Sabtu, 24 Agustus 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Minggu, 04 Agu 2019, 17:00:08 WIB, 6 View Tim Redaksi, Kategori : News
Jadi, dari Mana Kesedihan (yang Bisa Dijogeti) Itu Berasal, Lord Didi? - Gudang Berita Viral

Kata Didi Kempot, dia dan karya-karyanya dibentuk oleh keteguhan berkesenian sang bapak, bakat warisan ibu, dan hari-hari yang dihabiskannya untuk ngamen, termasuk nikmatnya tertidur siang di sebuah pemakaman.

DIAR CANDRA, Probolinggo-KHAFIDULUL ULUM, Jakarta, Jawa Pos



DI malam-malam yang kian larut, ketika mata sulit memejam, hati siapa yang tak koyak saat “tansah kelingan sliramu”. Siapa pula yang tak langsung berharap jadi malaikat bersayap, setelah mendapati sebongkah kerinduan dalam selembar surat, seraya menggumam, “Cah ayu entenono tekaku.”.

Duh, “Lord” Didi Kempot, dari mana semua kenelangsaan karena “selalu ingat dia” dari Ketaman Asmoro itu kautuliskan? Ampuni kami, Lord, tapi dari mana semua kepedihan karena hanya bisa meminta kepada “cah ayu agar setia menunggu” dalam Layang Kangen itu bermula?

Juga ratusan kesedihan yang kaugoreskan dengan liris di lagu-lagumu lainnya. Kesedihan yang membikin siapa saja bisa ambyar. Tapi, anehnya, di saat yang sama juga menuntut untuk dirayakan. Untuk dijogeti.

Yang membuatmu sampai dijuluki The Godfather of Broken Heart. Sekaligus membuat para pemujamu memanggilmu Lord. Dan popularitasmu itu pun yang akhirnya membawamu melintasi berbagai demarkasi penikmat musik. Dari jomblowan-jomblowati di kamar-kamar kos, tuan dan nyonya gedongan kota-kota besar, sampai mereka yang bahkan tak mengerti bahasa Jawa.

Bisa jadi, katamu menjelang persiapan manggung di sebuah pertunjukan jazz di kawasan Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, akhir pekan lalu, semua itu bermula dari suatu malam di Balekambang, Solo. Saat kau dan kakakmu, Mamiek Prakoso (kini sudah almarhum), hampir setengah abad silam, diajak bapakmu yang seorang seniman ketoprak tobong Ranto Edi Gudel (almarhum) manggung.

Malam itu kau saksikan langsung kerasnya perjuangan bapakmu untuk menafkahi keluarga. Keluarga yang diajaknya berpindah-pindah kontrakan dan tempat kos. Yang kerap memboncengkanmu di sepeda pancal karena memang hanya itu kendaraan yang dia punya.

Malam itu bapakmu main jadi Petruk, lengkap dengan kostum dan riasan. “Saya ingat, beliau waktu itu bilang, iki bapak nggolekne duit kowe (Ini bapak mencarikan nafkah buat kamu, Red),” katamu.

Periode lara lapa bersama bapak itu, juga pengalaman hidup mbambung di Solo dan Jakarta sebagai pengamen, yang, katamu, membentukmu jadi seperti sekarang. Tak pernah tumbang oleh kesulitan. Malah “menertawainya” lewat lagu-lagumu.

Semacam semangat “modal bensin seliter montorku taksetater//Takampiri arep takjak muter-muter” dalam Cintaku Sekonyong-konyong Koder.

Bapak, katamu, memang tak pernah lupa menyelipkan guyonan sebagai penyemangat di sela-sela berbagai kebersahajaan hidup. “Bapak kalau ngguyoni anak-anaknya bilang, nek arep dadi seniman ojo wedi luwe (kalau mau jadi seniman jangan takut lapar, Red). Satu lagi, jangan mimpi kaya dulu,” katamu.

Dalam bukunya, Seni Pertunjukan Indonesia, RM Soedarsono menulis, seniman ketoprak (seperti juga Ranto Edi Gudel) yang besar pada era Orde Baru memang selalu punya cara meledek kebijakan pemerintah. Salah satunya dengan lawakan.

Pada era itu, pihak militer biasanya meneliti naskah ketoprak. Sutradara Ketoprak Korpri Universitas Gadjah Mada Suroto mengungkapkan, sistem sensor tersebut dilakukan agar tidak ada naskah yang dianggap berbau subversif. Dalam setiap pemanggungan, rata-rata grup ketoprak harus menyetor naskah ke koramil terdekat untuk diperiksa.

“Hanya bagian goro-goro atau lawakan yang tak bisa disensor militer. Karena bagian itu biasanya penuh dengan improvisasi dari si aktor,” jelas Suroto.

Dari semangat berkesenian bapakmu itu, kau jadi ingat, bagaimana selama ngamen di Jakarta, kau sebenarnya menyewa kos di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat. Tapi, di siang hari yang terik, kau lebih senang merebahkan diri di area pemakaman Kemanggisan. “Adem, enak, dan keramiknya anyep hehehe,” katamu.

