Selasa, 17 September 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Rabu, 04 Sep 2019, 21:00:07 WIB, 1 View Tim Redaksi, Kategori : News
Komunitas CTEV Surabaya, Grup yang Menyatukan Ortu Pasien Kaki Bengkok - Gudang Berita Viral

BANYAK orang tua yang tidak tahu harus ke mana saat mengetahui buah hatinya mengidap congenital talipes equinovarus (CTEV) atau kaki bengkok. Tidak sedikit yang down, lantas terpuruk ketika takdir yang tengah dijalani itu mesti ditambah penghakiman dari lingkungan sekitar.

NURUL KOMARIYAH, Surabaya



Buntu harus ke mana. Tidak tahu harus bagaimana. Bingung harus bertemu serta bercerita kepada siapa. Itulah yang hampir selalu dirasakan orang tua anak dengan CTEV. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan kuat yang mendorong terbentuknya Komunitas CTEV Surabaya. Usia komunitas itu sendiri baru setahun sejak diinisiasi Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) pada Agustus 2018.

’’Awal mulanya karena banyak ibu yang merasa sendirian. Mereka merasa ’anakku tok ta, Dok yang kayak gini? Kok kayaknya anak-anak lain tidak begini?’ Padahal, mereka tidak sendiri. Banyak juga orang tua yang anaknya kena CTEV,’’ ujar dr Anggita Dewi SpOT yang turut menggagas komunitas itu. Dia lantas mengenalkan satu per satu orang tua tersebut hingga menjadi dekat. Kemudian, dibuatlah grup WhatsApp. Di dalamnya tidak hanya ada orang tua pasien Tetapi juga dokter orthopedic pediatric, dokter rehab medik, hingga customer care RS. Saat ini anggotanya berjumlah 37 orang. Awalnya, grup itu lebih berfungsi untuk memudahkan koordinasi jadwal kontrol. Lama-kelamaan banyak tip dan info seputar CTEV yang saling dibagikan. Termasuk Anggi yang rajin berkoar-koar di grup. Tujuannya, mengingatkan orang tua agar tidak lupa melakukan stretching pada anaknya.

Pertanyaan seputar kegelisahan orang tua pun kerap digulirkan di grup tersebut dan dijawab langsung oleh dokter. Misalnya, kekhawatiran orang tua mengenai bentuk kaki anaknya yang tidak sama antara kanan dan kiri. Mereka diberi penjelasan bahwa kondisi itu tidak akan mengganggu fungsi kaki. ’’Apa-apa yang ditanyakan orang tua di grup tersebut kami jawab,’’ tambahnya.

Lambat laun, grup itu berkembang lebih luas menjadi komunitas. Nayla Rozan, salah seorang anggota, mengungkapkan bahwa dirinya termasuk beruntung bisa menjadi bagian dari komunitas itu. Keluhan apa pun yang disampaikan dipantau dan direspons dengan cepat. ’’Kalau ada member baru, seringnya dalam kondisi kebingungan anaknya mesti diapakan. Kami yang lebih dulu punya pengalaman memiliki anak dengan CTEV membantu menguatkan saat down seperti itu,’’ ungkapnya.

Dalam komunitas tersebut, semangat orang tua dibangkitkan sekaligus diajak menjadi sebuah tim yang solid bersama tenaga medis untuk sama-sama mengusahakan segala upaya terbaik demi si buah hati. Bisa berjalan kembali dan menapak tanah dengan menggunakan kedua kaki. Hal itu memang butuh perjuangan panjang. Mesti sabar dan ekstratelaten. Belum lagi saat harus menghadapi penghakiman dari lingkungan sekitar.

Misalnya, yang pernah dirasakan Clora Tri Juli Nugraheni, anggota komunitas yang lain. ’’Saat melahirkan anak CTEV, shock. Karena sebelumnya saat USG hanya dibilangin bahwa kakinya melintang. Ada saja orang yang tanya, apa saya atau suami dulu pernah mbunuh hewan sehingga punya anak kakinya bengkok,’’ ungkapnya. Penghakiman semacam itu memang masih berlaku sampai sekarang.

Sebagai dokter, Anggita tidak tinggal diam. Dia kerap menjelaskan pada orang tua bahwa kondisi itu bukan salah mereka. CTEV bisa terjadi pada siapa pun jika dilihat dari sudut keilmuan. Misalnya, ketika hamil janinnya besar, tetapi kandungannya kecil. Selain itu, bumil mengandung anak kembar sehingga ruangannya sempit.

Dalam komunitas tersebut, para anggota juga dibantu mendapatkan kontrol dan pengobatan gratis. Termasuk pemasangan gips kali pertama hingga pemberian Dennis Brown Splint, sepatu khusus CTEV. Juga, tindakan operasi tenotomi pada kasus atau indikasi tertentu.

Semua bisa terwujud dari penggalangan dana oleh pihak RSOT. Bahkan, jauh sebelum ada grup WhatsApp, terdapat sekumpulan donatur dari penjuru Indonesia yang berbaik hati menyumbang untuk kesembuhan anak-anak CTEV. Menurut Anggita, kenikmatan terbesar dari semua itu adalah melihat anak-anak bisa bermain bersama teman-temanya.

’’Itu bahagianya luar biasa. Bahagia seperti bisa melihat anakmu sendiri berjalan. Rasanya seperti ingin ngasih tahu semua orang bahwa anakmu akhirnya bisa jalan,’’ ungkap ibu satu anak tersebut. 




Sumber: jawapos.com

Tag: News



 Serangan ke Arab Saudi Naikkan Risiko Premium  - Gudang Berita Viral Serangan ke Arab Saudi Naikkan Risiko Premium
Selasa, 17 Sep 2019, 03:00:09 WIB, Dibaca : 1 Kali
 73 Calon Pegawai PLN Jalani Pembinaan Karakter  - Gudang Berita Viral 73 Calon Pegawai PLN Jalani Pembinaan Karakter
Selasa, 17 Sep 2019, 03:00:09 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Mane dan Salah Sudah Baikan  - Gudang Berita Viral Mane dan Salah Sudah Baikan
Selasa, 17 Sep 2019, 03:00:09 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print