Minggu, 20 Oktober 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Rabu, 09 Okt 2019, 13:00:11 WIB, 6 View Tim Redaksi, Kategori : News
Joker Adalah Kita - Gudang Berita Viral

BELAKANGAN ini, beranda lini masa dipenuhi meme tentang Joker. Juga, deskripsi singkat tentang Joker yang begitu populer: ’’Orang jahat adalah orang baik yang disakiti’’.

Disitir, dan kadang dipelintir dengan meme lucu penuh sindiran politik seperti: ’’Pak Wiranto dulu siapa yang nyakiti ya?’’



Itu menunjukkan kekuatan film paling anyar supervillain besutan Todd Philips yang baru dirilis, Joker. Ia bahkan mencapai rating 9,7 dalam situs pemeringkat film besar, IMDb. Sebuah rating yang bukan main-main. Review tentang film itu bahkan bertebaran, juga analisis-analisis mengenainya. Bahkan, tak sedikit yang mengaitkan diri dan meromantisasi diri serta menganggap Joker adalah dirinya. Melakukan identifikasi.

Tentu saja, ada banyak faktor di balik semua itu. Mulai minimnya plot-hole hingga akting Joaquin Phoenix yang memerankan Arthur Fleck (nama asli Joker) dengan begitu luar biasa. Namun, saya melihat setidaknya ada satu hal yang paling penting. Soal waktu perilisan. Cerita film itu sangat pas dengan kondisi masyarakat sekarang.

Sedikit spoiler, karakter Joker dalam film Todd Philips tersebut memang agak berbeda jika dibandingkan dengan dua karakter yang dipandang sukses dimainkan. Yang pertama adalah Joker dalam film Batman (1989) yang diperankan Jack Nicholson dan Joker dalam film Dark Knight (2008) yang dimainkan Heath Ledger.

Jack Nicholson sukses memerankan sosok Joker pembunuh berdarah dingin yang hanya menginginkan brutalitas dan total chaos di balik gestur badut lucunya. Sedangkan Heath Ledger memainkan karakter Joker sebagai sosok teroris anarkisme yang menginginkan hidup tanpa aturan. Untuk itu, dia bahkan merampok uang yang sangat banyak dari mafia-mafia yang ditaklukkannya.

Lalu, di hadapan mafia (yang greedy), Joker dengan santai membakar tumpukan uang tersebut. Ketika salah seorang mafia bertanya, ’’Kenapa (sudah susah-susah merampok, lalu dibakar uangnya)?’’, Joker tak menanggapinya. Setelah membunuh mafia itu, dia berkata santai: ’’Kota ini butuh penjahat yang lebih baik.’’

Tapi, kedua sosok Joker yang dimainkan dua aktor jempolan itu menunjukkan Joker yang sudah jadi. Yang sudah bertiwikrama menjadi supervillain. Sedangkan Joker yang dimainkan Joaquin Phoenix adalah Joker-in-the-making. Bagaimana sosok Arthur Fleck berubah menjadi monster yang menginginkan kekerasan dan kebrutalan belaka.

Dikisahkan, Arthur Fleck adalah seorang pria berusia 35 tahun ke atas sebagai sosok yang kalah. Diadopsi oleh seorang perempuan yang skizofrenia, selalu kalah dalam kehidupan, dipermalukan sebagai komika yang buruk di hadapan TV nasional, diputus jaminan kesehatannya untuk mendapatkan obat penenang, dan pada akhirnya, harapan satu-satunya untuk menjadi orang dibanting sedemikian keras oleh Thomas Wayne. Ya, ayah Bruce Wayne, sosok Batman yang kelak menjadi nemesis-nya.

Gambaran rasa frustrasi yang dialami banyak orang di antara kita sekarang. Harga kebutuhan yang selalu tak terkejar, BPJS Kesehatan yang ruwet dan berencana dinaikkan, hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi. Kesulitan ekonomi struktural. Yang tidak bisa diatasi dengan kita hanya menjadi lebih rajin belaka. Tapi, kesulitan yang didapat karena adanya ketidakadilan persaingan dalam industri sekarang. Yang sistem sekarang tak banyak menawarkan kesempatan kepada yang bukan siapa-siapa untuk memperbaiki hidupnya.

