Jumat, 20 September 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Sabtu, 07 Sep 2019, 18:00:07 WIB, 1 View Tim Redaksi, Kategori : News
Cerita Guru Inisiator Perpustakaan Keliling - Gudang Berita Viral

Di daerah pelosok, perpustakaan keliling ibarat oase bagi anak-anak. Mereka berduyun-duyun mencari bacaan menarik. Kondisi itu menyemangati tiga guru di Tulang Bawang Barat, Lampung, untuk rajin berkeliling membawakan buku bacaan meski melewati daerah rawan kejahatan sekalipun.

AGUS DWI PRASETYO, Lampung, Jawa Pos



SETIAP mendengar motor roda tiga itu datang berkeliling, Novrian Alfes Setiawan kegirangan.

Seperti siang itu, dia bergegas menuju halaman Musala Al Muttaqien, Tiyuh (Desa) Candra Mukti, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung, tempat motor tersebut terparkir.

Dia mengamati buku-buku di rak dalam boks di belakang motor. Beberapa saat kemudian, bocah kelas IV Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Madani tersebut mengambil sebuah buku, lalu mencari tempat duduk. “Novrian, gantian dong, aku juga pengin baca,” tegur seorang bocah. Novrian yang sedang asyik semakin mendekap erat buku berjudul Muhammad Teladanku: Perang Uhud itu. Dia enggan memberikan buku tersebut. Bocah 9 tahun tersebut malah bergegas berpindah tempat. Menjauh dari kawannya dengan air muka polos. Menggemaskan.

Sementara itu, di sekitar motor besar bermesin 150 cc tersebut, bocah-bocah makin berkerumun. Jumlahnya puluhan. Mereka berebut buku tersisa yang masih ada di rak dalam boks berukuran 1,5 x 1,5 meter itu. Makin lama, semakin banyak anak yang mengerumuni sepeda motor. Buku di dalam rak itu cepat habis. Sebagian tidak kebagian. Mereka menunjukkan ekspresi kecewa.

Seorang pria menghampiri anak-anak yang tidak kebagian buku. Dia mengajak mereka ke Griya Baca Al Barokah, tak jauh dari situ. Di dalam rumah baca itu, buku-buku tersusun rapi di rak panjang. “Bukunya masih ada. Yang mau baca silakan ambil!” kata M. Imam Turmudzi, pria itu.

Anak-anak SD IT Madani membaca buku di Perpustakaan Keliling, Tulang Bawang Barat, Lampung, Senin (19/08/2019). (Imam Husein/Jawa Pos)

Keriuhan bocah-bocah tersebut adalah keceriaan karena bisa membaca buku-buku yang tidak ada di sekolah. Buku bergambar seperti komik Sirah Nabi paling digemari. Buku Siapakah Dokter Pertama di Dunia? juga jadi rebutan. “Ada buku lain tentang pendidikan Islam dan sains juga,” kata Yayuk Tri Sugiarti, rekan Imam dalam mengurus perpustakaan keliling itu.

Sepeda motor tiga roda adalah perpustakaan portabel. Sudah dua tahun motor merek Viar bantuan pemerintah tersebut berkeliling ke banyak tempat di tiga kecamatan di Tulang Bawang Barat. Yakni, Tumijajar, Tulang Bawang Tengah, dan Tulang Bawang Udik. Tidak banyak kegiatan membaca semacam itu di wilayah pelosok Lampung tersebut. Kalaupun ada, lebih sering tidak aktif. Koleksi bukunya juga tidak lengkap. Kebanyakan tak sesuai dengan kebutuhan anak-anak. “Kalau kegiatan taman baca, sudah jalan tiga tahun,” ujar Yayuk.

Di daerah lain, barangkali sudah banyak perpustakaan keliling semacam itu. Namun, di Tulang Bawang Barat bisa dihitung dengan jari. Perpustakaan keliling dengan motor bagaikan barang langka di sana. “Setiap pergi ke satu tempat, bisa 30-an anak yang datang,” terang Yayuk.

Motor itu memang bantuan pemerintah. Tapi, tidak demikian buku-buku yang selalu jadi rebutan anak-anak tersebut. Imam dan istri, Dian Iswandari, bersama Yayuk merogoh kocek pribadi untuk membeli buku. Tiga orang yang sama-sama berprofesi guru itu juga harus menanggung biaya operasional motor. Mulai membeli bahan bakar minyak (BBM) hingga perbaikan di bengkel bila rusak. Jika ditotal, sudah 300 buku yang mereka beli selama tiga tahun terakhir. “Kami membeli buku baru yang sesuai usia SD dan TK,” kata Dian. “Sebenarnya ada yang mendonasikan buku, tapi kebanyakan tidak sesuai usia,” tambah Yayuk.

