Selasa, 19 November 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Minggu, 03 Nov 2019, 17:00:10 WIB, 7 View Tim Redaksi, Kategori : News
Mendamaikan Indonesia Lewat Sambal dan Diplomasi Meja Makan - Gudang Berita Viral

Chef Bara melahirkan Sambal Nation setelah gelisah melihat Indonesia yang dipenuhi provokasi dan hujatan. Bagian dari gelombang besar upaya para chef menghasilkan karya yang tak cuma bicara tentang bagaimana membuat makanan yang enak dan mengenyangkan.

DIAR CANDRA, Gianyar, Jawa Pos



DIANE O’Keefe membelalak. Rongga mulutnya terasa terbakar. Irisan ikan cakalang dalam piring kecil yang dicocolkan ke sambal andaliman menghadirkan sensasi rasa pedas luar biasa.

”Tapi, rasanya tetap enak,” kata Diane dengan wajah agak memerah.

Chef Bara Pattiradjawane, orang yang menghadirkan sambal andaliman dan enam jenis sambal lain di Joglo Taman Baca, Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), pada Jumat pekan lalu (25/10), itu pun tertawa. ”It’s called kapok lombok. You akan terus makan meski bilang masakan itu pedas,” ujar Bara.

Selain sambal andaliman dari Medan, Sumatera Utara, sore itu Bara menyajikan berbagai sambal dari wilayah Indonesia. Misalnya, sambal bacem dari Jogjakarta, sambal colo-colo dari Maluku, serta sambal matah dari Bali.

Salah satu kekayaan kuliner Nusantara, menurut Bara, ada pada cita rasa pedas. Meski sesungguhnya tanaman penghasil rasa pedas itu, yakni cabai (Capsicum annuum), bukanlah berasal dari tanah air. Melainkan dari kawasan Amerika Latin. Lombok baru hadir di Nusantara melalui para pedagang Portugal dan Spanyol pada sekitar abad ke-15.

Karena itu, sambal menjadi unsur penting dalam gagasannya tentang ”diplomasi meja makan”. Sebuah gagasan yang lahir dari kegelisahan melihat situasi bangsa yang penuh provokasi, pertikaian, dan hujatan.

”Simpelnya begini, semua akan lebih mudah dibahas ketika duduk di meja makan. Dan, apa yang membuat nasi, lauk-pauk, sayur, atau lalapan jadi enak? Ya, sambal itu,” ucap anak pasangan L. Pattiradjawane dan Rose Lintong tersebut.

Dari sanalah lahir Sambal Nation atau Republik Sambal. Buku karya Bara itu rencananya diluncurkan tahun depan. Sebelumnya buku tersebut juga dipresentasikan di London Book Fair 2019 pada Maret di London, Inggris.

Buku karya chef kelahiran Jakarta, 9 Juli 1964, tersebut berisi 45 jenis sambal dari berbagai wilayah Nusantara. Juga, 17 resep masakan Indonesia yang diolah dengan sambal dan 8 tagar ajakan positif mencintai sambal.

Sambal Nation bagian dari gelombang besar upaya para chef yang tak sekadar membuat buku masak berisi resep. Atau sekadar bagaimana proses menyajikan masakan yang enak buat disantap di meja makan dan membuat kenyang.

Melainkan ada juga proses pendalaman dengan membaca literatur asal mula bumbu-bumbu. Mengikuti perkembangan menu. Termasuk blusukan ke pasar bertemu para pedagang.

Itu pula yang dilakukan Bara. Blusukan ke berbagai daerah di Nusantara. Mengikuti perkembangan menu. Serta masuk ke pasar-pasar tradisional sebagai ikhtiar memperkaya ilmu memasak.

”Ada berbagai jalan meluaskan ilmu memasak kita. Kalau dulu semasa masih di Wina, Amsterdam, atau Paris, saya harus ke perpustakaan untuk mencari sumber tentang menu yang akan saya buat,” tutur Bara.

Dalam perjalanan menyusuri berbagai sambal di Nusantara ini, dia bertemu atau ngobrol dengan penikmat kuliner dari beragam latar belakang pekerjaan, usia, dan asal. Dari proses itu pula kemudian terjadilah pertukaran ilmu.

Fadly Rahman, sejarawan Universitas Padjadjaran yang juga penulis Jejak Rasa Nusantara, mengatakan sebelum para pedagang Portugal dan Spanyol masuk membawa bibit cabai dari Amerika Latin, Nusantara sudah mengenal rasa pedas. Namun, pedas itu hadir lewat lada, cabai jawa (Piper retrofractum), atau jahe.

Dalam perkembangan selanjutnya, cabai pun mengalami diversifikasi pengolahan di berbagai wilayah Nusantara. Misalnya, cita rasa pedas kaum pesisir akan berbeda dengan kaum hinterland (pedalaman). Di pesisir cabai bisa dikombinasikan dengan olahan fermentasi udang dan ikan. Misalnya, terasi dan petis. Di area hinterland cabai diulek bersama dengan garam, kemudian dijadikan teman makan lalapan sayur dan hasil ternak atau ikan air tawar.