Makanya, ketika Joker membunuh tiga karyawan Thomas Wayne (representasi dari yang berkuasa) yang berusaha mem-bully seorang perempuan di sebuah trem, timbullah gelombang aksi demonstrasi di seluruh Gotham City. Massa kemudian mengidentikkan diri sebagai Joker, dan membuat kerusuhan di mana-mana serta menuntut penjungkirbalikan sistem dan melawan oligarki. Ya, kira-kira semacam pelesetan lagu Didi Kempot: Tak tandur pari, jebule sing tukul oligarkhi.

Sebuah cerita film yang jika dikaitkan dengan kondisi paling anyar negeri ini sangat relate sekali, kan? Di mana, banyak orang yang ikut ambil bagian dalam aksi menentang sejumlah RUU yang dianggap hanya menguntungkan oligarki dan elite politik.

Selain itu, identifikasi masyarakat sekarang mempunyai banyak teori yang membenarkannya. Paling terkenal tentu saja Thomas Hobbes. Dalam bukunya Leviathan, pemikir Inggris abad ke-16 itu menyebutkan bahwa pada dasarnya manusia itu bersifat buruk. Penuh kekerasan. Doi membuat istilah yang sangat terkenal: Homo homini lupus. Manusia adalah serigala bagi yang lainnya. Makanya, dibutuhkan sebuah instrumen untuk mengatur agar manusia tak saling bantai. Itulah cikal bakal negara.

Juga, belum lengkap rasanya tanpa melibatkan teori dari bapak psikologi modern, Sigmund Freud. Pak Freud ini menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya mempunyai id. Yakni, dorongan asali yang kerap barbar. Mulai seksual hingga kekerasan. Maka harus ada super ego (lingkungan masyarakat, norma, agama) untuk mengontrolnya.

Hasil pertentangan antara id dan super ego inilah, muncul yang namanya ego. Dua teori yang merujuk satu hal: bahwa pada dasarnya manusia itu barbar, tapi diperlukan satu instrumen untuk merepresinya.

Hal itu penting untuk menjaga ketertiban dan keberlangsungan hidup manusia. Namun, pada akhirnya, kadang kerap muncul ekses. Sebagaimana yang dialami Arthur Fleck. Ketika semua harapannya (menjadi orang normal) musnah, ketika dia merasa tak lagi percaya pada ketertiban yang dipandangnya palsu-palsu dan menguntungkan segelintir orang saja, dia lalu menciptakan dunia sendiri. Mengacungkan jari tengah ke segala aturan di luar dirinya sekaligus menggugat kemapanan.

’’I used to think my life was a tragedy, but now I realize it’s a comedy,’’ kata Fleck di hadapan siaran langsung TV nasional yang dipandu host yang pernah mempermalukan dirinya, Murray Franklin.

Dia kemudian mengaku bahwa dialah yang membunuh tiga orang di trem itu dan menjadi inspirasi kerusuhan di sana, sebelum menembak kepala Murray. Lalu menari-nari di depan kamera, seolah itu panggung. Adegan yang mengundang rasa iba, seram, dan menakutkan sekaligus.

Karena itulah banyak yang kemudian mengidentifikasikan dirinya sebagai Joker (tentunya di luar sifat sadisnya). Sebelum kemudian muncul meme bergambar Naruto: ’’Aku juga sering dijahati. Tapi, tetap saja aku menjadi orang baik. Dasar lemah iman!’’

Nah, lho… (*)




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Inspirasi Pakaian Hitam Putih dari Kate Middleton saat di Pakistan - Gudang Berita Viral Inspirasi Pakaian Hitam Putih dari Kate Middleton saat di Pakistan
Minggu, 20 Okt 2019, 12:00:08 WIB, Dibaca : 0 Kali
Umuh Mundur dari Calon Exco, Pilih Dukung Tommy Apriantono - Gudang Berita Viral Umuh Mundur dari Calon Exco, Pilih Dukung Tommy Apriantono
Minggu, 20 Okt 2019, 12:00:08 WIB, Dibaca : 0 Kali
Kirim Karangan Bunga, AHY Ucapkan Selamat dan Sukses Untuk Ma’ruf Amin - Gudang Berita Viral Kirim Karangan Bunga, AHY Ucapkan Selamat dan Sukses Untuk Ma’ruf Amin
Minggu, 20 Okt 2019, 12:00:08 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print