Senin, 14 Oktober 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Minggu, 29 Sep 2019, 17:00:12 WIB, 11 View Tim Redaksi, Kategori : News
Habis Gempa dan Tsunami Setahun Lalu di Palu, Terbitlah Kegigihan - Gudang Berita Viral

Mereka kehilangan harta dan orang-orang tersayang saat gempa menghajar Sulawesi Tengah setahun lalu. Tapi, berbagai kesulitan tak menghentikan upaya mereka untuk bangkit.

EDI SUSILO, Palu, Jawa Pos



DUA entong nasi kuning dia letakkan di atas kertas minyak. Sejumput mi disendok, disusul kuah pedas yang berisi telur, ayam, dan tahu yang ditata di atas nasi. Tak lupa, segenggam kerupuk bulat sebesar uang koin ditaburkan sebagai pelengkap.

Hari masih pagi di lereng Gunung Gawalise, Kelurahan Balaroa, Kota Palu, Kamis lalu itu (26/9). Tapi, sepagi itu sudah lima pelanggan mampir dan menikmati sajian di warung Jafar Basri.

Sudah sembilan bulan Jafar membuka warung nasi kuning dan minuman ringan tersebut. Warung tersebut berdiri di depan tenda tempatnya tinggal. Berada di antara ratusan tenda pengungsi yang merupakan warga Perumnas Balaroa, Palu.

”Daripada nganggur dan pikiran ke mana-mana, mending buka usaha lagi,” ucap Jafar kepada Jawa Pos.

Setahun lalu, tepatnya 28 September 2018, Jafar dan ratusan pengungsi di situ kehilangan segalanya. Gempa berkekuatan 7,4 skala Richter menghantam Kota Palu dan tiga kabupaten di sekitarnya di Sulawesi Tengah, yakni Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong. Mengakibatkan gelombang tsunami dan likuefaksi yang total menewaskan 4.845 orang serta banyak lainnya yang hilang.

Setelah gempa, tanah di perumahan Balaroa ambles sekitar 15 meter. Rumah Jafar hanyut sejauh hampir 120 meter dari tempat semula. Dua ruko sewa yang dia gunakan untuk berjualan nasi kuning dan beras ikut ludes.

Namun, kehilangan paling besar bagi dia dan istri, Rahmawati Idris, adalah tewasnya putri bungsu mereka, Najwa Naila. Saat gempa mengguncang, murid kelas II SD itu sudah berada di dalam masjid dekat rumah, bersiap untuk salat Magrib. Sementara itu, sang ayah baru mengambil wudu di kediaman mereka.

Berhari-hari Jafar dan istri termenung, mengenang kepergian buah hati mereka itu. ”Akhirnya, kami putuskan buka usaha lagi,” kata lelaki keturunan Bugis tersebut.

Kondisi Desa Salua, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah ketika diguncang gempa pada 2018. (Issak Ramdahani/Dok. gudangberitaviral.com)

Memang hasilnya masih jauh jika dibandingkan dengan usahanya dulu. Kalau dulu, sebelum gempa, habis 50 kilogram nasi. Sekarang sehari habis 9 kilogram nasi. ”Tidak apa-apa, namanya usaha,” ucapnya.

Jafar tetap bersyukur. Sebab, paling tidak, dia mulai tidak bergantung pada bantuan pemerintah.

Menyusuri Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong mulai Rabu lalu (25/9), Jawa Pos mendapati proses rekonstruksi akibat bencana besar setahun lalu itu masih jauh dari kata selesai. Namun, di saat yang sama, Jawa Pos juga menjumpai banyak sekali Jafar-Jafar lain.

Mereka yang menolak menyerah kepada keadaan sulit dan terus mencoba bangkit. Dengan berbagai cara. Lewat beragam upaya.

Berjarak selemparan batu dari Jafar, Asma Abdul Kadir juga bersipeluh untuk bangkit dari kesedihan dan trauma. Perempuan single parent yang membesarkan tiga buah hatinya itu membuka usaha jahit di dalam tenda.