Dengan motor itu, kegiatan baca dan kampanye literasi yang mereka rintis bisa menjamah berbagai tempat. Terutama daerah-daerah pelosok. Setiap saat mereka bisa pergi ke sekolah-sekolah yang kekurangan buku. Kemudian, datang ke taman pendidikan Alquran (TPA) atau taman-taman baca lain. Bahkan, bisa pula nongkrong di sekitar pasar tradisional seperti Pasar Pulung Kencana, Tulang Bawang Tengah.

“Kalau di pasar itu, biasanya banyak anak pedagang yang ikut orang tuanya menunggu lapak. Jadi, sambil menunggu, mereka baca-baca buku,” ucap Yayuk. “Kadang orang tua juga ikut-ikutan baca,” imbuh perempuan yang juga menjadi pengurus Forum Literasi Lampung Cabang Tulang Bawang Barat itu.

Imam dkk juga kerap menyisipkan kegiatan lain tiap kali keliling. Mendongeng, salah satunya. “Anak-anak TK paling suka dengan dongeng karena mereka biasanya belum bisa baca,” jelas Yayuk.

Perpustakaan tersebut berkeliling setiap akhir pekan atau saat tanggal merah. Kadang juga beroperasi ketika mendapat undangan dari sekolah atau instansi tertentu. “Biasanya sore pas pulang sekolah. Sekali keluar bisa 4-5 jam,” tutur Imam yang merupakan bapak satu anak.

Kegiatan baca lewat perpustakaan keliling barangkali turut menyumbang kenaikan poin minat baca di Indonesia. Hasil kajian minat baca 2018 yang dilansir tahun ini menunjukkan skor 52,3 poin (kategori baik). Skor itu meningkat jika dibandingkan dengan 2017 yang berkisar 43,6 poin (kategori rendah).

Namun, kampanye gemar membaca itu bukan tanpa kendala. Selain stok minim dan kalau harus membeli buku baru di pusat kota mereka mesti menempuh 4 jam perjalanan, perpustakaan motor tiga roda tersebut tidak selalu mulus melintas di jalanan. Maklum, tidak semua jalan raya di Tulang Bawang Barat berkondisi bagus. Masih banyak jalan yang rusak. Terutama di daerah pinggiran.

Belum lagi bayang-bayang daerah rawan kejahatan yang selalu menghinggapi pikiran Imam dkk. Seperti wilayah lain di Lampung, Tulang Bawang Barat tidak lepas dari stigma daerah rawan begal. Mereka mesti berpikir dua kali ketika harus berkeliling ke daerah yang dicap rawan oleh sebagian besar orang. “Kadang takut juga kalau sewaktu-waktu dicegat di tengah jalan,” kata Imam yang dua tahun jadi pengemudi motor perpustakaan itu. “Makanya, sebisanya kami jalan bareng,” imbuh guru di SDIT dan SMPIT Madani Tulang Bawang Barat tersebut.

Biasanya, Imam jalan lebih dulu membawa perpustakaan keliling. Sementara itu, Dian dan Yayuk berada di belakangnya dengan naik motor lain. Meski demikian, mereka tak pernah patah semangat menyebarkan kebaikan lewat buku yang dibawa. Mereka menyadari, membangun literasi di wilayah pelosok memang penuh keterbatasan. Belum lagi ada musuh besar yang membayangi minat baca anak-anak, yakni gawai. “Kami ingin orang tua sadar dan mengalihkan belanja gawai ke buku,” kata Dian.

Bila di setiap pelosok negeri ini ada berjuta-juta perpustakaan keliling, mungkin saja minat baca di negara ini meningkat lebih cepat. Dengan catatan, buku yang dibawa mesti beragam. Anak-anak itu perlu asupan banyak ilmu selain yang didapat di bangku sekolah.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



 Data AS Gagal Hijaukan Indeks Dow Jones  - Gudang Berita Viral Data AS Gagal Hijaukan Indeks Dow Jones
Jumat, 20 Sep 2019, 06:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Pemprov Jabar Jamin Wisata Air tak Tabrak Aturan  - Gudang Berita Viral Pemprov Jabar Jamin Wisata Air tak Tabrak Aturan
Jumat, 20 Sep 2019, 06:00:06 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Indonesia Diminta Tak Jemawa Hadapi Brunei  - Gudang Berita Viral Indonesia Diminta Tak Jemawa Hadapi Brunei
Jumat, 20 Sep 2019, 06:00:05 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print