Kamis, 17 Oktober 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Minggu, 06 Okt 2019, 21:00:07 WIB, 4 View Tim Redaksi, Kategori : News
Merangkul Audiens dan Membuka Pagar lewat Festival-Festival Sastra - Gudang Berita Viral

Tema kuat, kerja tim yang spartan, koordinasi yang rapi, dan jaringan pertemanan memainkan peran penting di balik keberhasilan berbagai festival sastra di tanah air. Soal dana, banyak cara untuk mencarinya.

INDRIA PRAMUHAPSARI, Jogjakarta, DIAR CANDRA, Surabaya, Jawa Pos



”GREGAH. Aan, tahu ndak artinya gregah?’’ tanya Joko Pinurbo kepada Aan Mansyur . Yang ditanya menggeleng seraya tersenyum.

Pada Jumat malam lalu itu (27/9), kedua penyair kenamaan Indonesia tersebut tengah menjadi pembicara pada Diskusi Festival Sastra di Indonesia. Diskusi santai itu berlangsung di selasar Benteng Vredeburg, Jogjakarta.

Gregah, kata Jokpin –sapaan akrab Joko Pinurbo– bermakna bangkit. Tema itu, menurut penulis puisi Celana tersebut, adalah pasemon.

Bisa diartikan sebagai kebangkitan masyarakat Jogjakarta dari ketidakacuhannya terhadap sastra.

”Bisa jadi juga, maksudnya Jogja harus bangkit dalam zaman yang sudah berubah. Apakah kita masih harus menjual romantisme Jogja?” imbuhnya.

Malam itu Jokpin memang tengah mengungkapkan kegembiraan atas dihelatnya Jogjakarta Literary Festival (Joglitfest) 2019. ”Akhirnya Jogjakarta punya festival sastra juga,” katanya.

Agak terasa ”aneh” memang Jogjakarta –kota budaya, kota tempat dihelatnya berbagai festival berkaitan dengan literasi– baru punya festival sastra. Tapi, di saat yang sama, lahirnya Joglitfest semakin menambah panjang daftar berbagai festival sastra di tanah air.

Dari Indonesia bagian timur sampai belahan barat kini berjajar festival-festival sastra berkualitas. Makassar International Writers Festival (MIWF), Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), Jakarta International Literary Festival, dan kini Jogjakarta Literary Festival hanyalah untuk menyebut sejumlah contoh.

Jokpin menyebut MIWF yang sudah berjalan sembilan edisi tersebut sebagai contoh festival yang berhasil. Sebab, tiap tahun selalu ada penulis baru yang muncul dari festival itu. Misalnya, Faisal Oddang, Alfian Dippahatang, dan Mario F. Lawi.

”Harapan saya, Jogja juga akan bisa seperti Makassar. Tapi, ya belum sekarang. Ini kan baru pertama,’’ ungkapnya.

Sejak edisi pertama, MIWF memang konsisten menghadirkan tema. Emerging writers, imbuh Aan, yang jadi salah satu pilar MIWF, juga program tetap MIWF. ”Hasilnya juga kelihatan. Sekarang kita punya banyak penulis dari Indonesia Timur yang kemunculannya dibantu MIWF,’’ timpal Jokpin.

Tahun lalu MIWF memunculkan Alfian Dippahatang. ”Orang-orang jadi mengenal saya berkat festival itu,” kata Alfian, penyair 25 tahun, saat dijumpai Jawa Pos keesokan harinya (28/9).

Kerja tim yang spartan, koordinasi yang baik, dan jaringan pertemanan menjadi simpul-simpul di balik keberhasilan sebuah festival. Faktor penting lainnya, kata Aan, penyair asal Makassar yang jadi salah satu pilar MIWF, adalah tema, program, dan audiens.

”Audiens adalah bagian utama festival,’’ tegas pengarang Kukila tersebut.

Sejak awal, audiens menjadi prioritas festival sastra terbesar Makassar tersebut. Mengapa? Sebab, menurut dia, audiens yang peduli sastra adalah denyut nadi festival sastra itu sendiri.

”Target audiens kami adalah keluarga muda. Karena itu, kami menggelar festival yang ramah anak,’’ terang Aan.

Alasannya, kata pemilik akun Twitter @hurufkecil tersebut, anak-anak selalu punya kenangan yang kuat tentang kerumunan.

Karena audiens menjadi fokus utama MIWF, tiap tahun panitia selalu berbenah untuk menyajikan kebaruan. ”Sekarang mereka yang tunawicara juga bisa menikmati festival kami dengan nyaman. Bahasa isyarat bisa digunakan untuk berkomunikasi secara luas,’’ ungkap Aan.

Bahkan, ada sesi silent poetry reading dalam MIWF. Itu merupakan cara untuk merangkul semua audiens dan membuat mereka betah serta selalu rindu kembali menjadi bagian dari festival.

