Kamis, 22 Agustus 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Selasa, 06 Agu 2019, 19:00:09 WIB, 3 View Tim Redaksi, Kategori : News
Jurnalisme Profetik Husnun N. Djuraid - Gudang Berita Viral

HUSNUN N. Djuraid (wafat 4 Agustus 2019 dalam usia 60 tahun) adalah wartawan yang menjalani ’’laku jurnalisme’’. Laku adalah terminologi Jawa untuk seseorang yang sedang menempuh jalan pengekangan diri (self-restraint) untuk mencapai tujuan-tujuan spiritualitas. Dalam hal laku jurnalisme, sang jurnalis mempunyai tujuan transendental, ukhrawiah melalui laku.

Bagi Husnun, jurnalisme bukan sekadar profesi untuk memperjuangkan idealisme atau demokrasi yang bersifat profan. Jurnalisme bagi Husnun menjadi sarana untuk mencapai tujuan-tujuan transendental, ukhrawiah.



Dalam tulisan-tulisannya yang tersebar di banyak media, laku transendental Husnun sangatlah kental. Dia memakai jurnalisme sebagai sarana memenuhi kewajiban kemanusiaannya untuk menjalankan amar makruf nahi mungkar, mengajak kepada kebaikan, mencegah keburukan.

Jurnalisme dalam praktik Husnun adalah jurnalisme profetik yang bersifat kenabian dengan menerapkan empat strategi dakwah kenabian tablig (komunikatif), amanah (trustworthy, tepercaya), fatanah (cerdas), dan sidiq (membawa kebenaran).

Di Amerika Serikat (AS), wartawan menjalankan tugasnya untuk memenuhi hak masyarakat untuk tahu people’s right to know, sebagai bagian dari proses demokrasi. Wartawan AS (dan Eropa) menjalankan profesinya sebagai bagian dari pengamalan hak konstitusi, terutama First Amendment dalam konstitusi AS, yaitu memenuhi hak publik untuk mendapatkan kebebasan berekspresi dan memperoleh berita.

Jurnalis dan media di Barat merupakan bagian dari the fourth pillar of democracy, pilar keempat demokrasi dalam sistem Trias Politika Montesquieu untuk memastikan terjadinya check and balance antara tiga pilar: eksekutif, legislatif, dan judikatif. Media menjadi watch dog alias anjing penjaga untuk menggonggongi penyimpangan kekuasaan, abuse of power, dari tiga lembaga itu.

Dalam hal ini, tujuan jurnalisme Barat adalah profan, duniawi semata karena hanya didasari pandangan materialisme dan rasionalitas.

Janet E. Steele, profesor jurnalistik dari George Washington University, melakukan penelitian paralel di tiga negara: AS, Malaysia, dan Indonesia, yang melibatkan wawancara mendalam dengan puluhan wartawan dan studi kepustakaan yang ekstensif. Hasilnya dituangkan dalam buku Mediating Islam; Cosmopolitan Journalism in Muslim South East Asia. Dia menyimpulkan bahwa jurnalis Barat mempunyai tujuan yang profan, sedangkan jurnalis Indonesia dan Malaysia umumnya mempunyai tujuan transendental, ukhrawiah.

Steele menemukan bahwa motivasi jurnalis AS yang paling utama adalah pemenuhan dan pelaksanaan hak-hak demokrasi. Sedangkan wartawan muslim di Indonesia dan Malaysia menemukan motivasinya untuk menjalankan peran utama sebagai umat terbaik ’’khairu ummat’’ dan menerapkan amar makruf nahi mungkar.

Di Indonesia, Steele melakukan penelitian terhadap tiga media: Majalah Sabili, Republika, dan Tempo. Tiga objek penelitian itu dipilih untuk mewakili ’’tiga media Islam’’ dalam kuadran yang berbeda. Sabili pada masa terbitnya sejak awal reformasi sampai 2013 mewakili suara Islam skripturalis. Republika bersama Tempo oleh Steele digolongkan dalam media yang memperjuangkan Islam kosmopolitan yang lebih mondial, moderat, serta modern (orang-orang Tempo tidak sepakat dengan penggolongan ini).

Meski memperjuangkan mazhab Islam yang berbeda, para jurnalis sama-sama dimotivasi spirit amar makruf nahi mungkar dan dorongan untuk menyampaikan kebenaran meski hanya satu ayat (ballighu ’anni walau ayatan). Sabili melakukannya dengan tujuan penerapan syariah dalam bernegara, sedangkan Republika dan Tempo ingin menciptakan masyarakat madani yang Islami, Islam rahmatan lil alamin.

Parni Hadi, mantan pemimpin redaksi Republika, menyebutnya sebagai ’’Jurnalisme Profetik’’ (2014), jurnalisme kenabian yang dijiwai spirit dakwah Nabi Muhammad SAW, yaitu tablig, sidiq, fatanah, dan amanah.

Dalam hal menjalankan etika jurnalistik, Steele menyebut jurnalis muslim Indonesia didasari konsep tabayun, check and recheck, disiplin verifikasi, dari QS 49:6, tidak melakukan fitnah dan berita insinuatif QS 49: 11-12. Pasal-pasal dalam kode etik jurnalistik memperoleh legitimasi profetik dari ajaran qur’ani.

Husnun menjalani jurnalisme profetik sebagai bagian dari kewajiban keimanan yang dia lakukan 24 jam dalam hidupnya. Husnun tidak hanya berdakwah melalui laku jurnalisme, tapi sekaligus laku pribadi. Dia adalah jurnalis yang dalam terminologi Gramsci masuk dalam kategori ’’jurnalis organik’’ yang menjadikan laku jurnalisme sebagai laku moral-agama selama 24 jam.

Pada sepertiga malam, Husnun memanfaatkan platfrom aplikasi WhatsApp untuk mendakwahkan salat malam. Pada malam-malam Senin dan Kamis, Husnun mendakwahkan puasa sunah. Pada pagi hari saat matahari naik, Husnun mendakwahkan salat Duha.

Husnun konsisten memegang etika jurnalisme yang didasari kode etik jurnalistik dan spirit qur’ani. Husnun tidak menulis fitnah dan insinuasi, apalagi hoax karena kesadaran qur’ani.

Di tengah tsunami informasi, banjir hoax, serta degradasi profesi jurnalis, kepergian Husnun adalah sebuah kehilangan yang menyesak dada. (*)

*) Dosen Stikosa-AWS Surabaya




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Defisit Membengkak, BPJS Kesehatan akan Naikkan Iuran - Gudang Berita Viral Defisit Membengkak, BPJS Kesehatan akan Naikkan Iuran
Kamis, 22 Agu 2019, 12:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
Teknologi 5G Mudahkan Banyak Hal, Kampanye Pilpres 2024 Pakai Hologram - Gudang Berita Viral Teknologi 5G Mudahkan Banyak Hal, Kampanye Pilpres 2024 Pakai Hologram
Kamis, 22 Agu 2019, 12:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
Warkop DKI Reborn 3 Usung Konsep Dono Kasino Indro Versi Milenial - Gudang Berita Viral Warkop DKI Reborn 3 Usung Konsep Dono Kasino Indro Versi Milenial
Kamis, 22 Agu 2019, 12:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print