Kamis, 22 Agustus 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Jumat, 09 Agu 2019, 17:00:08 WIB, 1 View Tim Redaksi, Kategori : News
Lamaran Berakhir Bentrok, Satu Tewas dan Enam Terluka - Gudang Berita Viral

gudangberitaviral.com – Seorang warga Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maksi Robin Mesakh tewas saat bentrokan. Lelaki 42 tahun itu terlibat bentrokan yang terjadi di Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Kamis (8/8) sekira pukul 18.00 Wita. Insiden ini juga mengakibatkan enam orang terluka dan harus menjalani perawatan medis.

Maksi Robin Mesakh menjadi korban ketika hendak menyelamatkan dua orang yang dianiaya sekelompok warga. Korban terdesak akibat diserang massa. Dia pun berusaha membela diri dengan menggunakan senjata tajam yang dipegangnya. Maksi melukai tiga orang di bagian lengan dan telinga. Nahas, dia terkena sabetan benda tajam hingga tewas.



Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Jules Abraham Abast saat dikonfirmasi Timor Express (Jawa Pos Group) membenarkan kejadian tersebut. Dia mengaku kasus tersebut langsung mendapat perhatian dari jajaran Polres Kupang dan situasi sudah kondusif. “Saat ini masih dilakukan penyelidikan terkait penyebab bentrokan tersebut,” ujarnya.

Sementara Kapolres Kupang AKBP Indera Gunawan menyebut tidak ada bentrokan antarwarga, namun hanya kesalahpahaman karena diduga sudah mengonsumsi minuman keras. “Ini orang lamaran pihak laki-laki ke pihak perempuan di Desa Tanah Merah. Bantu-bantu buat tenda mungkin tersinggung omongan lalu ribut karena minum. Akhirnya satu bacok dibalas pihak satunya,” jelas Indera.

Kapolres juga mengakui satu korban terkena bacokan dan sempat dibawa ke Puskesmas Oesao namun nyawanya tak tertolong. “Sementara masih kami tangani. Piket siaga di TKP tapi suasana kondusif. Soal yang terkena luka-luka masih kami data,” kata Kapolres Indera.

Korban yang mendapat penganiayaan dan diselamatkan oleh Maksi Mesakh diketahui atas nama Ar Nokas, 28, asal TTS; Musa Kause, 40, yang juga asal TTS; serta Yerimia Naru, 38, asal TTU. Ketiganya saat itu sedang menurunkan kayu api di lokasi peminangan, tepatnya di rumah alm. Hanok Nggeon.

Sementara warga yang terkena sabetan dari korban Maksi Mesakh di antarnya Mea Besik, 27; Andy Haning, 22; dan Benny Nggeon, 28, yang merupakan warga Desa Tanah Merah. Selain tiga korban yang terkena sabetan, terdapat korban luka terkena lemparan batu, di antaranya, Petrus Dale, 42, alamat Desa Tanah Merah. Tiga korban yang mengalami luka sabetan dilarikan ke RSUD S. K. Lerik Kota Kupang.

Selesaikan Akar Masalah

Selain kasus tersebut, kasus tawuran yang melibatkan kelompok massa juga sering terjadi di wilayah Kabupaten Kupang. Ini juga perlu diselesaikan hingga tuntas. Sehingga tidak menjadi benih persoalan di kemudian hari.

Hal ini dikatakan Ketua Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang Rudolfus Talan ketika dikonfirmasi, Kamis (8/8) malam. “Menjadi pertanyaan kenapa kasus itu terjadi berulang-ulang. Di wilayah yang sama. Harus diketahui akar masalahnya dulu sehingga penyelesaiannya tepat,” kata Rony Talan -demikian sapaan akrab Rudolfos Talan.

Menurut Rony, peran pemerintah sangat penting untuk menyelesaikan hingga tuntas masalah tersebut. “Pemerintah perlu proaktif. Melibatkan semua pihak terkait sehingga masalah segera diselesaikan hingga tuntas. Melibatkan tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat sangat penting,” usul Alumni pascasarjana Undip ini.

Rony yang kini membimbing dua mahasiswanya yang meneliti soal kajian kriminologis perseteruan antar perguruan di Belu dan Kabupaten Kupang itu menyarankan penyelesaian melalui pendekatan adat. “Itu sudah terbukti di Belu dimana ada penyelesaian secara adat dua kelompok yang sering berseteru. Ini mungkin perlu dilakukan juga di Kabupaten Kupang,” ujar Rony.

Dirinya pesimistis jika penyelesaian kasus tersebut hanya melalui pendekatan penegakan hukum. “Pelaku tentu tetap diproses secara hukum. Namun, penyelesaian secara menyeluruh perlu dilakukan dengan pendekatan budaya,” kata Rony yang juga advokat ini.

Hal yang sama juga dikatakan anggota DPRD Kabupaten Kupang Bento Humau. “Saya baru mendapat kabar ada pertikaian lagi antara warga di Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Kita sesali kasus yang sama terjadi lagi di Kabupaten Kupang. Ini perlu ada langkah serius yang dilakukan bersama antara pemerintah dan semua pihak yang terkait. Sehingga tidak perlu terulang lagi,” kata Bento.

Sekretaris Fraksi Nasdem DPRD Kabupaten Kupang ini juga sepakat penyelesaian dengan pola pendekatan adat dan budaya. “Saya juga setuju kalau penyelesaian dilalukan dengan pendekatan adat budaya. Semua pihak duduk bersama dan menyelesaikan secara budaya. Saya yakin ini akan lebih kuat,” kata Bento yang kembali terpilih sebagai anggota dewan itu.

Dia mengatakan, warga yang sering bertikai di Kabupaten Kupang itu sebenarnya masih ada hubungan keluarga. Karena itu, penyelesaian secara kekeluargaan dan adat merupakan yang paling tepat. Karena itu, dirinya akan mendorong pemerintah agar lebih proaktif mendorong penyelesaian secara adat tersebut. “Kalau dibiarkan terus sampai kapan kasus yang sama ini berakhir. Perlu ada upaya serius dilakukan,” tegas Bento.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Menteri BUMN Ajak Pebisnis Kuliner Karawang Move On ke LPG Non Subsidi - Gudang Berita Viral Menteri BUMN Ajak Pebisnis Kuliner Karawang Move On ke LPG Non Subsidi
Kamis, 22 Agu 2019, 22:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
Terancam Kekeringan, Anies Minta Warga Hemat Penggunaan Air Bersih - Gudang Berita Viral Terancam Kekeringan, Anies Minta Warga Hemat Penggunaan Air Bersih
Kamis, 22 Agu 2019, 22:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
Kemenristekdikti Target Dua PTS Dipimpin Rektor Asing pada 2020 - Gudang Berita Viral Kemenristekdikti Target Dua PTS Dipimpin Rektor Asing pada 2020
Kamis, 22 Agu 2019, 22:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print