Keterlibatan audiens dalam festival, menurut sastrawan 37 tahun itu, juga menjadi perhatian MIWF. ”Pernah ada (audiens) yang buta juga berpuisi. Sekali waktu ada anak kecil yang membacakan puisi karyanya sendiri untuk ayahnya yang entah ada di mana,” kenang Aan.

Kalau MIWF konsisten merawat program ”emerging writers”, Jakarta International Literary Festival (JILF) yang baru dihelat di tahun ini yang bertema ”Pagar” bertujuan membuka serta meluaskan relasi antarnegara di kawasan selatan. Asia, Afrika, sampai Amerika Selatan.

”Jadi, selama ini kita tahu kalau ingin menerbitkan karya secara global, kita harus punya relasi dengan penerbit di kawasan utara. Katakanlah Amerika (Serikat) atau Inggris,” kata Ronny. ”Kita harap setelah JILF ini antarnegara selatan bisa langsung terkoneksi,” tambah pemilik penerbitan Marjin Kiri itu.

Dibutuhkan persiapan dua tahun sebelum akhirnya JILF bisa berlangsung pada 20–24 Agustus lalu. ”Kalau di Surabaya, Jogja, mungkin gampang bertemu di sela kesibukan sehari-hari. Karena Jakarta ya tahu sendiri bagaimana menyesuaikan jadwal seminggu sekali buat rapat sudah luar biasa,” cerita Ronny.

Karena itu, tugas dan tantangan besar JILF tahun selanjutnya adalah menjaga konsistensi. ”Festival literasi itu harus ada yang ngopeni dan serius di dalamnya,” ujar Ronny.

Jogjakarta sengaja mengusung kata literary dalam festival karena Kota Gudeg itu, selain punya banyak penulis dan penyair, dipenuhi seniman lain yang perlu diwadahi. Ada perupa, ada pelukis, ada aktor. Banyak sekali.

Selain seniman Jogjakarta, Joglitfest yang berakhir Senin (30/9) itu melibatkan banyak penulis dan sastrawan dari luar daerah. Menurut Suharmono M.A., ketua umum Joglitfest 2019, porsinya fifty-fifty. Namun, yang berperan sebagai penampil justru lebih banyak yang dari luar Jogja.

”Kami mendatangkan mereka lewat jejaring pertemanan. Karena ada teman dalam komunitas yang datang, otomatis yang lain mau juga terlibat,” kata Suharmono.

Jadilah selama empat hari, 27–30 September lalu itu, Jogjakarta ramai didatangi para penulis dan sastrawan dari berbagai penjuru tanah air. Ada pula pasar buku, rangkaian diskusi, dan pementasan.

Meski jejaring pertemanan penting, tentu dana juga persoalan krusial. Untuk edisi perdana kali ini, Joglitfest bekerja sama dengan Indonesiana, platform milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Karena itu, kata Suharmono, ada bantuan dari pusat dan pemerintah provinsi.

Sebenarnya, untuk mendapatkan dukungan pemerintah, syaratnya gampang saja. ”SPj. Pokoknya SPj-nya beres, ya pasti kami dukung,’’ kata Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Aris Eko Nugroho.

Sementara itu, di Makassar, MIWF bukanlah festival yang repot memburu donatur besar. ”Itu makanya di spanduk-spanduk kami juga tidak pernah tercantum merek yang menjadi sponsor,” ujar Aan.

Untuk akomodasi para penulis, misalnya. Aan mengumpulkan sejumlah orang yang dikenal baik. Gampangnya, satu orang menanggung biaya makan dan menginap satu penulis. Mekanisme semacam itu selalu berhasil diterapkan dari tahun ke tahun.

Sedangkan UWRF mendapat dukungan dari donatur, sponsor, komunitas, dan media. ”Kami dibantu para partner melalui sponsorship, pemerintah, donatur, dan penjualan tiket,” kata Kadek Purnami, general manager UWRF.

Namun, untuk gawe besar semacam Joglitfest, bukan hanya dana yang penting. Tenaga pun tidak kalah krusial. ”Kami dibantu 90 volunter. Kalau panitianya sendiri berjumlah 40 orang,’’ kata Suharmono.

Panitia juga menggandeng kampus dan sekolah sebagai tuan rumah pergelaran. Panitia memberikan kewenangan penuh kepada tuan rumah untuk memilih lokasi, menunjuk moderator dan MC, serta mengemas acara. Secara teknis, panitia hanya menyediakan konsumsi, backdrop, dokumentasi, dan pendamping pembicara.

Intinya, gotong royong. Sampai akhirnya Jogjakarta bisa punya festival sastra. Semoga kota-kota lain yang belum punya festival serupa bisa turut gregah.

”Membajak” Stasiun Paling Romantis Se-Indonesia

BERPUISI DI STASIUN: Penyair Pritt Timothy Prodjosoemantri saat mem-bacakan puisi di Stasiun Tugu, Jogjakarta (30/9). (Joglitfest 2019 for Jawa Pos)

ADA ”pembajakan” di hari terakhir Jogjakarta Literary Festival 2019. Tak tanggung-tanggung, yang jadi target operasi salah satu tetenger Kota Gudeg itu: Stasiun Tugu.

