Jumat, 20 September 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Senin, 09 Sep 2019, 15:00:07 WIB, 1 View Tim Redaksi, Kategori : News
Merasakan Langsung Pembuatan Mentega secara Tradisional di Irlandia - Gudang Berita Viral

Pada masa lalu, Irlandia pernah dikenal sebagai negara penghasil keju dan mentega. Sisa-sisa kejayaan itu kini terekam di Butter Museum alias Museum Mentega yang berada di sebuah kota bernama Cork.

TRI MUJOKO BAYUAJI, Cork, Jawa Pos



PELABUHAN dan tata kota di Cork, Irlandia, memiliki keterkaitan erat. Pelabuhan Cork merupakan saksi sejarah berkembangnya perdagangan keju sejak era 1700-an.

Di sisi lain, tata kota dan kontur geografis kota berjuluk Rebel City tersebut mendukung pola perdagangan krim yang kerap dibuat untuk topping roti tawar itu. Pada masa itu, para peternak di Cork sudah mengolah susu menjadi mentega. Hasilnya lalu dijual ke berbagai belahan benua.

“Jika bicara keju dan mentega, Anda bicara tentang Cork,” kata Dominic Moore, pemandu Museum Mentega Cork, kepada rombongan media asal Indonesia Rabu (28/8) itu. Tiga awak media asal Indonesia menyempatkan berkunjung ke Museum Mentega atas undangan Bord Bia, Badan Pangan Irlandia.

Domo, sapaan akrab Dominic Moore, secara detail menjelaskan keberadaan Museum Mentega. Museum tersebut tepat berlokasi di sebelah gedung Bursa Mentega Cork (Cork Butter Exchange). Lantas, tepat di sebelah Bursa Mentega, ada gedung Firkin Crane. Itu adalah tempat pengolahan susu menjadi mentega oleh para peternak.

ARSITEKTUR LAWAS: Bagian depan Museum Mentega Cork, Irlandia. (Tri Mujoko Bayuaji/Jawa Pos)

Dua gedung tersebut sudah beroperasi sejak sekitar tahun 1770. Merupakan pusat pengolahan sekaligus penjualan mentega hasil olahan peternak Irlandia sebagai komoditas ekspor. “Ekspor mentega Irlandia dari Cork Butter Exchange menjadi yang terbesar, bahkan dalam hitungan abad,” kata pria ramah itu.

Pada kurun 1770-1924, Bursa Mentega Cork merajai pasar dunia. Mentega tersebut diekspor dari Pelabuhan Cork menuju berbagai negara di Benua Amerika, Tiongkok, hingga ke Melbourne. Kebutuhan masyarakat Irlandia atas hasil pertanian negara lain menjadikan mentega sebagai tumpuan ekspor mereka pada masa itu.

Dukungan kontur geografis tersebut, jelas Domo, adalah kaitan lokasi ditempatkannya Bursa Mentega dengan Pelabuhan Cork. Bursa Mentega bersama Firkin Crane berlokasi di dataran yang lebih tinggi daripada pelabuhan. Saat keju itu selesai diolah dan disimpan dalam firkin (sebuah wadah tabung kedap udara terbuat dari kayu), lalu dibawa menuju pelabuhan.

“Kami tinggal menggelindingkan saja. Tidak perlu banyak tenaga saat dibawa ke pelabuhan,” terang Domo sambil menirukan gestur cara mengirimkan firkin. Gedung Firkin Crane itu sendiri sejak awal didesain menirukan separo tabung dari bentuk firkin.

Disebut bursa karena sistem perdagangan modern sudah diterapkan komite yang mengelola pada saat itu. Aktivitas pertama pasca pengiriman susu adalah pengolahan susu menjadi mentega oleh para istri atau anak perempuan peternak. Selesai diolah, standar mutu dan kualitas mentega siap jual itu diperiksa tim yang diisi dari komite maupun pembeli.

Hasil mentega tersebut diberi urutan ranking. Mulai kualitas nomor satu hingga terendah di nomor enam. Setiap peternak mendapat penghasilan berdasar kualitas mentega. Sementara itu, pembeli mentega hanya bisa melihat hasil akhir yang sudah jadi. “Pembeli mentega tidak akan tahu mentega petani atau peternak siapa yang sudah mereka beli. Mereka hanya melihat kualitas. Ini untuk menekan supaya tidak ada praktik korupsi di situ,” terang Domo.

Jumlah petani dan peternak sapi yang terlibat di Bursa Mentega Cork terbilang banyak. Pada masa itu saja, sudah ada sekitar 20.000 peternak yang silih berganti mengirim dan mengolah susu mereka menjadi mentega di Firkin Crane. “Ada satu fotografer yang berhasil kami simpan hasil karyanya. Foto itu merekam suasana Cork Butter Exchange pada masa jayanya. Itu sudah kami pajang di museum,” imbuhnya.

Domo melanjutkan penjelasannya langsung lewat praktik. Para awak media diajak masuk ke museum. Bergabung dengan para pengunjung museum. Sudah disiapkan meja lengkap dengan sejumlah peralatan. Ada tabung firkin dan stoples kaca berisi susu murni ditambah air. Stoples beling berukuran mirip tempat penyimpanan dawet itu memiliki tutup khusus berupa alat yang bisa mengaduk isi stoples. “Sekarang mari kita buat sendiri mentega, seperti pengalaman masa lalu itu,” ajak dia.

