Senin, 26 Agustus 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Kamis, 08 Agu 2019, 16:00:02 WIB, 1 View Tim Redaksi, Kategori : News
 KPK Periksa Pejabat Bea Cukai Terkait Kapal Cepat  - Gudang Berita Viral

gudangberitaviral.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap Direktur Keberatan Banding dan Peraturan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Rahmat Subagio, Kamis (8/8/2019).

Rahmat bakal diperiksa terkait kasus dugaan korupsi pengadaan kapal patroli di Ditjen Bea dan Cukai serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka IPR (Istadi Prahastanto)," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Kamis (8/8/2019).



Selain Rahmat, penyidik juga memanggil lima saksi lainnya. Mereka yakni Kakanwil Ditjen BC Jawa Tengah dan DIY Untung Basuki; Kakanwil Ditjen BC Kalimantan Bagian Barat; Azhar Rasidi, Kakanwil Ditjen BC Riau, Iya Rubianto serta dua staf di Ditjen Bea-Cukai Andik Agus Utomo dan Suratman.

Sebelumnya KPK menetapkan empat tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan kapal patroli di Ditjen Bea dan Cukai dan KKP. Keempat orang itu yakni Direktur Utama PT Daya Radar Utama (PT DRU), Amir Gunawan; pejabat pembuat komitmen (PPK) Bea dan Cukai, Istadi Prahastanto; Ketua Panitia Lelang, Heru Sumarwanto; dan Aris Rustandi selaku PPK KKP.

Istadi, Amir dan Heru diduga melakukan sejumlah perbuatan melawan hukum dalam proses pengadaan hingga pelaksanaan pekerjaan pengadaan 16 kapal patroli cepat (Fast Patrol Boat/FCB) di Ditjen Bea dan Cukai. Salah satunya, mengarahkan panitia lelang agar memilih PT DRU untuk menggarap proyek tahun jamak 2013-2015 senilai Rp1,12 triliun tersebut.

Namun setelah dilakukan uji coba, kecepatan dan sertifikasi dual-class 16 kapal patroli itu tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan di kontrak. Meski tidak sesuai, pihak Ditjen Bea dan Cukai tetap menerima dan menindaklanjuti pembayaran.

Selama proses pengadaan Istadi dan kawan-kawan menerima 7.000 Euro sebagai sole agent mesin yang dipakai oleh 16 kapal patroli cepat tersebut. Dugaan kerugian negara dalam perkara ini mencapai Rp117.736.941.127.

Kemudian pada perkara berikutnya, Amir dan Aris diduga melakukan cawe-cawe dalam penandatangan kontrak kerja pengadaan 4 unit kapal 60 meter untuk Sistem Kapal Inspeksi Perikanan (SKIPI) pada Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP. Nilai kontrak proyek ini USD58.307.789.

Aris diketahui membayar seluruh termin pembayaran proyek pengadaan empat kapal SKIPI kepada PT DRU senilai USD58.307.788 atau setara Rp744.089.959.059. Padahal, biaya pembangunan empat kapal itu hanya Rp446.267.570.055.

Tak hanya itu, KPK mensinyalir terdapat sejumlah perbuatan melawan hukum lain dalam proses pengadaan. Di antaranya, belum adanya Engineering Estimate, persekongkolan dalam tender, dokumen yang tidak benar dan sejumlah PMH lainnya.

Empat kapal SKIPI itu juga diduga tidak sesuai spesifikasi yang diisyaratkan dan dibutuhkan, misalnya kecepatan tidak mencapai syarat yang ditentukan, kekurangan panjang kapal sekitar 26 cm, markup volume plat baja dan aluminium serta kekurangan perlengkapan kapal lain. Kerugian negara dari kasus ini mencapai Rp61.540.127.782. [rok]




Sumber: inilah.com

Tag: News



 BPJS Dibantu China,Luhut Sebut Hanya Sebatas Saran  - Gudang Berita Viral BPJS Dibantu China,Luhut Sebut Hanya Sebatas Saran
Senin, 26 Agu 2019, 03:00:05 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Pep: Silva Pemain Terbaik Yang Pernah Saya Lihat  - Gudang Berita Viral Pep: Silva Pemain Terbaik Yang Pernah Saya Lihat
Senin, 26 Agu 2019, 03:00:04 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Pemprov Jabar Kirim Lima Ulama Dakwah ke Inggris  - Gudang Berita Viral Pemprov Jabar Kirim Lima Ulama Dakwah ke Inggris
Senin, 26 Agu 2019, 03:00:02 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print