Senin, 23 September 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Senin, 02 Sep 2019, 21:00:08 WIB, 4 View Tim Redaksi, Kategori : News
Kurangi Risiko Kelainan Genetik Bayi Tabung, Skrining Kromosom Embrio - Gudang Berita Viral

gudangberitaviral.com – Penyakit genetik pada embrio sering menghantui orang tua saat merencanakan kehamilan program bayi tabung. Namun, kini ada cara untuk mengurangi risiko keguguran dan adanya penyakit genetik embrio. Yakni, metode skrining pada embrio yang berupa pre-implantation genetic testing for aneuploidy (PGT-A).

Menurut dr Benediktus Arifin MPH SpOG FICS, program bayi tabung belum seutuhnya memberikan kehamilan terbaik. Beberapa penyakit seperti talasemia, diabetes melitus, kelainan jantung bawaan, atau perlambatan mental masih bisa terjadi pada embrio. Apalagi sebagian besar yang mengikuti program bayi tabung adalah pasangan yang salah satu atau keduanya bermasalah.



”Masalah itu bermacam-macam. Bisa berupa saluran telur tidak berfungsi dengan baik, jumlah sperma sangat sedikit, gerakan sperma lambat, dan lain-lain,” ujarnya kemarin (1/9). Kelainan kromosom embrio merupakan penyebab terbesar kegagalan program bayi tabung. Yakni, sekitar 80 persen. Embrio yang mempunyai kelainan kromosom (aneuploidy) tidak dapat berkembang dengan normal. Umumnya akan terjadi kegagalan

Karena itu, PGT-A dibutuhkan. ”PGT-A adalah tes untuk memeriksa jumlah kromosom embrio sebelum ditransfer pada program bayi tabung,” ucap dr Amang Surya P SpOG F-MAS di talkshow PGT-A yang diadakan Morula IVF Surabaya kemarin. Dengan begitu, hanya embrio dengan jumlah kromosom normal yang ditanamkan kembali ke dalam rahim. ”Dengan PGT-A, keberhasilan program bayi tabung menjadi lebih dari 90 persen,” paparnya.

Menurut dia, PGT-A tidak bisa dilakukan pada pembuahan normal. Ketika skrining tersebut dilakukan, embrio dari proses bayi tabung akan dibiopsi. Diambil 2–5 sel untuk dianalisis secara genetik. ”Lalu, akan diketahui embrio tersebut normal atau tidak melalui metode next generation sequencing (NGS),” ucap Amang setelah launching PGT-A di National Hospital kemarin. Kelebihannya, tingkat akurat dan tingkat ketepatannya tinggi.

Selanjutnya, embrio tersebut dapat ditentukan mana yang akan ditransfer ke rahim. ”Embrio dengan jumlah kromosom 46 atau 23 pasang yang direkomendasikan untuk ditransfer,” ungkap dr Ali Mahmud SpOG (K) FER. Dengan begitu, peluang keberhasilan bayi tabung dapat ditingkatkan. Risiko terjadinya penyakit genetik embrio juga akan berkurang.

Sementara itu, menurut Prof Boediono PhD, ahli embrio dari Morula IVF Indonesia, bayi tabung dengan kehamilan normal tak ada bedanya dalam hal menjaga tumbuh kembangnya. ”Sama-sama butuh nutrisi dan olahraga yang cukup. Jangan mentang-mentang bayi tabung, lalu hanya duduk-duduk di rumah saja,” tuturnya. Dia memberikan saran untuk selalu memeriksakan kehamilan. Dua minggu sekali periksa, sampai minggu kesepuluh. Setelah itu, kontrol dilakukan empat minggu sekali.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Penderita ISPA di Daerah Terdampak Karhutla Terus Bertambah - Gudang Berita Viral Penderita ISPA di Daerah Terdampak Karhutla Terus Bertambah
Senin, 23 Sep 2019, 12:00:12 WIB, Dibaca : 1 Kali
Aneh Tapi Begitu Adanya, Pohon Kelapa di Tengah Jalan Setapak Baru - Gudang Berita Viral Aneh Tapi Begitu Adanya, Pohon Kelapa di Tengah Jalan Setapak Baru
Senin, 23 Sep 2019, 12:00:12 WIB, Dibaca : 1 Kali
Kemenhub Bangun Sarana Transportasi di Objek Superprioritas - Gudang Berita Viral Kemenhub Bangun Sarana Transportasi di Objek Superprioritas
Senin, 23 Sep 2019, 12:00:12 WIB, Dibaca : 1 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print