Senin, 23 September 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Minggu, 08 Sep 2019, 21:00:06 WIB, 0 View Tim Redaksi, Kategori : News
Kiat Warga Mulyomukti Mengelola Kampung, Kebun Disirami Air Limbah - Gudang Berita Viral

DI kampung Mulyomukti, Pakal, aliran PDAM kerap mampet. Tanaman-tanaman layu karena tidak disiram. Warga pun menggagas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) mandiri. Yang diolah adalah limbah domestik dari warga sendiri.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya



Tidak ada yang berbeda dengan kawasan Mulyomukti RW 02, Babat Jerawat, Kecamatan Pakal. Sama seperti gang-gang pada umumnya. Terdapat gardu tingkat seluas 2 meter persegi. Lebar jalan kampung pun hanya sekitar 4 meter. Saat ada pengendara mobil yang berpapasan, satu di antaranya harus mengalah agar bisa melintas.

Namun, saat memasuki kampung, perbedaan itu baru terlihat. Di kampung tersebut banyak pengelolaan lingkungan secara mandiri. Mulai IPAL, kebun pembibitan, hingga rintisan energi terbarukan.

Baru 50 meter masuk ke kampung, terlihat pipa ukuran 3/4 dim. Pipa tersebut dipasang menjalar di sisi kanan dan kiri jalan kampung. Pipa itu terhubung dengan tandon.

Pipa-pipa tersebut berada di atas atap Balai RW 02. Jaraknya sekitar 5 meter dari permukaan tanah. Dilihat sekilas, pipa itu tak ubahnya tempat penampungan air PDAM. Terlebih ketika keran tersebut dibuka. Air jernih tidak berbau itu mengucur deras Ya, air tersebut bersumber dari limbah rumah tangga di utara gedung Balai RW 02.

Air limbah warga yang diolah itu bersumber dari selokan sepanjang 200 meter. Air tersebut lantas disedot sebuah pompa air berukuran besar untuk dimasukkan ke tandon. Air kotor itu lalu diproses.

Awalnya, pipa tempat menarik air dikelilingi beberapa beton berbentuk bulat. Fungsinya menghalangi sampah di selokan agar tidak masuk ke pipa. Ukuran pipa yang menyedot sumber limbah lebih besar. Sekitar 4 dim. Selain itu, terdapat puluhan lubang kecil di bagian bawahnya. Bagian dalamnya tidak dibiarkan begitu saja. Warga memberikan ijuk, sirtu, dan spons untuk memfilter air.

Setelah itu, air diangkat ke sebuah tandon dengan menggunakan mesin pompa. Pada penampungan tandon pertama, limbah tersebut juga kembali difilter. Caranya, tempat penampungan air itu diberi beberapa bahan seperti pasir, batu, dan serabut kelapa. ’’Setelah itu kan air mengendap di bawah,’’ ucap Ketua RW 02 sekaligus penggagas Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Khoirul Huda kemarin (7/9).

Yang pasti, ada beberapa instalasi untuk memproses limbah rumah tangga hingga menghasilkan air yang jernih. IPAL milik warga Mulyomukti tersebut dibangun sejak 2,5 tahun lalu.

Pembuatan IPAL bukan tanpa alasan. Air di kawasan permukiman tersebut kerap mampet. Warga pun harus mengeluarkan uang untuk membeli air buat menyirami tanaman. Jika tidak begitu, tanaman warga kering.

Dengan modal bantuan tandon dari Kapolsek Pakal saat itu, warga berinisiatif membuat IPAL. Kini, untuk memanfaatkan IPAL, warga tidak perlu repot. Di kampung itu terpasang banyak keran. Jika ingin menyiram tanaman, warga tinggal memutar keran. ’’Keran air kami tempatkan di area tanaman warga,’’ ucapnya.

Kini tidak ada lagi cerita tanaman layu karena kekurangan air. Sebab, warga bisa mencukupinya sendiri. Tidak hanya fokus pada IPAL. Warga Mulyomukti juga punya gagasan lain.

Mereka memanfaatkan tanah seluas 200 meter persegi untuk pembibitan. Warga setempat menamakannya Wahana Edukasi Lingkungan Surabaya atau disebut (WELI’S). Di sana terdapat berbagai macam tanaman. Baik tanaman hias, produktif, maupun tanaman obat keluarga.

Selain itu, di kawasan tersebut dilakukan pembibitan tanaman hias untuk memasok taman di Surabaya. Biasanya, dinas kebersihan dan ruang terbuka hijau (DKRTH) membeli bibit tanaman hias. Di antaranya, bugenvil, pucuk merah, melati jepang, dan bunga lee kuan yew. Berada di tengah WELI’S serasa berada di kebun. Cuaca panas Surabaya Barat tidak begitu terasa. Padahal, siang itu cuacanya sedang terik.

Pembuatan kebun WELI’S tidak mudah. Awalnya, kondisi lahan sangat kumuh. Rumput dan semak belukar tumbuh subur. Apalagi, area tersebut berada di kawasan milik PT KAI. ’’Kami menatanya pelan-pelan,’’ kata Huda.

Sampah rumah tangga di Mulyomukti RW 02 tidak sekadar dimanfaatkan menjadi pupuk. Tetapi juga sebagai energi alternatif baru berupa briket untuk pengganti bahan bakar gas buat memasak. ’’Ini bisanya dari daun-daun yang sudah kering,’’ ucapnya.

Daun dibakar hingga menjadi abu. Dengan alat khusus, abu kemudian di-press dan dikeringkan. Setelah itu, abu tersebut baru bisa dimanfaatkan untuk memasak. (*/c15/git)




Sumber: jawapos.com

Tag: News



 Atasi Lahan Kritis, KLHK Punya KBR untuk Perbaikan  - Gudang Berita Viral Atasi Lahan Kritis, KLHK Punya KBR untuk Perbaikan
Senin, 23 Sep 2019, 01:00:07 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Timnas U-16 Lolos Sebagai Runner-up Terbaik  - Gudang Berita Viral Timnas U-16 Lolos Sebagai Runner-up Terbaik
Senin, 23 Sep 2019, 01:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Jokowi Diminta Terbitkan Perppu Selamatkan KPK  - Gudang Berita Viral Jokowi Diminta Terbitkan Perppu Selamatkan KPK
Senin, 23 Sep 2019, 01:00:03 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print