Selasa, 17 September 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Minggu, 01 Sep 2019, 15:00:05 WIB, 1 View Tim Redaksi, Kategori : News
“Kekerasan” dalam Sepak Bola - Gudang Berita Viral

SEJATINYA sepak bola itu bukan olahraga keras. Melainkan olahraga indah. Siapa yang tidak terhibur kala menyaksikan gaya total football? Gaya permainan atraktif yang identik dengan timnas Belanda. Dianggap paling menghibur penonton. Beda lagi dengan gaya permainan tiki-taka.

Berkat permainan dengan umpan-umpan pendek merapat (tiga pemain membentuk segi tiga) itu, Spanyol sukses menjuarai Piala Eropa dan Piala Dunia.



Bukan hanya gaya permainan. Masih dari atas lapangan sepak bola, kita juga mengenal istilah tackling. Meski menjurus ke tindakan keras dan kasar, tackling masih dianggap sebagai seni. Namun, harus diakui, seni merebut bola itu tidak mudah dipraktikkan. Dibutuhkan tiga syarat: timing (ketepatan), power (kekuatan), dan confidence (kepercayaan diri). Dan, pemain yang melakukannya harus punya satu niat: merebut bola, bukan mengincar kaki lawan.

Sejumlah bek dan gelandang bertahan top dunia sangat lihai melakukan sliding tackle. Sebut saja Carlos Puyol dan Sergio Ramos (Spanyol), Leonardo Bonucci (Italia), dan Javier Mascherano (Argentina). Mereka mampu melakukan sliding tackle dengan bersih. Yakni, dengan cara menjatuhkan diri untuk mengganggu keseimbangan pemain yang diincar. Terutama pemain yang memiliki kemampuan penguasaan bola dan akselerasi tinggi.

Kondisi bertolak belakang terjadi di luar lapangan hijau. Suasananya sangat keras dan kasar. Terutama di kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia.

Putaran pertama Liga 1 belum tuntas, enam pelatih klub kontestan dipecat. Mereka adalah Miljan Radovic (Persib Bandung), Luciano Leandro (Persipura Jayapura), Jafri Sastra (PSIS Semarang), Jan Saragih (Badak Lampung), Syafrianto Rusli (Semen Padang), dan Djadjang Nurdjaman (Persebaya Surabaya). Sedangkan empat pelatih memilih mundur: Jacksen F. Tiago (Barito Putera), Aji Santoso (Persela Lamongan), Angel Alfredo Vera (Bhayangkara FC), dan Dejan Antonic (Madura United).

Beban berat dipikul para pelatih liga. Mereka menghadapi dua tuntutan sekaligus. Dari manajemen klub dan suporter. Bagi manajemen, prestasi merupakan harga mati. Terutama klub yang mengimani “agama” football is result.

Alasannya sederhana: sepak bola tanah air sekarang sudah menjadi industri. Prestasi yang mentereng bisa menambah pundi-pundi keuangan klub. Sponsor akan berebut memasang logonya di jersey tim.

Sebaliknya, sponsor akan ngacir ketika tim yang disponsorinya tampil melempem. Kalahan. Tekanan lebih keras datang dari suporter. Bagi mereka, kemenangan adalah gengsi.

Mereka menuntut timnya selalu tampil apik. Tidak boleh kalah. Wa bil-khusus, saat tampil di kandang (home). Menang hukumnya wajib. Seri sunah. Dan kalah haram. Ketika harapan suporter tidak maujud, pelatih harus siap-siap menjadi sasaran pelampiasan kekecewaan. Kerasnya sepak bola juga menguar jauh dari stadion. Yakni, dari dalam kotak kaca bernama televisi. Ketika pembawa acara dan komentator menyiarkan sebuah pertandingan sepak bola secara live, telinga pemirsa diteror dengan diksi-diksi yang kasar dan menakutkan.

Pembaca acara dan komentator menjadikan pertandingan sepak bola bak medan pertempuran. Ketika timnas Indonesia terus-menerus menyerang pertahanan tim lawan, si komentator dan pembawa acara memilih istilah “membombardir”. Mereka pun menjuluki penyerang (striker) yang melakukan penyerangan sebagai “bomber“. Di lain kesempatan, mereka menggunakan kata “menggempur” pertahanan lawan.

Kerasnya sepak bola juga tergambar di atas media cetak. Beberapa waktu lalu, sejumlah media menggunakan kalimat “Timnas Indonesia siap tempur melawan Myanmar”. Kalimat itu menjadi judul dan isi berita menjelang pertandingan Piala AFF U-18 2019 antara Indonesia versus Myanmar.

Tidak berhenti di situ. Ketika sebuah tim baru bisa memenangi pertandingan di detik-detik terakhir (injury time), komentator, pembawa acara, dan media kompak menggunakan istilah “killing the game“.

Seperti yang dilakukan Hanif Sjahbandi dalam pertandingan sepak bola Asian Games 2018 di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi. Hanif yang masuk lapangan pada menit-menit akhir menggantikan Beto Goncalves berhasil “menjebol” gawang Hongkong pada menit ke-90+3.

Media dan komentator lebih sreg menggunakan diksi “menjebol”, “merobek”, dan “mengoyak” jala gawang lawan. “Memasukkan” bola ke gawang lawan dirasa kurang bisa memberikan sensasi.

Terutama bagi penonton yang menyaksikan pertandingan lewat layar televisi. Pun, frasa “memasukkan bola” ke gawang sendiri bisa membuat penonton ngantuk. Makanya, melakukan “gol bunuh diri” lebih sering dipakai media dan komentator -meski kedengarannya sangat kasar dan terasa ada unsur ngeri-ngerinya. (*)




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Ayo ke Bali! Fenomena Tanpa Bayangan Bakal Terjadi Oktober Depan - Gudang Berita Viral Ayo ke Bali! Fenomena Tanpa Bayangan Bakal Terjadi Oktober Depan
Selasa, 17 Sep 2019, 10:00:11 WIB, Dibaca : 0 Kali
Polri Bongkar Pabrik Rumahan Mi Mengandung Formalin dan Boraks - Gudang Berita Viral Polri Bongkar Pabrik Rumahan Mi Mengandung Formalin dan Boraks
Selasa, 17 Sep 2019, 10:00:11 WIB, Dibaca : 0 Kali
Petualangan Raja Gendam Berakhir di Pasar Sanglah Denpasar - Gudang Berita Viral Petualangan Raja Gendam Berakhir di Pasar Sanglah Denpasar
Selasa, 17 Sep 2019, 10:00:11 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print