Selasa, 17 September 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Minggu, 01 Sep 2019, 18:00:06 WIB, 5 View Tim Redaksi, Kategori : News
Efek Panjang Rencana Pencoretan Belasan Cabor di PON 2020 - Gudang Berita Viral

Ada yang sudah dua tahun berlatih, termasuk beruji coba ke Thailand, Malaysia, dan Hongkong. Ada yang sudah berencana menjadikan PON 2020 ajang perpisahan.

BAGUS P., WAHYU A., Surabaya-AGAS P.H., Jakarta, Jawa Pos



SABTU dan Minggu adalah waktu bagi Vallian Zona untuk meninggalkan usaha dan keluarga di Mojokerto. Menempuh perjalanan lebih dari 60 kilometer ke Surabaya. Menuju Kolam Renang KONI Jawa Timur (Jatim).

Di sanalah atlet 23 tahun tersebut memeras keringat untuk berlatih bersama rekan-rekannya di tim polo air Jatim proyeksi PON 2020 di Papua. Setelah selama Senin sampai Jumat di tiap pekan harus berlatih sendiri di Mojokerto. “Kalau saya di Surabaya, usaha di-handle ibu,” ujar Vallian yang punya usaha berjualan sayur-mayur.

Yang harus rela berkorban seperti itu bukan hanya Vallian. Sebab, latihan memang dipusatkan di Surabaya sejak Februari lalu. Sementara sebagian anggota tim berasal dari luar ibu kota Jatim itu.

“Ada yang rela meninggalkan pekerjaan demi latihan. Padahal, kami nggak memberi gaji ke mereka,” kata Bimo A.P. Soeparto kepada Jawa Pos setelah memimpin latihan tadi malam. “Jadi, bisa dibayangkan betapa bakal kecewanya mereka kalau sampai polo air dicoret,” lanjutnya.

Berdasar surat keputusan (SK) KONI Papua yang beredar Jumat (30/8), polo air memang termasuk dalam 15 cabang olahraga (cabor) yang bakal dicoret. Penyebabnya, kendala besar terkait dengan kesiapan venue. Dari 56 venue, sampai menjelang setahun sebelum penyelenggaraan, baru delapan venue yang siap digunakan.

Padahal, KONI pusat sudah mengeluarkan SK tentang 47 cabor yang akan dipertandingkan di PON tahun depan. Dan, di sepanjang sejarah penyelenggaraan ajang empat tahunan itu, belum pernah terjadi pencoretan cabor berlangsung setahun sebelum event digelar.

Memang SK KONI Papua tersebut belum final. KONI pusat maupun Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengaku belum menerima surat itu. Tapi, tetap saja kabar tersebut memicu kegalauan di kalangan atlet cabor-cabor yang akan dicoret itu. Bayangkan saja, banyak di antara mereka yang bahkan sudah menjalani pemusatan latihan di daerah masing-masing sejak dua hingga tiga tahun lalu.

Perlu diingat, tak semua cabor seberuntung sepak bola dan bulu tangkis misalnya. Bergelimang sponsor, perhatian, dan turnamen. Bagi cabor seperti polo air, sepak takraw, ski air, atau kempo, misalnya, PON bisa dibilang “Olimpiade” mereka. Kesempatan untuk merebut bonus besar. Membuka peluang menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Atau seperti yang diharapkan Wiji Lestari, pembalap BMX Jatim, kans menggaet beasiswa untuk kuliah. “Saya dengar, selain bonus, katanya akan ada beasiswa kuliah bagi peraih emas (PON),” kata pembalap 19 tahun itu kepada Jawa Pos.

Wiji pantas berharap. Sebab, dia memang punya peluang untuk menggapai prestasi tersebut. Wiji adalah peraih emas Pra-PON di nomor BMX putri Juli lalu. Karena itu, dia kaget sekali ketika mendengar dari Jawa Pos soal rencana pencoretan cabor BMX di PON 2020.

Belum ada yang memberi tahu Wiji. Saat ini dia memang berada di Jakarta, berlatih bersama timnas BMX putri. Sedangkan tim BMX Jatim menjalani pemusatan latihan di Malang sejak Agustus tahun lalu. “Saya mau gimana lagi? Ya sedih sekali, Mas. Persiapan sudah lama, tapi kok (BMX) ditiadakan,” tambah pembalap kelahiran Blitar tersebut.

Pembalap BMX saat bertanding di Banyuwangi International BMX 2017. (M. Syafaruddin/Dok. gudangberitaviral.com)

Muhammad Zahidi Putu Pranoto juga sampai rela melewatkan kesempatan untuk diangkat sebagai CPNS di Kemenpora. Agar bisa mendapatkan izin untuk berlatih bersama tim ski air Jatim. “Kalau memang dari awal tidak ada ski air di PON kan lebih baik saya fokus kerja,” katanya.

Kaget, kecewa, dan kesal itu juga dirasakan Rilo Pambudi. Betapa tidak, dia dan kawan-kawannya di tim sepak takraw Jakarta sudah lolos Pra-PON. Sudah pula berlatih dua tahun. Termasuk melakoni tryout sampai ke Thailand, Malaysia, dan Hongkong. Semua ditempuh demi mewujudkan ambisi merebut dua emas di PON 2020. Eh, ternyata cabornya malah akan dicoret. “Lalu atletnya mau diapain kalau misalnya sudah kayak gini? Sudah lolos Pra-PON, tapi nggak main PON,” keluh Rilo.

