Kamis, 22 Agustus 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Kamis, 08 Agu 2019, 03:00:04 WIB, 1 View Tim Redaksi, Kategori : Bisnis
 Pasar Global Sepi, Pengusaha Sawit Galau Maksimal  - Gudang Berita Viral

gudangberitaviral.com, Jakarta - Industri minyak sawit Indonesia menghadapi tantangan global yang semakin sarat beban. Salah satunya adalah ketidakpastian pasar minyak nabati dunia. Dan, harga minyak sawit mentah (CPO) cukup rendah.

Celakanya lagi, daya serap minyak sawit di dalam negeri, belum bisa diharapkan. Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia tidak tumbuh secara maksimal karena ada beberapa dinamika di pasar global khususnya di negara tujuan utama ekspor Indonesia seperti India, Uni Eropa, China dan Amerika Serikat.

Di India, kata Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Mukti Sardjono, Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia. Khususnya untuk refined products. Bea masuk refined products asal Indonesia dipatok lebih tinggi ketimbang Malaysia dengan selisih 9%. Di mana, tarif bea refined products dari Malaysia adalah 45% dari tarif berlaku 54%.



"Kini, Uni Eropa (UE) menggaungkan RED II ILUC dan tuduhan subsidi biodiesel ke Indonesia, sedikit banyak memengaruhi ekspor Indonesia ke Benua Biru. Perang dagang China dan Amerika Serikat, tentu saja memengaruhi pasar minyak nabati dunia," paparnya dalam rilis kepada media di Jakarta, Rabu (7/8/2019).

Ya, kegalauan industri sawit di tanah air, sebagaimana dipaparkan Mukti, tidak mengada-ada. Pada semester I-2019, kinerja ekspor minyak sawit Indonesia (CPO dan turunannya, biodiesel dan oleochemical), kenaikannya cuman 10% dibandingkan periode sama pada 2018. Atau beranjak dari 15,30 juta ton (Januari-Juni 2018), menjadi 16,84 juta ton pada periode sama 2019.

Kenaikan volume ekspor ini, lanjut Mukti, seharusnya masih bisa digenjot lebih tinggi lagi, akan tetapi karena beberapa hambatan dagang membuat kinerja ekspor tidak maksimal.

Sementara itu volume ekspor khusus CPO dan turunannya saja (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) di semester I-2019, hanya mampu terkerek 7,6%. Atau dari 14,16 juta ton pada Januari–Juni 2018, naik menjadi 15,24 juta ton pada periode sama 2019.

Sedangkan volume ekspor Indonesia khususnya CPO dan turunannya, pada semester I-2019, menurut Mukti, mengalami penurunan hampir di semua negara tujuan utama ekspor Indonesia, kecuali China. Di mana, China membukukan impor CPO dan turunannya (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) sebesar 39%, atau dari 1,82 juta ton pada Januari-Juni 2018, naik menjadi 2,54 juta ton pada periode sama 2019.

Kenaikan permintaan dari China ini, kata Mukti, merupakan efek dari perang dagang dengan AS. Negeri Tirai Bambu mengurangi pembelian kedelai secara signifikan dan menggantikannya dengan minyak sawit.

Untuk volume ekspor Indonesia khusus CPO dan turunannya pada semester I-2019 ke Uni Eropa, lanjut Mukti, mengalami stagnasi. Betul naik namun hanya 0,7% saja. Atau dari 2,39 juta periode Januari-Juni 2018, menjadi 2,41 juta ton pada periode sama 2019.

Di lain sisi, volume ekspor Indonesia khusus CPO dan turunannya pada semester I-2019 ke India, paparnya, justru tersungkur 17%. Atau dari 2,5 juta ton menjadi 2,1 juta ton. Penurunan ini diikuti Amerika Serikat 12%, Pakistan 10% dan Bangladesh 19%.

Beralih kepada serapan Biodiesel di dalam negeri, menurut Mukti, kinerja di semester I-2019, cukup impresif. Sepanjang Januari-Juni 2019, penyerapan biodiesel mencapai 3,29 juta ton, atau naik 144% ketimbang periode sama 2018 sebesar 1,35 juta ton.

Angka ini menunjukkan program mandatori B20 telah berjalan dengan baik di PSO dan non PSO. Pemerintah tetap diharapkan untuk mengakselerasi mandatori B30 yang saat ini uji coba jalan sedang berlangsung.

Pemerintah juga didorong untuk memperluas penggunaan minyak sawit langsung untuk pembangkit PLN. Jika semua program penyerapan dalam negeri dapat berjalan dengan baik maka, ketergantungan Indonesia pada pasar global akan dapat dikurangi.

Dari sisi harga, sepanjang semester pertama 2019 harga CPO global bergerak di kisaran US$492,5 hingga US$567,5 per metrik ton, dengan harga rata-rata di kisaran US$501,5 hingga US$556,5 per metrik ton.

Produksi minyak sawit pada Juni, menunjukkan tren penurunan 16% dibandingkan Mei 2019. Angkanya dari 4,73 juta ton menjadi 3,98 juta ton pada Juni 2019. Sementara stok minyak sawit Indonesia pada Juni ini, bertahan di level sedang yaitu 3,55 juta ton. [tar]




Sumber: inilah.com

Tag: News



Soal Perluasan Wilayah, DPR Usul Bogor Dimerkarkan Jadi Dua - Gudang Berita Viral Soal Perluasan Wilayah, DPR Usul Bogor Dimerkarkan Jadi Dua
Kamis, 22 Agu 2019, 14:00:08 WIB, Dibaca : 0 Kali
PUPR Gelontorkan Rp 1,1 Triliun untuk Empat Kawasan Wisata Prioritas - Gudang Berita Viral PUPR Gelontorkan Rp 1,1 Triliun untuk Empat Kawasan Wisata Prioritas
Kamis, 22 Agu 2019, 14:00:08 WIB, Dibaca : 0 Kali
LPSK Tegaskan Tak Kibarkan Bendera Putih Hanya Karena Minim Anggaran - Gudang Berita Viral LPSK Tegaskan Tak Kibarkan Bendera Putih Hanya Karena Minim Anggaran
Kamis, 22 Agu 2019, 14:00:08 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print