Kamis, 17 Oktober 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Jumat, 27 Sep 2019, 22:00:09 WIB, 4 View Tim Redaksi, Kategori : Bisnis
 Di China, Rokhmin Beberkan Perikanan Berkelanjutan  - Gudang Berita Viral

gudangberitaviral.com, Jakarta - Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) yang juga guru besar perikanan dan ilmu kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Rokhmin Dahuri menjadi pembicara kunci Forum on Aquaculture in Silk Road Countries.

Forum Internasional tentang Akuakultur untuk negara Jalur Sutera yang diinisiasi oleh Yellow Sea Fisheries Research Institute of CAFS (YSFRI) di Qingdao, China, berlangsung Kamis-Jum’at (26-27/9/2019).

Dalam rilis kepada media di Jakarta, Jumat (27/9/2019), mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini, mempresentasikan konsep pembangunan berkelanjutan sektor perikanan budidaya dalam menghadapi era revolusi industri 4.0, serta ancaman perubahan iklim global.



"Kemajuan ilmu dan teknologi yang terejawantahkan dalam revolusi industri 4.0 telah membuat ekonomi dunia semakin produktif dan efisien. Namun pada sisi lain menimbulkan permasalahan sosial-ekonomi, lingkungan, dan sosial-budaya yang sangat kompleks dan serius,” katanya.

Di bidang ekonomi, lanjut dosen kehormatan Mokpo National University Korea Selatan itu, sampai sekarang, sedikitnya 1 miliar warga dunia, hidup dalam kemiskinan absolut (ekstrem poverty) dengan pengeluaran kurang dari US$1,25 per hari. Kemudian, masih terdapat hampir tiga miliar orang masih hidup miskin, dengan pengeluaran kurang dari US$2 per hari.

"Sementara di bidang lingkungan, pencemaran, pengikisan biodiversity dan kepunahan spesies, perusakan fisik ekosistem alam, dan pemanasan global telah mencapai tingkat yang mengancam kelestarian bumi dan kehidupan manusia," ungkapnya.

Atas dasar problematika tersebut, menurut Rokhmin, pembangunan harus berorientasi kepada dua hal penting, yaitu agenda untuk meningkatkan daya dukung (carrying capacity) lingkungan bumi dalam menghasilkan sumber pangan, bahan untuk pakaian, bahan farmasi, bahan untuk perumahan dan bangunan lain, bahan tambang dan mineral, serta jasa lingkungan lainnya yang dibutuhkan oleh manusia dan pada sisi lain bagaimana kita meningkatkan ekosistem bumi dalam menetralisir limbah.  

Kedua, agenda untuk mengatur supaya konsumsi (penggunaan) manusia terhadap pangan, bahan pakaian, farmasi, bahan bangunan, bahan tambang dan mineral, dan barang lainnya tidak berlebihan, secukupnya saja. Selain itu, kegiatan pembangunan, industri, dan aktivitas manusia lainnya juga tidak boleh membuang limbah, emisi karbon dan gas rumah kaca lainnya melebihi kapasitas asimilasi (menetralisir) eksosistem alam.

Sementara laju eksploitasi hutan, sumber daya ikan, dan sumber daya alam hayati lainnya tidak boleh melampaui kapasitas pulihnya.  “Pada prakteknya, teknologi era Industri 4.0 seperti bioteknologi, nanoteknologi, artificial intelligence, Internet of things, big data, cloud computing, dan robotics di banyak negara telah berhasil meningkatkan daya dukung lingkungan,” tandasnya.

Sebagai informasi, International Forum on Aquaculture in Silk Road Countries sendiri dihadiri oleh sekitar 500 orang yang terdiri dari unsur ilmuan (scientists), akademisi, peneliti, pelaku industri, perbankan, dan pelajar dari 15 negara di lima benua.

Selain Rokhmin yang mewakili Indonesia, narasumber lain yang hadir dalam forum tersebut antara lain Dr. Mathias Halwart (FAO), Dr Huang Jie (Director General of NACA), Dr Gu Weibing (Director General of Fisheries and Aquaculture, Ministry if Agriculture and Rural Affairs, China), Dr Algarah Esam (UNIDO), Dr Marc C Verdegem (Wageningen University, Holland), Dr Qin Jianguang (Flinders University, Australia), Dr. Najiah Musa (University Malaysia Terengganu), dan Dr Henry Q Canlas (Beureau of Fisheries and Aquatic Resources, Philippines).

Salah satu agenda penting International Forum on Aquaculture in Silk Road Countries adalah Pembentukan Konsorsium Internasional tentang Sains Teknologi Budidaya dan Pengembangan Industri.

Konsorsium yang akan dibentuk nanti bertujuan untuk memastikan keamanan pangan global dan pasokan produk-produk air termasuk mempromosikan ketersediaan protein hewani yang berkualitas dan meningkatkan gizi masyarakat, dan untuk meningkatkan teknologi dan manajemen akuakultur dan mendorong kolaborasi pelengkap di antara negara-negara peserta konsorsium.

Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), kata ketua DPP PDIP bidang Kelautan dan Perikanan, adalah salah satu anggota pendiri konsorsium. Selain Indonesia, forum internasional itu juga dihadiri negara-negara anggota konsorsium meliputi Tiongkok, Australia, Belanda, Filipina, Mesir, Thailand, Bangladesh, Malaysia, Brunei Darussalam, Myanmar, dan Tunisia. [tar]
    
    
   




Sumber: inilah.com

Tag: News



 Inilah Pemicu Kenaikan Harga Emas Berjangka  - Gudang Berita Viral Inilah Pemicu Kenaikan Harga Emas Berjangka
Kamis, 17 Okt 2019, 07:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Harga Minyak Mentah Bisa Naik 1%  - Gudang Berita Viral Harga Minyak Mentah Bisa Naik 1%
Kamis, 17 Okt 2019, 07:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Bos IWAPI Digadang-gadang Masuk Kabinet Jokowi  - Gudang Berita Viral Bos IWAPI Digadang-gadang Masuk Kabinet Jokowi
Kamis, 17 Okt 2019, 07:00:05 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print