Padahal, di luar PON, sepak takraw minim sekali ajang. Tahun lalu hanya ada satu ajang tingkat nasional: Kejuaraan Nasional Piala Menteri Pemuda dan Olahraga. Tahun ini -yang sudah memasuki September- malah belum ada sama sekali.

Harapan memang masih terbuka bagi cabor-cabor yang terancam dicoret itu. Kabarnya, masih ada negosiasi pengurus pusat tiap-tiap cabor, KONI pusat, dan Kemenpora dengan KONI Papua.

Komisi Teknik Polo Air Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) DKI Jakarta Dean Baldwin juga akan berjuang semaksimal mungkin agar cabor polo air tidak dicoret. Sebab, tidak ada alasan yang jelas. “Malah tuan rumah (Papua) itu punya tim polo air. Yang nggak punya renang indah sama loncat indah. Masalah venue bisa pakai kolam renang dan PB PRSI bisa bantu,” tuturnya.

Tapi, namanya juga harapan, bisa terkabul, bisa pula tidak. Dan kalau ternyata pencoretan itu benar adanya, bisa dibayangkan betapa hancurnya hati Vallian. Di usianya yang sudah 23 tahun, tahun depan sangat mungkin bakal menjadi PON terakhirnya. Dan dia sudah memasang target: membawa Jatim menembus tiga besar. Memperbaiki raihan di PON sebelumnya yang hanya finis di posisi ketujuh. “Mbok yang ngambil keputusan itu melihat kami-kami ini. Kami sudah berkorban begitu banyak,” cetusnya.

Kami Berlatih Bukan untuk Event Pengganti

KABAR pencoretan ski air dari Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 itu sudah dia dengar sejak sepekan terakhir. Tapi, Ade Hermana Kadir berusaha mengabaikannya.

Pria 32 tahun tersebut tetap berlatih bersama tim ski air DKI Jakarta. “Jujur, saat pertama dengar, saya ingin tidak memercayainya,” ungkap Dede, sapaan akrabnya, di Danau Sunter, Jakarta, kemarin (31/8).

Namun, kenyataan di lapangan, kawan-kawannya tak henti membicarakan kabar itu. Tim ski air Papua yang juga berlatih di Jakarta pun telah menghentikan latihan selama sepekan terakhir.

Dede dan tim ski air Jakarta telah mempersiapkan diri sejak tiga tahun lalu. Di ajang PON 2020, PON kelima yang diikutinya, pula Dede berencana menutup karir di olahraga yang telah dia geluti sejak berumur 6 tahun itu. “Rencana awal setelah SEA Games 2017 pensiun, tapi ternyata saya mainnya jelek. Jadi, ingin gantung papan di ajang kelas nasional,” katanya ketika ditemui Jawa Pos.

Namun, impian tersebut kini terancam kandas. Dede mengatakan, jika benar ski air dicoret, dirinya tak mau ada ajang pengganti. “Beda kelas dong,” cetusnya.

Kalau memang ski air batal dicoret, Dede bakal habis-habisan di Papua tahun depan. Demi perpisahan yang indah dengan olahraga yang dicintainya itu.

Tapi, kalau ternyata tak ada ski air di Papua kelak, Dede pasrah. “Yang pasti, persiapan kami untuk PON, bukan untuk event pengganti,” tegas atlet kelahiran Jakarta pada 23 Desember 1987 tersebut.

Hasna Dzakiyah Fauziyanti juga hanya bisa pasrah. Padahal, atlet woodball Jogjakarta tersebut sudah memegang tiket lolos ke PON Papua. “Kalau memang benar dicoret, saya fokus di Porda (Pekan Olahraga Daerah) Jogjakarta saja,” kata atlet yang akan mewakili Kabupaten Sleman itu kepada Jawa Pos Radar Jogja.

Atlet wushu DKI Jakarta Edgar Xavier Marvelo juga memilih fokus ke ajang terdekat dulu, Kejuaraan Dunia Wushu 2019 di Tiongkok pada Oktober mendatang. Sembari menunggu kepastian apakah benar wushu akan dicoret dari PON 2020. “Saya no comment dulu soal kabar (pencoretan wushu dari PON 2020, Red) itu,” ucap peraih perak Asian Games 2018 dari nomor changquan tersebut.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Tim Unesa Berlaga di Kompetisi Robot Penjelajah Udara di Turki - Gudang Berita Viral Tim Unesa Berlaga di Kompetisi Robot Penjelajah Udara di Turki
Selasa, 17 Sep 2019, 09:00:12 WIB, Dibaca : 0 Kali
Asap Karhutla Picu Hipoksia, Bahaya Bagi Jantung dan Pembuluh Darah - Gudang Berita Viral Asap Karhutla Picu Hipoksia, Bahaya Bagi Jantung dan Pembuluh Darah
Selasa, 17 Sep 2019, 09:00:12 WIB, Dibaca : 0 Kali
Ayok ke Bali! Fenomena Tanpa Bayangan Bakal Terjadi Oktober Depan - Gudang Berita Viral Ayok ke Bali! Fenomena Tanpa Bayangan Bakal Terjadi Oktober Depan
Selasa, 17 Sep 2019, 09:00:12 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print