Bakatmu menyanyi memang sudah terlihat sejak di bangku sekolah dasar. Beberapa kali kau memenangi lomba menyanyi. Tak seperti kakakmu yang tumbuh mewarisi keterampilan bapak sebagai pengocok perut, katamu, bakatmu menyanyi menurun dari bundamu, Umiyati. Meski, katamu melanjutkan, ibumu hanyalah penyanyi amatiran antarkampung.

“Keluarga Berencana Sudah Waktunya,” jawabmu tentang lagu yang kerap membuatmu menang lomba. Sebenarnya itu baris pertama Mars Keluarga Berencana yang populer pada 1970-an, tahun-tahun ketika kau menghabiskan masa kecil.

Radio dan televisi juga kauakui turut berperan dalam karirmu. Dari radio berkotak kayu merek Philips milik bapak, kau mendengar Koes Plus dan Waldjinah, juga Mus Mulyadi. “Radio itu biar suaranya seperti ada salon (speaker)-nya dimasukkan ke dalam gentong. Suaranya jadi nguuung,” ucap Didi. “Kalau TV ndak punya, kalau nonton TV harus neng omahe tetangga,” tambah Didi.

Lewat ngamen rutin di Solo, bakatmu kian terasah begitu kau menginjak masa remaja. Nama Kempot (yang “menggantikan” Prasetyo di belakang Didi) pun berasal dari Kelompok Pengamen Trotoar yang disingkat Kempot.

Dari mengamen pula, katamu, banyak lirikmu lahir. Stasiun Balapan salah satunya. Juga berbagai terminal dan pelabuhan yang kautulis dalam karya-karyamu. Tempat-tempat di mana terjadi pertemuan dan perpisahan. Begitu pula objek-objek wisata alam yang dalam bayanganmu selalu punya kenangan bagi mereka yang mabuk asmara.

Stasiun Balapan (1999) adalah album yang melambungkan namamu. Dua dekade yang lalu, album yang meluncur pascareformasi itu menjadi sasaran utama para pembajak untuk diedarkan.

Namun, kau tak pernah pusing dengan itu. “Aspek hukum sudah ada yang mikir sendiri. Wong podo golek pangane, mbok yo wis ben wae (Orang sama-sama cari makannya, ya sudah biarkan saja, Red),” tuturmu.

Kata Lestari Cempluk, penggiat seni asal Solo, itu memang ciri khas para seniman dari Kota Bengawan. Di zaman Ranto Edi Gudel, semua aktivitas seni di Solo itu bersifat komunal dan tanpa berpikir soal laba atau keuntungan.

“Karena semua seni kala itu tanpa embel-embel atas nama uang dan lain-lain. Jadi, seniman-seniman itu benar-benar menikmati proses lara lapa sebagai bagian penempaan diri,” papar Lestari.

Melambungnya dirimu saat ini, kata dosen Komunikasi Terapan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan ISI Solo Joko S. Gombloh, sebenarnya juga tak mengagetkan. Itu buah konsistensimu selama tiga dekade lebih.

Menurut Joko, karya-karyamu lebih pas dikategorikan sebagai pop Jawa. Kalau didefinisikan, pop Jawa adalah lagu yang bertema asmara dan disajikan dengan bahasa Jawa.

“Campursari saat ini menjadi maskot musik Jawa dan Didi Kempot ini secara formula berada di wilayah yang bertolak belakang dengan campursari pendahulunya seperti Ki Narto Sabdo, juga Manthous,” terang Joko.

Jika Narto Sabdo dan Manthous memakai bahasa Jawa kromo (halus) yang banyak pasemon atau kiasan dalam karya-karya mereka, kau, kata Joko, memilih menggunakan bahasa Jawa ngoko atau bahasa Jawa keseharian. Dan Cintaku Sekonyong-konyong Koder, bagi Joko, adalah karyamu yang paling brilian. Secara makna, kata “koder” tak akan ditemukan di dalam bahasa apa pun. “Koder ini lahir dari imajinasi penulis dan juga kegeniusan seniman menemukan kata tersebut,” ucap Joko.

Bagimu, koder itu untuk menggambarkan rasa cinta yang tidak keruan. Apa itu karena kau sering membikin patah hati perempuan? “Lho ora. Saya dipatahin dulu. Atiku sing diceklekne disik (hatiku yang dipatahkan dulu, Red). Kalau yang takpatahin hati, nggak tahu saya hehehe,” katamu.

Ah, untuk urusan segenting patah hati pun kau masih bisa tertawa. Jadi, bagaimana mungkin kami tak akan menjogeti lagu-lagu sedihmu, Lord Didi?

Nasi Lauk Tempe pun Ayo Saja

DIDI KEMPOT (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)

POPULARITAS Didi Kempot boleh terus melambung. Penghasilannya otomatis juga semakin mengalir. Tapi, tak ada yang berubah dari penyanyi yang dimatangkan dengan lewat mengamen itu.