Kamis lalu itu suasana tenda perempuan kelahiran 3 Juni 1975 tersebut sesak oleh peralatan jahit. Tumpukan kain batik memenuhi ruangan.

Empat mesin jahit yang diberikan oleh keluarga dan bosnya dia gunakan untuk menjahit pakaian pesanan. ”Tapi, yang dua mesin tidak bisa dipakai karena pakai dinamo besar. Listriknya ndak kuat,” ucapnya.

Dalam sehari, dia bisa menyelesaikan satu setel pakaian. Ongkos yang Asma terima untuk setiap setel baju mencapai Rp 50 ribu.

Uang hasil menjahit dia sisihkan untuk mencukupi kebutuhan sekolah dua anaknya. Sisanya ditabung untuk membeli rumah. Yang terakhir itu memang sempat membuat Asma khawatir. Sebab, dalam pembagian hunian tetap nanti, mungkin dia tidak dapat karena tidak punya lahan di bekas perumahan Balaroa. Sebelum gempa, dia tinggal di rumah mertua bersama suami. Sebelum kemudian mereka berpisah tanpa kejelasan status perceraian.

”Saya kalau ingat itu sedih. Tapi, saya harus mandiri, harus yakin bisa membesarkan anak-anak,” ucapnya sambil mengusap air mata.

Beranjak ke kawasan Talise di sekitar hutan kota Palu, semangat kegigihan itu juga kentara sekali. Ada 70 stan yang berderet di sepanjang bukit, memecah gulita.

Menu yang ditawarkan setiap stan beragam. Mulai jagung bakar, mi goreng, pisang bakar, hingga saraba, minuman hangat khas Kota Palu yang mirip dengan STMJ.

Cocok untuk menghangatkan tubuh dari embusan angin laut yang berada di bawah bukit. Palu memang kota yang halaman depannya laut: Teluk Palu. ”Tiga bulan setelah gempa saya berjualan di sini,” ucap Risman, pedagang.

Risman termasuk pionir pendirian stan di kawasan perbukitan itu. Dia memulai usaha dengan modal nekat. Dia gadaikan ponsel miliknya. Uang yang dia dapat tak banyak. Karena itu, dagangannya juga terbatas: pisang goreng, tiga botol minuman ringan, dan empat botol air mineral.

Awal berjualan, pemasukan dia hanya Rp 250 ribu semalam. ”Kini, alhamdulillah, bisa mencapai Rp 1,5 juta,” katanya.

Semua yang berdagang di kawasan hutan kota itu dulu berjualan di tepi pantai. Mereka semua korban gempa dan tsunami.

Mereka kehilangan keluarga. Termasuk Risman, yang kehilangan putri sulung dan sang ibu. Total, lima anggota keluarganya meninggal diempas tsunami.

Hidup tak boleh berhenti hanya karena duka yang datang menghantam. Karena itu, Risman berusaha bangkit. Dia lantas meminta izin ke kelurahan untuk mendapatkan persetujuan berdagang.

Masjid Terapung Arqam Bab Al Rahman, pascagempa dan tsunami Palu di Pantai Talise, Sulawesi Tengah, Jumat (12/10). (Issak Ramadan/Dok. gudangberitaviral.com)

Awalnya, dia bersama beberapa rekan sempat bersitegang dengan Satpol PP Kota Palu yang menganggap tempat dagangan mereka ilegal.

Perjuangan itu membuahkan hasil. Kini Pemerintah Kota Palu justru membantu para pedagang dengan memasang penerangan di sepanjang jalan. Wisata baru di tepian hutan itu pun kian ramai.

Setahun lalu itu, ketika gempa terjadi, Ferry Sondakh sebenarnya sedang berada di titik terendah hidupnya. Pria yang kini berusia 51 tahun tersebut baru tiga hari dipindah rawat. Dari RS Tora Belo, Sigi, ke RSUD Anutapura, Palu.

