar langsung dari dirimu, melainkan dari orang lain. Inilah kisah sedihmu yang juga menjadi penutup bagi kisah-kisah sedihmu yang telah lalu.

Sore itu aku bergegas ke rumahmu. Tangan kananku tak lupa menggenggam lembaran-lembaran uang yang tersimpan rapi dalam amplop putih bersih. Kurasakan langkah kakiku kian memberat setiap kali melangkah, bahkan ketika telah sampai di muka rumahmu.

Lembaran-lembaran uang dalam amplop kumasukkan ke dalam sebuah baskom yang sengaja ditutup dengan selembar kain taplak yang sengaja disediakan di atas meja muka rumahmu. Kuanggap aku sedang membayar sejumlah uang untuk kisah sedihmu yang terakhir, yakni kisah sedih bahwa kau telah tiada, pergi meninggalkan kisah-kisah itu untukku selama-lamanya. (*)

Kulonprogo, September 2019


Kristin Fourina, Lahir di Yogyakarta pada 13 November. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Cerpen-cerpennya termuat dalam beberapa antologi bersama. Salah satunya Lemon Cake: Calon Suamiku Harus Bisa Membuat Lemon Cake Terenak (2012).




Sumber: jawapos.com

Tag: News



 Honda ADV 150 Jadi Motor Terbaik Tahun 2019  - Gudang Berita Viral Honda ADV 150 Jadi Motor Terbaik Tahun 2019
Rabu, 16 Okt 2019, 04:00:03 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Pelantikan Presiden Bukan Target Teroris  - Gudang Berita Viral Pelantikan Presiden Bukan Target Teroris
Rabu, 16 Okt 2019, 04:00:02 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Bupati Temanggung Perhatikan Nasib Petani Tembakau  - Gudang Berita Viral Bupati Temanggung Perhatikan Nasib Petani Tembakau
Rabu, 16 Okt 2019, 03:00:04 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print