Senin, 19 Agustus 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Senin, 05 Agu 2019, 21:00:12 WIB, 1 View Tim Redaksi, Kategori : News
Gerebek Bandar Narkoba Jaringan Sokobanah, Ditawari Uang Cash Miliaran - Gudang Berita Viral

KESERIUSAN Polda Jatim memberantas peredaran narkotika di wilayah hukumnya patut diapresiasi. Meski ancaman dan godaan deras mengalir, mereka tetap memiliki komitmen.

EKO SULISTYONO, Surabaya



Banyak pihak yang berperan dalam mengungkap pengedar sabu-sabu jaringan Sokobanah. Yang paling utama tentu peran Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan dalam membentuk tim satgas untuk membasmi jaringan internasional tersebut. Di samping itu, ada peran vital dua Kapolres Kota Surabaya yang tidak kalah penting. Yaitu, Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho dan Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto.

Cerita perang melawan bandar narkotika itu dimulai Februari 2019 ketika instansi kepolisian menerima laporan dari Bea Cukai Perak soal masuknya 14 kilogram (kg) sabu-sabu melalui Pelabuhan Tanjung Perak. Temuan tersebut segera ditindaklanjuti. Tidak lama kemudian, satu pelaku diamankan di daerah Jember.

Pelaku yang saat itu diamankan adalah Samsul Hadi. Penangkapan satu pelaku dengan barang bukti 14 kg sabu-sabu tersebut tidak membuat Kapolda Jatim puas. Jenderal bintang dua itu ingin pengusutan kasus tersebut terus dikembangkan menuju jaringan yang lebih besar. ”Tidak melakukan rilis buru-buru merupakan salah satu strategi kami,” kata Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan.

Dia khawatir jumpa pers terlalu dini dapat mengganggu penyelidikan. Keinginan untuk menangkap jaringan yang lebih besar bisa gagal total. Penyelidikan terus berlanjut. Dari sana diketahui bahwa barang yang dikirim kepada Samsul rencananya dibawa lagi menuju Sokobanah, Sampang, Madura. Dalam urusan peredaran narkotika di Indonesia, Sokobanah bukanlah jaringan baru. Kapolda mengetahui jaringan tersebut telah lama bermain.

Beberapa kurirnya juga telah tertangkap di beberapa kota besar. Termasuk Surabaya dan Jakarta. Hanya, selama ini belum ada keberhasilan signifikan.

Lulusan Akpol 1987 tersebut ingin pengungkapan jaringan kali ini benar-benar beda. Aparat penegak hukum harus benar-benar masuk ke tempat bersarangnya para pengedar di Sokobanah. Untuk melakukan penggerebekan, Luki mempelajari itu. ”Saya gali informasi. Pernah ada polisi masuk sana saja malah mau dibunuh kok,” tambahnya.

Akhirnya, Luki memanggil Kapolrestabes Surabaya dan Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak. ”Terbentuklah satgas yang terdiri atas polisi, TNI, dan BNN,” ujarnya. Meski tim satgas sudah terbentuk, mereka tidak bisa sembarangan masuk ke Sokobanah. Apalagi melakukan penggerebekan di sana dengan asal-asalan. Alasannya, jaringan di sana mendapat dukungan dari masyarakat. ”Pengedar sangat baik kepada masyarakat kok. Mereka itu sudah seperti Robin Hood,” kata Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto.

Sebagai imbal balik, warga ikut membantu melindungi bisnis jaringan Sokobanah. Contoh kecilnya, orang asing yang masuk ke wilayah Sokobanah langsung dibuntuti warga. Itu tentu menyulitkan polisi.

Untuk itu, tim satgas mengatur sejumlah strategi untuk melakukan pemetaan kawasan. Sisi sosial dan budaya masyarakat setempat dipelajari. Dari sana diketahui, rumah si bandar rata-rata berada di atas gunung. Akses menuju markas sangat sulit. Jalan yang harus dilalui sempit. Begitu berpapasan dengan mobil lain, satu mobil harus mengalah.

Kesulitan polisi bukan hanya itu. Mereka juga mengalami berbagai godaan dan ancaman. Misalnya, setelah ada pelaku yang tertangkap, ada orang yang tiba-tiba menawarkan uang miliaran rupiah dalam bentuk cash kepada tim satgas. Intinya, pelaku ingin kasus tersebut dihentikan dan pelaku dibebaskan. ”Jumlah banyak. Belum pernah kami lihat sebelumnya. Tapi kami tegaskan lagi, tujuan kami bukan itu. Negara tidak boleh kalah oleh bandar,” tegas Agus.

Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho mengatakan, selama pengintaian lima bulan, terhitung sejak Februari sampai Juli 2019, tim satgas yang dipimpinnya juga melakukan berbagai penyamaran rahasia. Pengintaian selama lima bulan itu berpuncak pada Juli. Tim satgas yang dipimpin Sandi melakukan penggerebekan besar-besaran dengan dibantu helikopter milik TNI. Mengapa helikopter TNI? Hal itu menghindari kecurigaan jaringan yang bermain di sana. Para pengedar akan tahu jika yang digunakan adalah helikopter milik polisi.

Helikopter tersebut didaratkan dengan jarak sekitar 10 km dari lokasi penggerebekan di Gunung Semanggi. Satu kompi Brimob bersenjata lengkap juga dikerahkan untuk mensterilkan area penggerebekan.

Bukan hanya itu, sejak berangkat dari Surabaya, semua anggota yang hendak bertugas tidak boleh membawa HP. ”Yang penting, ada pimpinan di depan. Kami kan tidak tahu hitam putihnya anggota. Itu untuk antisipasi saja jika ada anggota yang bermain,” kata Sandi.

Setidaknya Satgas Polda Jatim mengamankan sekitar 50 kg sabu-sabu dan 5 orang tersangka. Kini ada belasan bandar besar yang masih buron.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Agustusan dan Multikulturalisme - Gudang Berita Viral Agustusan dan Multikulturalisme
Senin, 19 Agu 2019, 19:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
Demonstran Hongkong Sembunyikan Identitas karena Tak Ingin Dipecat - Gudang Berita Viral Demonstran Hongkong Sembunyikan Identitas karena Tak Ingin Dipecat
Senin, 19 Agu 2019, 19:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
Kembali Jadi Host, Tukul Arwana Siap Di-bully di ‘Ini Baru Empat Mata’ - Gudang Berita Viral Kembali Jadi Host, Tukul Arwana Siap Di-bully di ‘Ini Baru Empat Mata’
Senin, 19 Agu 2019, 19:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print