Total, sudah tiga bulan pria dari Desa Pombewe, Sigi, itu dirawat di rumah sakit karena menderita stroke dan tekanan darah tinggi. Ketika gempa mengguncang, semua orang di rumah sakit kontan kocar-kacir menyelamatkan diri. Lari tunggang-langgang ke arah luar. Apes bagi Ferry. Dia sudah tidak bisa berjalan normal selama dirawat.

Namun, saat maut terasa begitu dekat, keajaiban terjadi. ”Puji Tuhan, suami saat itu, mungkin karena takut juga, jadi mendadak bisa jalan,” ucap Yoten, istri Ferry, kepada Jawa Pos di pengungsian Joonoge di Desa Pombewe Jumat (27/9).

Selama di pengungsian, Ferry terus berlatih berjalan. Memang belum lancar, masih menyeret-nyeret saat melangkahkan kaki. ”Tapi, karena ingat anak di Manado (Sulawesi Utara), dia ngotot untuk bekerja lagi,” ucapnya.

Pekerjaan sebelum gempa dia tekuni lagi. Menjadi tukang bangunan dengan langkah masih terseok-seok.

Saat Jawa Pos bertandang Jumat lalu, Ferry tengah bersiap menuju rumah warga yang menggunakan jasa keterampilannya untuk membangun. Sambil berjalan lambat, dia menuju sepeda motor matik miliknya.

Sebelum melaju, Ferry mengangguk kepada sang istri. Pamit untuk mencari nafkah. Dari teras rumah semipermanen, Yoten menjawab singkat. ”Iek (iya, Red),” ucapnya sembari melambai, merestui sang suami.

Setahun setelah gempa, tsunami, dan likuefaksi, hidup memang harus terus berjalan…

Di Laut Ada Bobi, di Darat Ada Bui Squad

’’DI dalam sana sudah ada 972 bibit,’’ kata Ahmad Lasini Maliki. Telunjuknya mengarah ke tepian pantai di seberang rumahnya.

Tampak di titik yang dia tunjuk itu sekelilingnya dilindungi jaring berpelampung. Jaring tersebut dia pasang agar bibit tidak terganggu sebelum benar-benar tumbuh dan mekar.

Bibit yang dimaksud pria yang akrab disapa Bobi itu adalah bibit karang jahe.

Penanaman karang di sekitar Pantai Mamboro, Palu Utara, Sulawesi Tengah, itu dia kerjakan sejak dua bulan lalu.

Semua berawal dari keprihatinan Bobi terhadap kondisi pesisir pantai yang rusak. Persisnya setelah tsunami menghantam Palu setahun lalu.

Sebelum bencana terjadi, dari depan rumah yang dia tinggali bersama istri dan anak, Bobi bisa dengan mudah melihat aneka ikan karang. Pemancing pun berdatangan setiap hari untuk mengadu untung umpannya disambar ikan.

”Tapi, sekarang ikan sebiji saja tidak ada,” ucapnya.

Ikan karang yang disenangi pemancing ikut kabur bersama rusaknya ekosistem pantai. Kondisi itu juga menyulitkan Bobi. Sebab, sejak karang rusak tersapu tsunami, Bobi harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan.

Pada Jumat lalu (27/9), saat Jawa Pos bertandang ke rumahnya, ada sekitar 40 media berbahan dasar semen dan potongan pipa yang teronggok di pinggir jalan. Di tepian trans-Sulawesi. Bobi masih menunggu waktu luang untuk mengisi setiap pipa dengan bibit karang jahe. Yang nanti dia tanam di sepanjang pantai pesisir Mamboro.

”Biasanya kalau tidak Sabtu ya Minggu saya cari bibit,” ujarnya.

Dengan menggunakan perahu, setiap akhir pekan Bobi berburu karang tersebut di pesisir Kabonga, Kabupaten Donggala. Kemudian, bibit karang yang terpasang di media itu dia masukkan ke air laut. Sebelum benar-benar kuat dan tumbuh, karang dia tempatkan di tepian pantai dengan kedalaman sekitar 7 meter.