Pentingnya penelusuran sumber ditekankan pula oleh chef Yotam Ottolenghi. Yotam yang juga hadir di UWRF itu menceritakan bagaimana sebisanya harus masuk minimal satu pasar di satu daerah yang dikunjungi.

”Ketika saya berjalan di pasar yang ada di Jerusalem atau tempat keluarga besar saya berasal, saya menemukan ada banyak sekali inspirasi memasak di sana. Jadi, menurut saya, kita jangan malas pergi ke pasar tradisional untuk melihat banyak hal,” kata Yotam.

Termasuk ketika berada di Ubud. Chef yang menulis kolom di The Guardian sejak 2005 itu berujar sangat takjub dengan banyaknya jenis bumbu di Indonesia. Di matanya, berbagai kebudayaan bertemu dalam kuliner di sini.

Ada kebudayaan dari Asia Selatan, kemudian juga bersinggungan dengan kebudayaan Asia Barat yang hadir karena sistem religi. Ada pula pengaruh budaya Eropa yang datang karena kolonialisme.

Chef lain yang mengombinasikan sejarah dalam menunya adalah Archana Pidathala. Archana yang juga datang ke UWRF mengatakan, bukunya, Five Morsels of Love, lahir dari mengeksplorasi buku resep neneknya.

Buku Five Morsels of Love menjadi persembahan Archana kepada neneknya yang sudah menginspirasinya untuk memasak. ”Ingatan soal masakan nenek sampai kebiasaan nenek di meja makan membuat saya semangat dalam mencintai masakan yang hadir,” ucap Archana.

Sekarang Semua Bisa Jadi Koki

Berbagai sambal yang disajikan Bara pada Jumat pekan lalu. (Diar Candra/Jawa Pos)

Nasi sudah matang. Si koki pun mencicipi hasil masakannya itu. ’’Eh, dia bilang nggak enak dan nasinya dibuang dengan gampang sekali. Buat saya, hal itu rasanya kok tidak pantas sama sekali ya,’’ kata chef Bara Pattiradjawane.

Pada Jumat sore pekan lalu (25/10) di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), Bara menceritakan apa yang dia tonton pada salah satu kanal YouTube. Dalam tayangan tersebut, si koki menanak nasi dengan menggunakan minuman bersoda. Dan, hasilnya itu tadi, nasinya justru dibuang.

’’Sekarang ini semuanya bisa menjadi celebrity chef dengan cara masing-masing. Dan, karena YouTube ini bisa diuangkan, orang berlomba-lomba menjadi menarik dan kanalnya mendapat pelanggan yang banyak,’’ tutur Bara yang telah menulis buku-buku, antara lain, Puding dalam Gelas, Masak Seru Bareng si Tukang Masak, dan Catatan dari Balik Dapur si Tukang Masak.

Di kanal yang lain, lanjut Bara, ada juru masak yang tak menampakkan wajah sama sekali. Kamera sepenuhnya menyorot jari jemarinya meracik bumbu dan makanan. Serta suara mendayu-dayu sang chef ketika menjelaskan apa yang dimasaknya tersebut.

Kebebasan berekspresi dalam memasak itu tentu sangat berbeda dengan yang dialami Bara pada era 1990-an akhir atau awal 2000-an. Ketika itu hanya ada beberapa koki yang punya keistimewaan bisa tampil di layar kaca.

Sebut saja chef Rudy Choirudin atau Sisca Soewitomo. Keduanya punya nama yang sangat besar di kalangan ibu-ibu yang dengan setia menunggui mereka tampil pada jam-jam tertentu.

Selain kanal YouTube, platform yang disukai untuk mengekspresikan kemampuan memasak adalah Instagram. Dengan berbagai filter foto dan fitur-fitur yang memanjakan pemakai, Instagram punya pasar tersendiri.

’’Kita berada dalam era Instagram yang memang demikian menyihir. Ketika seseorang ingin mengenalmu secara lebih jauh, tanpa susah payah mereka akan mengikuti akun media sosialmu,’’ kata jurnalis dan penikmat kuliner asal Australia, Joanna Savill, dalam salah satu sesi UWRF pada Minggu lalu (27/10).




Sumber: jawapos.com

Tag: viral, berita viral, hot news, news, gudang berita viral, jawapos, tribunnews, kompas, Mendamaikan Indonesia Lewat Sambal dan Diplomasi Meja Makan

Tag: News



Wisnu Murti, Mahasiswa UWK Peraih Puluhan Piala Off-Road - Gudang Berita Viral Wisnu Murti, Mahasiswa UWK Peraih Puluhan Piala Off-Road
Selasa, 19 Nov 2019, 20:00:12 WIB, Dibaca : 1 Kali
Setelah Dualisme Panjang, Akhirnya PPP Islah - Gudang Berita Viral Setelah Dualisme Panjang, Akhirnya PPP Islah
Selasa, 19 Nov 2019, 20:00:12 WIB, Dibaca : 0 Kali
Jaringan Pedofil Mangsa 546 Pemuda Afghanistan - Gudang Berita Viral Jaringan Pedofil Mangsa 546 Pemuda Afghanistan
Selasa, 19 Nov 2019, 20:00:12 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print