Susu murni dalam stoples tersebut sebelumnya telah didiamkan dalam suhu ruangan selama satu hari. Takarannya sekitar separo dari isi stoples. Langkah pertama ialah mengaduk susu secara kontinu. Jawa Pos bersama dua media lain diberi kesempatan bergiliran mengaduk susu. Pengadukan dilakukan tanpa henti agar mendapatkan hasil terbaik. “Diaduk setidaknya selama 40 menit,” kata Domo.

Selama diaduk, susu itu akan bereaksi. Yang semula berupa cairan akan mengembang sebuah material padat yang terpisah. Reaksi tersebut muncul sekitar 15 menit akhir proses mengaduk. Lama-kelamaan, proses mengaduk makin berat karena terbentuknya materi padat yang menjadi bakal mentega. “Capek tidak?” tanya Domo, lantas tersenyum melihat usaha keras Jawa Pos mengaduk susu itu.

Ketika susu cair dan susu padat terbentuk, dilakukan pemisahan. Hanya susu padat yang digunakan. Sebelum diolah menjadi mentega, susu padat tersebut dicuci dengan air. Awal dicuci, air masih bercampur warna putih, kemudian dibuang dan diganti air lain. Saat air mulai bening, proses pencucian berakhir. “Tinggal sedikit langkah lagi untuk mendapatkan mentega,” kata Domo. Biasanya, ibu-ibu peternak susu Irlandia pada zaman dulu mencuci susu padat tersebut saat pagi.

Ketika susu padat sudah bersih, mulailah dilakukan pengolahan menjadi mentega. Di sini bisa dilakukan penggaraman agar mentega lebih asin atau tetap pada cita rasa awal. Susu padat itu diaduk-aduk dengan sendok berukuran besar sehingga membentuk tekstur dan warna mengilap khas mentega.

Selama hampir satu jam, mentega olahan cara tradisional itu pun jadi. Warnanya kuning mengilap. Domo langsung mengeluarkan satu nampan berisi irisan roti-roti homemade khas Irlandia. Domo mengoleskan mentega hasil karya tersebut di tiap-tiap roti dan meminta seluruh pengunjung mencicipi satu per satu. Rasanya ternyata tidak mengecewakan. Rasa khas mentega yang biasa dijual di Indonesia juga muncul dari mentega dadakan itu.

Di museum tersebut sejarah mentega sebelum era perdagangan kolonial juga diceritakan. Salah satu yang menonjol adalah fosil mentega atau disebut bog butter yang dipajang di lantai atas. Pada awal Masehi, pengolahan mentega berasal dari lemak susu yang disimpan dalam wadah kayu. Bog biasanya dipendam tertutup dalam waktu lama demi menjaga kualitas kadar lemak dari terpaan oksigen, tersimpan alami dalam suhu rendah, untuk mendapatkan sebuah mentega. “Bentuk bog sendiri macam-macam, tergantung peternaknya menggunakan wadah apa,” jelas Peter Foynes, kepala Cork Butter Museum.

Selain bog, diorama yang paling banyak terlihat adalah perjalanan Cork menjadi pusat produksi dan distribusi mentega dunia hingga akhirnya mengalami masa suram. Puncaknya terjadi saat Bursa Mentega Cork dinyatakan tutup operasi pada 1924.

Menurut Peter, mentega Irlandia kala itu kalah bersaing. Bukan dari sisi kualitas, melainkan kuantitas hasil produksi. Denmark menjadi pesaing Irlandia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Memasuki tahun 1870, negara Skandinavia tersebut mulai mengungguli Irlandia karena mampu menemukan cara mekanis untuk mempercepat pembuatan mentega. “Kompetisi sudah muncul, sementara kami merespons lambat perkembangan teknologi saat itu,” katanya.

Kebangkitan industri mentega Irlandia muncul pada 1959, saat didirikan komite yang mengurus pemasaran produk pertanian Irlandia. Komite tersebut dipertegas dengan dibentuknya An Bord Bainne, sebuah badan pangan yang bertanggung jawab memasarkan produk-produk terkait susu Irlandia. Berbagai merek mentega produksi Irlandia disatukan dalam satu merek. Pada 1962 An Bord Bainne meluncurkan Kerry Gold, produk atau brand mentega Irlandia yang kini tersebar di hampir seluruh negara.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Saran Produsen Rokok Ketika Pemerintah Naikkan Tarif Cukai - Gudang Berita Viral Saran Produsen Rokok Ketika Pemerintah Naikkan Tarif Cukai
Jumat, 20 Sep 2019, 08:00:10 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Lima Penjaga Nafsu Kita  - Gudang Berita Viral Lima Penjaga Nafsu Kita
Jumat, 20 Sep 2019, 08:00:05 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Pound Naik Tajam Respon Prospek Kesepakatan Brexit  - Gudang Berita Viral Pound Naik Tajam Respon Prospek Kesepakatan Brexit
Jumat, 20 Sep 2019, 08:00:04 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print