Tapi, tenang, sama sekali tak ada yang dirugikan dalam pembajakan itu.

Malah menuai pujian. Termasuk dari Kepala Daop VI Eko Purwanto. Juga mereka yang Senin lalu (30/9) berada di stasiun tersebut.

Maklum, mikrofon stasiun yang dibajak itu digunakan oleh Pritt Timothy Prodjosoemantri untuk membacakan puisi karya Kirdjomulyo yang berjudul Pulang Kampung. Atraksi yang menjadi bagian dari Sastra Ruang Publik Joglitfest 2019 itu diawali dan diakhiri dengan bel tanda kedatangan kereta api.

”Baca puisi pakai mikrofon stasiun itu sebenarnya ide pribadi saya. Sudah ada sejak Joglitfest belum mulai,” kata Paksi Raras Alit, produser festival sastra pertama Jogjakarta itu, kepada Jawa Pos.

Karena untuk merealisasi ide tersebut perlu proses panjang, termasuk birokrasi yang rumit, dia menyimpan gagasan tersebut. Tapi, ternyata Paksi tidak bisa lama-lama memendam gagasan tersebut.

Saat Joglitfest 2019 memasuki tahap pra-event, dia mulai mendiskusikan idenya dengan panitia festival. Sekitar dua minggu sebelum grand opening Joglitfest 2019 pada 27 September, dia mengajak Yustina Wahyu Nugraheni dan sekitar empat panitia lain ke Stasiun Tugu. Itu menjadi tahap awal realisasi ide.

Mengapa Stasiun Tugu? ”Stasiun Tugu ini stasiun kereta api paling romantis sak-Indonesia Raya,” kata alumnus Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada tersebut.

Karena tidak ada satu pun di antara mereka yang punya kenalan ”orang dalam”, mereka nekat datang ke stasiun. ”Kami dapat nomor kontak customer care. Kami juga disarankan mengirim surat sampai ke kantor Daop VI yang ada di dekat Stasiun Lempuyangan,” ungkap vokalis band Mantradisi tersebut.

Pada hari pertama Joglitfest 2019, kabar baik datang. Pihak Daop VI menyatakan dukungan mereka terhadap ide ”membajak” stasiun.

Sempat ragu untuk merealisasi idenya, Paksi lantas curhat kepada sejumlah sastrawan di area Benteng Vredeburg saat Joglitfest 2019 masuk hari ketiga. Setelah itu, bapak tiga anak tersebut semakin mantap untuk mewujudkan ”pembajakan”. Malam itu juga dia mengontak Pritt yang akan didapuk sebagai pembaca puisi.

”Wah, idene edan iki. Mangkat!” kata Pritt yang ditelepon sekitar pukul 12 malam pada 29 September lalu.

Jawaban itu membuat Paksi semakin bersemangat. Mereka lantas janjian ke Stasiun Tugu sore harinya, sekitar pukul 15.00 WIB. Dengan catatan, ide itu belum tentu bisa terealisasi. Sebab, Paksi belum berkoordinasi dengan pihak stasiun pasca mendapatkan izin.

Drama sempat mewarnai perjuangan Paksi dan timnya untuk mewujudkan ”pembajakan” pada hari itu. ”Negosiasinya sempat alot. Memang saya punya banyak permintaan. He he he,” kata pria yang berulang tahun tiap 16 Juni itu.

Saat negosiasi, Kepala Daop VI Eko Purwanto datang ke Stasiun Tugu. Begitu bertemu Paksi dan ngobrol, Eko malah langsung mengiyakan semua permintaan Paksi.

”Lega sekali. Apalagi, momentumnya pas. Pas Pak Pritt baca puisi itu, pas Taksaka dari Jakarta masuk stasiun. Wah, tambah romantis kae,” ungkap Paksi.

Yuni Purnama, putri sulung Kirdjomulyo, menganggap ide Paksi itu brilian. ”Baca puisi di panggung itu biasa. Tapi, ini pakai mikrofon dan menggema sestasiun,” kata Yuni.

Kekaguman dan kebanggaan itu juga dia tuliskan di dinding Facebook Paksi. ”Merinding,” tulisnya, mengomentari unggahan pembacaan puisi sang ayah di stasiun itu.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



 Pertumbuhan Ekonomi, Lapangan Banteng Optimis 5,1%  - Gudang Berita Viral Pertumbuhan Ekonomi, Lapangan Banteng Optimis 5,1%
Kamis, 17 Okt 2019, 04:00:05 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Kekalahan yang Menyakitkan untuk Persija  - Gudang Berita Viral Kekalahan yang Menyakitkan untuk Persija
Kamis, 17 Okt 2019, 04:00:05 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Alasan Man United Urungkan Niat Rekrut Neymar  - Gudang Berita Viral Alasan Man United Urungkan Niat Rekrut Neymar
Kamis, 17 Okt 2019, 04:00:05 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print