Rabu, 16 Oktober 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Selasa, 08 Okt 2019, 20:00:08 WIB, 1 View Tim Redaksi, Kategori : News
Pelaku Pembunuhan Menantu di Gresik Mengarah ke Gangguan Jiwa - Gudang Berita Viral

gudangberitaviral.com – Suwoto untuk sementara harus menjalani penahanan di Mapolres Gresik. Hari ini (8/10) pelaku pembunuhan dengan cara menyabetkan sabit kepada Erna, menantunya, itu bakal menjalani pemeriksaan kejiwaan di RS Bhayangkara Polda Jatim. Maklum, warga dari keluarga kurang mampu di Desa Madumulyorejo, Dukun, tersebut diduga kuat mengalami gangguan jiwa.

Kasatreskrim Polres Gresik T. Andaru Rahutomo menyatakan, penyidik sulit meminta keterangan kepada pelaku penganiayaan kepada Kamsinga, istrinya, dan pembunuhan terhadap menantunya itu. ’’Tersangka tidak bisa diajak komunikasi. Disuruh duduk, malah berdiri,’’ ujarnya di Mapolres Gresik kemarin.



Meski meyakini Suwoto mengalami gangguan kejiwaan, penyidik Pidum Satreskrim Polres Gresik tetap akan membawanya ke psikiater. ’’Untuk diobservasi di RS Bhayangkara Polda Jatim. Saat ini tersangka telah kami amankan,’’ tegas Akpol 2009 tersebut.

Dalam perkara di Desa Madumulyorejo itu, penyidik menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya, sabit, pakaian pelaku, dan pakaian korban.

Sekitar pukul 13.00, Jawa Pos menemui Suwoto di Mapolres Gresik. Kakek satu cucu tersebut sepintas terlihat bugar. Wajahnya semringah dan sering ngguyu-ngguyu. Rambutnya terlihat basah. ’’Mari adus (selesai mandi, Red),’’ cerita Suwoto yang mengenakan baju tahanan oranye itu. Tangan Suwoto tampak terborgol.

Suwoto tidak ingat kejadian pilu di rumahnya Minggu siang (6/10). Dia hanya mengaku telah menyabetkan sabitnya ke leher Erna. ’’Menantu. Saya kalungi dengan arit (sabit) karena sering ngomel-ngomel,’’ katanya, lantas tersenyum.

Bagaimana dengan nasib Kamsinga? Suwoto pun menjawab. ’’Istri ada di rumah. Besok (hari ini, Red) pasti ke sini,’’ ucapnya. Tiba-tiba mulut Suwoto menguap. Dia mengaku mengantuk. Ingin tidur. Padahal, Suwoto baru terbangun dari tidur, lalu mandi pada pukul 12.00. ’’Sik yo ngantuk. Tak turu. Mari ngombe obat tadi,’’ ujarnya sambil ngeloyor ke ruang tahanan.

Suwoto harus mengonsumsi obat-obatan. Sudah bertahun-tahun. Sejak menjalani perawatan di RS Jiwa Menur, Surabaya, sekitar sepuluh tahun lalu. Ada tiga jenis obat yang harus dia minum. Obat tidur, penenang, dan penambah nafsu makan.

Seperti diberitakan, Desa Madumulyorejo, Dukun, Minggu siang (6/10) geger. Penyebabnya, Suwoto mengamuk. Dia menyabet Kamsinga dan Erna dengan menggunakan sabit. Menantunya meninggal, sementara istrinya mengalami luka bacok di punggungnya. Perilaku tidak wajar itu diduga terjadi karena Suwoto mengalami gangguan jiwa. Dia kehabisan obat penenang.

Keluarga Suwoto terbilang kurang mampu. Rumahnya di RT 5, RW 2, Dusun Kwangen, Madumulyorejo, teramat sederhana. Dalam kesehariannya, Suwoto juga ikut buruh tani. Kerja serabutan untuk dapat menghidupi kebutuhan anggota keluarganya. Kini keluarga mereka tengah dirundung ujian. Suwoto ditahan, menantunya meninggal, istrinya menjalani perawatan di RS karena luka bacok. Anak kandungnya, Syaiful Arif, tentu berduka berlipat-lipat. 

Cucu pun Nyaris Jadi Korban

Syaiful Arif tentu tidak habis pikir istrinya meninggal akibat dibacok bapaknya sendiri. Kemarin (7/10) pemuda 35 tahun itu tidak kelihatan. Baik di rumahnya di Desa Madumulyorejo, Dukun, maupun di rumah sakit untuk menunggui Kamsinga, ibunya. Syaiful memilih ke Ngawi. Mengantar istri tercintanya ke pemakaman.

