Rabu, 21 Agustus 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Kamis, 08 Agu 2019, 10:00:07 WIB, 2 View Tim Redaksi, Kategori : News
Penahanan Eks Dirut Garuda Terkait Dugaan Money Laundering - Gudang Berita Viral

gudangberitaviral.com – KPK butuh waktu lebih dari dua tahun untuk mengembangkan pengusutan kasus korupsi yang menjerat eks Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar. Kemarin KPK melanjutkan pengusutan kasus pengadaan pesawat dan mesin pesawat Airbus SAS serta Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia itu.

Seorang mantan pejabat Garuda ditetapkan sebagai tersangka baru, yakni Hadinoto Soedigno. Dia merupakan direktur teknik dan pengelolaan armada Garuda Indonesia periode 2007-2012. Hadinoto disangka menerima suap bersama Emirsyah Satar. Suap tersebut diberikan Beneficial Owner Connaught International Pte Ltd Soetikno Soedarjo. Soetikno diduga sebagai penghubung antara pabrikan pesawat dan perusahaan BUMN itu.



Emirsyah dan Soetikno lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada 19 Januari 2017. Kala itu Emir -sapaan Emirsyah Satar- yang menjabat direktur utama Garuda 2005-2014 diduga menerima suap dari Soetikno sebesar EUR 1,2 juta dan USD 180 ribu (bila keduanya ditotal setara dengan Rp 20 miliar). Suap tersebut tidak hanya berwujud uang, tapi juga barang yang tersebar di Singapura dan Indonesia.

Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif menyebutkan, pihaknya menemukan banyak fakta baru terkait perkara itu. KPK membuat skala penanganan perkara menjadi jauh lebih besar daripada sebelumnya. “Ini (kasus korupsi di Garuda, Red) menjadi lebih besar dari konstruksi awal,” ungkapnya dalam konferensi pers di gedung KPK kemarin (7/8).

Fakta baru tersebut, antara lain, terkait dengan dugaan penerimaan lain untuk Emir dan Hadi, sapaan Hadinoto. Menurut Laode, dua mantan petinggi Garuda itu ditengarai mendapatkan hadiah dari pabrikan lain. Bukan hanya Rolls-Royce, tapi juga penyedia barang lain yang pernah mendapat proyek di Garuda.

Dirut PT. Garuda Indonesia (2005 – 2014) Emirsyah Satar digiring ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan KPK, di Gedung KPK Merah Putih, Jakarta, Rabu (7/8/2019). (FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS)

Terkait program peremajaan pesawat, misalnya, Emir melakukan beberapa kontrak pembelian dengan empat pabrikan pesawat pada rentang 2008-2013. Nilainya miliaran USD. Perinciannya, kontrak pembelian mesin Trent seri 700 dan perawatan mesin (total care program) dengan perusahaan Rolls-Royce. Kemudian pembelian pesawat Airbus A330 dan Airbus A320 dengan perusahaan Airbus SAS. Ada lagi kontrak pembelian pesawat ATR 72-600 dengan perusahaan Avions de Transport Regional (ATR). Lalu pembelian pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan perusahaan Bombardier Aerospace Commercial Aircraft.

Dalam setiap pembelian atau kontrak itu, Soetikno mendapat fee. Sebagian fee itulah yang kemudian diberikan kepada Emir dan Hadi. “Selain itu, SS (Soetikno Soedarjo) diduga menerima komisi dari perusahaan Hongkong bernama Hollingsworth Management Limited International Ltd (HMI) yang menjadi sales representative dari Bombardier,” terang Laode.

Laode memerinci, dari belanja pesawat tersebut, Emir dan Hadi mendapat imbalan berupa uang. Khusus untuk Emir, KPK mendeteksi indikasi penerimaan uang Rp 5,75 miliar yang diduga digunakan untuk membeli rumah di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Penerimaan lain berupa uang USD 680 ribu dan EUR 1,02 juta yang dikirim Soetikno ke rekening perusahaan Emir di Singapura. Sebagian uang itu diduga digunakan untuk melunasi pembelian apartemen di Singapura. “Untuk HDS (Hadi), SS diduga memberikan USD 2,3 juta dan EUR 477 ribu yang dikirim ke rekening HDS di Singapura,” jelasnya.

Selain menetapkan Hadi sebagai tersangka ketiga dalam kasus suap pengadaan pesawat, KPK menjerat Emir dan Soetikno sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang (TPPU). “KPK bekerja sama dengan beberapa institusi penegak hukum di luar negeri. Khususnya dengan CPIB Singapura dan SFO Inggris (untuk mengembangkan perkara TPPU, Red),” imbuh Laode.

Pun, KPK telah melacak aset seluruh uang suap beserta turunannya yang diduga telah diterima dan digunakan Emir dan Hadi. KPK juga menyita rumah Emir di Pondok Indah dan memblokir rekening bank Emir di Singapura.

Kemarin KPK juga menahan dua tersangka, yakni Emirsyah dan Soetikno. Untuk 20 hari pertama, Emir ditahan di Rutan KPK di C1 (gedung lama KPK). Sementara Soetikno ditahan di Rutan Pomdam Jaya Guntur. Saat masuk ke mobil tahanan, keduanya irit berkomentar soal proses hukum yang dilakukan KPK.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Situasi Sudah Kondusif, Titik Vital Papua Barat Masih Dijaga Ketat - Gudang Berita Viral Situasi Sudah Kondusif, Titik Vital Papua Barat Masih Dijaga Ketat
Rabu, 21 Agu 2019, 16:00:07 WIB, Dibaca : 0 Kali
Ujian Tulis Berbasis Komputer Maju, Siswa Bisa Stres - Gudang Berita Viral Ujian Tulis Berbasis Komputer Maju, Siswa Bisa Stres
Rabu, 21 Agu 2019, 16:00:07 WIB, Dibaca : 0 Kali
Tambah Cash Flow, BUMN Bakal Jual Sepuluh Ruas Tol Tahun Ini - Gudang Berita Viral Tambah Cash Flow, BUMN Bakal Jual Sepuluh Ruas Tol Tahun Ini
Rabu, 21 Agu 2019, 16:00:07 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print