“Kalau lapar, saya bisa makan di mana saja. Walau cuma warung nasi lauk tempe, nggak masalah,” kata Didi yang selalu mencari rawon atau nasi bebek tiap kali pentas di Jawa Timur itu.

Di Solo, kota tempat dia dilahirkan 52 tahun silam, dia juga punya warung hik (semacam warung angkringan) langganan di kawasan Kepatihan. “Enak nggo wedangan (enak buat tempat nongkrong sambil minum wedang (minuman hangat),” katanya.

Dia juga tak punya trik khusus menjaga suara. Santai menikmati minuman yang dilengkapi es batu. Dan, memasukkan gorengan sebagai makanan favoritnya.

Soal penggemar, ada banyak sebutan buat pendukung garis keras Didi. Mulai Sadboy dan Sadgirl, lalu Sobat Ambyar, sampai yang klasik: Kempoters.

Dan, lihatlah di tiap konsernya. Generasi milenial yang mendominasi. Generasi yang bahkan belum lahir ketika sebagian lagu Didi diciptakan.

Padahal, banyak dari mereka yang berada di barisan garis keras itu tak paham dengan bahasa Jawa, bahasa yang digunakan di hampir semua karya Didi. J.B. Adhi Nugroho, misalnya.

Sadboy dari Jagakarsa, Jakarta Selatan (ya, Jakarta Selatan yang literally, you know…), itu mengaku menggemari Didi sejak lima atau empat tahun belakangan. Pemicu awalnya adalah banyaknya kawan dia di Jakarta yang berasal dari Jogjakarta dan Solo.

“Lirik per lirik memang gue nggak seberapa paham. Tapi, kan ada beberapa kata yang bisa dipahami secara mudah. Misal, nelongso yang berarti nelangsa atau susah banget,” kata pria yang biasa dipanggil Jebe itu.

Jebe yang bekerja sebagai art director di sebuah rumah produksi film di Jakarta mengatakan, selain lirik yang bikin hati terkewer-kewer, garapan lagu Didi yang minor membuatnya makin merasakan patah hati itu sendiri.

“Coba deh dengerin Cidro pas lagi sendiri. Pasang earphone lu, resapi pas lirik aku nelongso mergo kebacut tresno (aku nelangsa karena telanjur cinta, Red),” ucap bapak satu anak tersebut.

Jebe mengaku sudah berkali-kali menghadiri pentas Didi di beberapa kota. Misalnya di Jogja, Solo, atau Jakarta. Pria 36 tahun itu tak sabar untuk menonton lagi di Jakarta jika benar Didi tampil di salah satu festival musik kekinian, Synchronize Festival 2019.

Lain lagi Prasetya Kurniawan. Kempoters dari Palembang, Sumatera Selatan, itu berkenalan dengan Didi malah lewat lagunya yang dikover penyanyi lain. Wawan -sapaan Prasetya Kurniawan- baru tahu belakangan bahwa lagu Suket Teki yang pernah dinyanyikan oleh Via Vallen itu aslinya lagu Didi.

“Lirik per lirik Suket Teki saya terjemahkan pakai Google. Karena memang saya tidak bisa berbahasa Jawa,” kata Wawan.

Pria yang bekerja di Seksi Pengolahan Balai Arsip Statis dan Tsunami Arsip Nasional Republik Indonesia itu sering mendengarkan Didi di sela waktu kerja. Memutar lagu Didi di YouTube atau Spotify saat libur salah satu bagian dari relaksasinya.

“Musik Didi unik, Mas. Liriknya sedih, tapi musiknya menghadirkan kebahagiaan. Jadi, seolah mengajak kita tetep bahagia walau sedang sedih,” ujar Wawan.

Didi sendiri mengaku merasa lucu tentang fenomena penggemarnya yang berasal dari generasi milenial. Menurut pria 52 tahun itu, lagu-lagu seperti Cidro dulu didengarkan oleh ibu generasi milenial. Kini seperti mewarisi kecintaan sang ibu pada musiknya, justru remaja-remaja itu memujanya.

“Tapi, saya malah bersyukur karena musik saya bisa diterima semua kalangan usia. Saya anggap adanya media sosial juga berkah buat saya,” ujar Didi.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Tiga Pantai Tulungagung Jadi Tempat Bertelur Penyu Lengkang dan Hijau - Gudang Berita Viral Tiga Pantai Tulungagung Jadi Tempat Bertelur Penyu Lengkang dan Hijau
Sabtu, 24 Agu 2019, 14:00:05 WIB, Dibaca : 0 Kali
Russell Crowe Anggap Laga Team USA vs Australia Adalah Lelucon - Gudang Berita Viral Russell Crowe Anggap Laga Team USA vs Australia Adalah Lelucon
Sabtu, 24 Agu 2019, 14:00:05 WIB, Dibaca : 0 Kali
Anggaran Pin Emas Bagi Anggota DPR Rp 5,5 Miliar - Gudang Berita Viral Anggaran Pin Emas Bagi Anggota DPR Rp 5,5 Miliar
Sabtu, 24 Agu 2019, 14:00:05 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print