Kini, Bobi menunggu ratusan bibit yang dia tanam melekat kuat di media. Setelah itu, bibit yang tumbuh dipindah 600 meter dari tepian pantai agar bisa berkembang. Bobi optimistis ikan-ikan karang perlahan akan kembali jika rumah mereka tumbuh subur. ”Mungkin yang nikmati ini nanti bukan saya. Tapi, saya yakin usaha ini akan memberikan manfaat bagi orang banyak,” jelas suami Maemunah itu.

Di Palu yang terus berusaha bangkit setelah gempa dan tsunami setahun lalu, bukan hanya Bobi yang berusaha berkontribusi. Mereka yang mendekam di dalam penjara juga melakukannya.

Ada 47 narapidana Rutan Kelas II-A Palu yang sejak musibah besar tahun lalu menjadi relawan. Mereka menamakan diri sebagai Bui Squad.

Gerakan relawan yang disahkan pada 28 Oktober 2018 itu terus aktif memantau proses pemulihan ibu kota Sulawesi Tengah tersebut. Mulai terlibat dalam pembagian makanan, membangun masjid serta gereja, hingga mendirikan 21 unit hunian sementara (huntara) untuk warga terdampak.

”Kami terbentuk karena saat kejadian patuh tidak meninggalkan tempat,” ucap Koordinator Bui Squad Nudin Lasahido kemarin (28/9).

Bersama rekannya, Yusran Manan, Nudin terlihat santai duduk di depan rutan dengan didampingi seorang petugas lapas. Mereka memang sedang menunggu pengerjaan gereja yang tinggal tahap penyelesaian.

Gereja tersebut mulai dibangun dua bulan setelah gempa dengan anggaran patungan dari narapidana dan pihak swasta. ”Semua yang mengerjakan teman-teman napi sendiri,” ucap lelaki asal Kabupaten Ampana, Sulawesi Tengah, tersebut. Para napi saling membantu dengan keahlian masing-masing. Ada yang jadi kuli, ada juga yang jadi tukang.

Begitu pula saat mengerjakan huntara yang berada di Kelurahan Pengawu, Kecamatan Tatanga, Palu. Dari target 21 huntara, saat ini sudah ada lima unit yang jadi dan siap ditempati. ”Senin (besok, Red) kami berencana kerja lagi,” ucap Yusran.

Kemunculan tim Bui Squad tidak terlepas dari izin Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Pas) melalui SK. Yang menyetujui 47 narapidana itu menjadi relawan untuk pemulihan gempa di Palu. SK tersebut berlaku hingga 28 Oktober tahun ini.

Bui Squad terbentuk ketika 47 narapidana Rutan Kelas II-A Palu tersebut tidak kabur dan menempati janji kembali setelah gempa terjadi. Itu berbeda dengan ratusan napi lain yang kabur setelah dilepas karena keadaan darurat.

Mereka yang patuh terhadap masa hukuman itu kemudian membuat kelompok relawan. Dengan catatan, setiap hari mereka harus kembali ke rutan untuk mengisi presensi. ”Kami hanya ingin membantu pemulihan Kota Palu,” terang Nudin.

Selain itu, lewat Bui Squad, Nudin dkk ingin membantah tuduhan masyarakat tentang maraknya penjarahan selama gempa akibat ulah napi kabur. ”Dan kami berhasil buktikan. Selama penangkapan penjarah, tidak ada laporan tersangkanya adalah narapidana di sini,” ucapnya.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Semarak di Puncak Hari Jadi Ke-74 Jawa Timur - Gudang Berita Viral Semarak di Puncak Hari Jadi Ke-74 Jawa Timur
Senin, 14 Okt 2019, 12:00:06 WIB, Dibaca : 1 Kali
Condong ke Street Style, Intip Fashion Item Bergaya JPop di Comic Con - Gudang Berita Viral Condong ke Street Style, Intip Fashion Item Bergaya JPop di Comic Con
Senin, 14 Okt 2019, 12:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
UU KPK Hasil Revisi Segera Berlaku, Presiden Diminta Terbitkan Perppu - Gudang Berita Viral UU KPK Hasil Revisi Segera Berlaku, Presiden Diminta Terbitkan Perppu
Senin, 14 Okt 2019, 12:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print