Rabu, 18 September 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Senin, 02 Sep 2019, 19:00:06 WIB, 3 View Tim Redaksi, Kategori : News
Pengelolaan Fiskal dan Ancaman Resesi Global - Gudang Berita Viral

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia tercatat 5,05 persen pada kuartal-II 2019. Hal itu berarti pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia relatif stabil di kisaran 4,9–5,3 persen selama 15 kuartal berturut-turut.

Kondisi makro keuangan Indonesia juga terus membaik untuk kali pertama sejak November 2018 yang ditandai pemulihan aliran modal masuk yang cukup kuat. Derasnya arus modal masuk itu menandakan berakhirnya periode capital outflow yang terjadi sejak pertengahan 2018 di hampir semua emerging market akibat gejolak keuangan global saat itu.



Ada satu hal yang menggembirakan dari dua perkembangan itu. Yaitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif imun terhadap berbagai gejolak ekonomi global. Apalagi, dewasa ini terdapat prediksi akan terjadinya resesi global akibat eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Pertanyaannya kemudian, apakah kekebalan terhadap berbagai gejolak tersebut bakal berlanjut?

Jawaban pertanyaan itu bergantung pada sampai seberapa jauh pemerintah bisa mengoptimalkan belanja fiskalnya, baik secara langsung untuk berbagai pengeluaran publik maupun secara tidak langsung untuk mendongkrak konsumsi rumah tangga.

Ketergantungan pada belanja fiskal itu jelas terlihat pada dua kuartal terakhir 2019. Yakni, pendorong utama tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia telah bergeser dari investasi menjadi belanja publik dan konsumsi rumah tangga.

Dalam hal ini, ada beberapa hal penting yang perlu disoroti dalam pengelolaan fiskal agar tepat sasaran dan berkesinambungan. Pertama, belanja fiskal pemerintah harus tetap berada dalam koridor yang aman dan tidak melampaui batas maksimal defisit anggaran 3 persen dari PDB.

Ekspansi yang berlebihan dan menembus limit yang digariskan undang-undang hanya akan menambah masalah baru berupa pembengkakan utang negara dan overheating-nya perekonomian. Pengalaman dalam dua tahun terakhir pun menunjukkan, dengan ekspansi belanja fiskal yang terukur, stabilitas pertumbuhan bisa terjaga.

Sinyal dan intensi dari pengampu kebijakan keuangan dalam hal ini sudahlah tepat. Defisit APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) ditetapkan 1,84 persen dari PDB pada APBN 2019. Angka itu kemudian diturunkan lagi menjadi 1,52–1,75 persen dari PDB pada APBN 2020.

Kedua, selain defisit anggaran secara keseluruhan, hal yang juga harus diperhatikan adalah keseimbangan primer (total pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang) pada APBN, yang harus diupayakan berada pada zona positif dengan rasio yang semakin kecil terhadap PDB.

Keseimbangan primer yang positif terhadap PDB menunjukkan penerimaan negara yang terus bergerak naik dinamis melebihi belanja negara. Hal itu pada gilirannya meningkatkan kepercayaan publik akan kemampuan pengelolaan fiskal negara.

Kepercayaan itu sebelumnya cukup terjaga dengan berhasil ditekannya defisit keseimbangan primer dari rasio -0,61 persen dari PDB pada 2012 menjadi -0,08 persen dari PDB pada 2018. Rasio keseimbangan primer bahkan diprediksi menjadi positif untuk kali pertama dalam tujuh tahun terakhir pada 2019.

Ketiga, manajemen utang negara harus senantiasa dijaga tetap sehat dan berhati-hati. Sesuai dengan kaidah optimalisasi intertemporal budget constraint, hal itu bisa dilakukan dengan menurunkan jumlah penerbitan utang baru yang dilakukan semata untuk menutup pembayaran bunga utang.

Itu sesungguhnya bukan sesuatu yang sulit bila dua syarat sebelumnya tersebut terpenuhi. Sebab, keseimbangan primer yang positif dengan sendirinya menunjukkan bahwa pendapatan negara telah melebihi belanja yang ada. Dengan demikian, surplus yang ada bisa disisihkan untuk pembayaran bunga utang.

Terakhir, pemerintah perlu meminimalkan penyesuaian anggaran akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Dalam bahasa penganggaran, penyesuaian itu dikenal sebagai stock flow adjustment (SFA). Praktiknya biasanya dilakukan melalui penambahan jumlah utang melebihi target pengadaan utang yang direncanakan dalam APBN.

SFA yang berlebihan akan berdampak pada perekonomian karena meningkatkan rasio utang terhadap PDB secara keseluruhan. Hal itu, misalnya, terlihat pada peningkatan rasio utang negara dari 29,2 persen menjadi 30,5 persen selama periode 2014–2018 yang diakibatkan peningkatan SFA dan realisasi pembayaran bunga utang (5,8 persen) lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi rata-rata (5,12 persen).

Langkah yang bisa diambil untuk meminimalkan SFA, antara lain, mengurangi porsi utang dalam valuta asing yang pada akhir Juni 2019 telah mencapai 40 persen dari total utang pemerintah. Hal itu ditujukan guna menekan realisasi kerugian akibat perubahan nilai mata uang yang konsisten dengan strategi pembiayaan utang yang prudent.

Dalam hal ini, rencana kebijakan lindung nilai (natural hedging) mata uang nondevisa dalam bentuk pertukaran mata uang (currency swap) dengan negara sahabat perlu segera direalisasikan. Hedgingmelalui currency swap itu akan meminimalkan kerugian negara akibat pergerakan nilai mata uang yang tidak menguntungkan, dus mengurangi potensi defisit anggaran.

Langkah kebijakan lain yang memerlukan koordinasi lintas kementerian adalah penyelesaian secepatnya masalah kapasitas perekonomian dan sensitivitas neraca transaksi berjalan pada harga komoditas. Peningkatan kapasitas perekonomian yang terus berjalan melalui pembangunan infrastruktur perlu terus digalakkan dan dipercepat. Begitu juga, kerentanan struktur perdagangan perlu dibenahi dengan pencarian komoditas alternatif andalan bagi peningkatan ekspor. (*)


*) Ekonom, pengajar di Binus International




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Makanan Tinggi Lemak Picu Reaksi Radang Berbeda pada Tiap Orang - Gudang Berita Viral Makanan Tinggi Lemak Picu Reaksi Radang Berbeda pada Tiap Orang
Rabu, 18 Sep 2019, 12:00:07 WIB, Dibaca : 0 Kali
Hanya Tiga Kali Rapat Langsung Sah, Formappi: Mereka Seperti Kesetanan - Gudang Berita Viral Hanya Tiga Kali Rapat Langsung Sah, Formappi: Mereka Seperti Kesetanan
Rabu, 18 Sep 2019, 12:00:07 WIB, Dibaca : 0 Kali
Wakil Ketua KPK Laode Minta Menkumham Yasonna Laoly Jangan Bohong - Gudang Berita Viral Wakil Ketua KPK Laode Minta Menkumham Yasonna Laoly Jangan Bohong
Rabu, 18 Sep 2019, 12:00:07 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print