Syaiful-Erna sudah lama menikah. Namun, keduanya belum dikaruniai anak. Karena itu, mereka sepakat mengadopsi anak. Usia anak tersebut belum genap 1 tahun. Belum sempat melihat anak angkatnya itu berbicara lantang, Erna harus pergi selama-lamanya.

Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos, bayi pasutri tersebut sempat menjadi incaran Suwoto saat mengamuk pada Minggu (6/10), selain Erna dan Kamsinga. Namun, Kamsinga dengan sigap menyelamatkan cucu angkatnya itu. Saat itu bayi tersebut berada di dekat ibunya. Lalu, salah seorang tetangga dengan cepat meraih bayi tersebut dari dekapan Kamsinga.

Kabarnya, tetangga yang menggendong bayi itu sempat dikejar Suwoto yang membawa sabit. Namun, dia berhasil menyelamatkan diri. Bocah mungil itu pun selamat. Kini anak angkat pasutri Syaiful-Erna tersebut dirawat tetangga.

DERITA BERTUMPUK: Kamsinga, istri Suwoto, masih menjalani perawatan di RSUD Ibnu Sina karena punggungnya mengalami luka bacok. (Galih Wicaksono/Jawa Pos)

Sementara itu, kemarin Kamsinga masih dirawat di Ruang Dahlia RSUD Ibnu Sina. Punggungnya menderita luka bacok sekitar 6 sentimeter dan lebar 2 sentimeter. Beruntung, bacokan itu tidak terlalu keras. Sebab, lukanya tidak sampai menembus tulang.

Saat ditemui Jawa Pos kemarin, Kamsinga tidak bisa banyak bergerak. Tubuhnya hanya bisa tidur miring. Ke kiri. Ibu 54 tahun itu sudah mengetahui bahwa suaminya ditahan. Namun, Kamsinga belum tahu bahwa menantunya meninggal. ’’Kalau tanya, usahakan tidak menyangkut menantunya karena ibu belum tahu,’’ kata Wawan, rekan kerja Syaiful, saat menunggui Kamsinga.

Kamsinga lantas menceritakan kondisi suaminya. Dia membenarkan bahwa suaminya mengalami gangguan jiwa. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini dia sering ngamuk. Kondisi kejiwaan Suwoto bisa jadi sedang labil.

Kepala IGD RSUD Ibnu Sina dr Muh. Rusdi mengatakan, kondisi Kamsinga kini sudah lebih baik. Dia bisa pulang kapan pun asal Hb-nya normal. ’’Sambil perawatan ini nanti Hb-nya dikembalikan. Tidak lama bisa pulang,’’ paparnya.

Berharap Pemkab Lebih Tanggap

Rumah Suwoto tampak sepi kemarin (7/10). Garis polisi masih mengitari rumah tersebut. Peristiwa itu tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga masyarakat setempat. Malahan, malam hari pasca kejadian, warga susah tidur nyenyak.

Warga berharap, selain hukuman badan, ada aturan dari pemerintah desa. Yakni, pelaku pembunuhan dilarang kembali ke rumahnya. Sebab, belum genap setahun terjadi dua kali pembunuhan. ’’Kalau mereka kembali, kami juga takut. Bukan hanya itu, keluarga pasti juga takut,’’ ucap Romzi, warga sekitar.

Kasus pembunuhan sadis sudah dua kali terjadi sepanjang 2019. Pada Maret lalu, Rozikin membunuh ibunya. Dia juga menebaskan sabit. Sempat ada dugaan dia kurang waras. Namun, berdasar hasil pemeriksaan kejiwaan, Rozikin dinyatakan tidak gila. Pada Agustus lalu, hakim PN Gresik memvonisnya dengan hukuman 14 tahun penjara. Belakangan, kasus serupa terulang. Suwoto juga menebas menantu dan istrinya dengan menggunakan sabit.

Belajar dari dua kasus tersebut, pemerintah desa berharap ada tindakan agar kejadian tidak terulang lagi. Sebab, dikabarkan masih ada dua orang yang diduga mengalami gangguan jiwa di wilayah tersebut.

’’Kami berharap pemkab seperti dinas sosial atau instansi terkait tanggap. Kami mau bertindak sendiri, tapi khawatir salah,’’ kata Sekretaris Desa Madumulyorejo Astutik.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



 Honda ADV 150 Jadi Motor Terbaik Tahun 2019  - Gudang Berita Viral Honda ADV 150 Jadi Motor Terbaik Tahun 2019
Rabu, 16 Okt 2019, 04:00:03 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Pelantikan Presiden Bukan Target Teroris  - Gudang Berita Viral Pelantikan Presiden Bukan Target Teroris
Rabu, 16 Okt 2019, 04:00:02 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Bupati Temanggung Perhatikan Nasib Petani Tembakau  - Gudang Berita Viral Bupati Temanggung Perhatikan Nasib Petani Tembakau
Rabu, 16 Okt 2019, 03:00:04 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print