Senin, 19 Agustus 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Jumat, 02 Agu 2019, 14:00:12 WIB, 4 View Tim Redaksi, Kategori : News
Cara Berbangsa dan Beragama Kita - Gudang Berita Viral

BEBERAPA waktu lalu video berisi seorang perempuan yang sedang beradu mulut sembari membawa anjing di dalam masjid tiba-tiba viral. Sejumlah kalangan angkat bicara atas fenomena apa yang sedang terjadi. Secepat kilat isu itu menghiasi jagat pemberitaan media cetak, elektronik, serta media sosial kita. Lalu, terkait fenomena tersebut, apa yang menarik untuk disimak dan direnungkan? Pertanyaan itu muncul begitu saja sesaat setelah saya mengamati dengan detail dan membaca kronologi peristiwa tersebut. Saya mencatat bahwa setidaknya peristiwa itu tidak bisa kita maknai secara tunggal, dalam arti hanya melihat peristiwa perempuan masuk masjid dengan membawa anjing. Ada rangkaian konteks yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.

Beredar kabar, dan memang jelas terekam dalam video tersebut, bahwa perempuan itu mendatangi masjid dalam rangka mencari suaminya yang menurut kabar yang ia terima akan melangsungkan akad nikah di Masjid Al-Munawaroh tersebut. Latar belakang itu jelas. Lingkupnya adalah persoalan pribadi relasi antara suami dan istri dalam hubungan rumah tangga. Sayang, komentar yang beredar justru fokus pada persoalan anjing yang dibawa masuk ke Masjid. Itulah problem utama kita: salah menempatkan fokus. Cara pandang yang salah dalam menempatkan fokus, pada titik yang paling nadir, akan menghasilkan kesimpulan yang salah. Sudah barang pasti kesimpulan yang salah tersebut akan berujung pada reaksi dan tindakan-tindakan yang salah. Itulah lingkaran setan kesalahan berpikir yang harus kita hindari.



Orientasi ke Dalam

Atas peristiwa tersebut, ada beberapa hal yang menarik untuk direnungkan bersama, utamanya dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Pertama, ada kecenderungan masyarakat kita yang semakin terpolarisasi. Polarisasi itu jelas perkara yang tidak bisa dinegasikan. Kontestasi politik serta iklim yang demikian keruh, tampaknya, menjadi andil besar dalam memproduksi cara pandang yang seperti kita alami ini. Sudut pandang ”kita” dan ”mereka” belakangan ini semakin mudah kita temui. Posisi yang pada titik tertentu, bukan saja menyebabkan tindakan intoleran, bahkan lebih dari itu, melahirkan kekerasan. Cara pandang seperti itu hampir bisa dipastikan berjalan di atas rel ”orientasi ke luar”, korektif dan mudah menyalahkan. Padahal, agama mestinya mendorong pemeluknya untuk berpikir ke dalam (orientasi ke dalam). Yakni, yang harus dibereskan adalah diri sendiri, sebelum melihat apa yang ada di luar diri sendiri.

Identifikasi kita dan mereka –dalam konteks agama dan bangsa– itu jauh-jauh hari sudah diingatkan Sayyidina Ali karramallahu wajhah. Bahwa mereka yang bukan saudaramu dalam seiman adalah saudaramu dalam kemanusiaan. Pada episode inilah peristiwa perempuan yang membawa anjing masuk ke masjid itu relevan untuk didudukkan.

Kedua, dalam konteks tersebut, agaknya menarik untuk diketengahkan soal gerakan eksklusivisme yang melanda kalangan umat. Katup-katup saluran diskusi tersumbat dan mandek disebabkan watak eksklusivisme. Dalam konteks Islam, misalnya, munculnya gerakan meminjam istilah kalangan ahli –”islam festival”– yang lebih menekankan selebrasi kebegaramaan adalah salah satu sinyal menguatkan cara berpikir yang cenderung eksklusif dan mengotak-kotakkan.

Cara beragama seperti ini tentu saja tidak sepenuhnya salah. Namun, ada beberapa fundamen gerakan yang pada titik tertentu justru menyebabkan lahirnya ancaman pada kebinekaan. Mereka yang menamakan diri kelompok hijrah harus diakui pada satu sisi memang berusaha untuk mertransformasi menuju pribadi yang lebih baik, namun di sudut lain, perilaku mereka –yang merasa benar sendiri– kerap kali menciptakan problem yang mengoyak kohesi sosial. Tentu saja yang terancam adalah sendi-sendi kebangsaan yang dibangun di atas pilar kebinekaan.

Ketiga, kondisi yang demikian itu tentu akan semakin rumit ketika dihadapkan dengan realitas bahwa masih banyak masyarakat kita memiliki keengganan untuk berpikir jernih dan kritis. Pada masyarakat yang demikian itu, yang nalar berpikirnya tumpul, penalaran bukan menjadi persoalan urgen dan utama. Masyarakat yang malas berpikir –meminjam Ibnu Khaldun– sudah pasti akan terjebak pada penghakiman. Itu yang berbahaya. Nalar kritis hilang berganti sentimen, wasangka, dan bahkan tuduhan yang pada titik tertentu justru mengabaikan fakta dan realitas.

Padahal, agama mendorong segenap manusia untuk berpikir logis dan mendayagunakan akal. Terkait pentingnya kedudukan akal dalam beragama, Lukmanul Hakim berwasiat kepada anaknya: ”Wahai anakku, tajamkanlah akalmu. Manusia yang memaksimalkan akalnya dalam rangka menyembah Allah, perbuatannya pasti akan baik. Sesungguhnya setan akan lari tunggang langgang dari hamba Allah yang berakal.”

Pertanyaannya, seberapa jauh dan seberapa dalam kehadiran kelompok ”Islam festival” itu memengaruhi corak beragama kita? Jawaban agak melegakan datang dari George Quinn. Dalam buku terbarunya yang bertajuk The Bandit Saint of Java (2019), Quinn mengatakan bahwa ancaman cara berpikir yang eksklusif, termasuk cara beragama yang tertutup, hanya merupakan fenomena kulit. Jauh di dalam lubuk kebudayaan bangsa Indonesia, sejatinya cara beragama masih sangat terbuka. Itulah yang oleh Quinn (2019) disebut dengan ”inner religion” yang usianya sudah berabad-abad serta tidak mudah diintervensi dan diinfiltrasi oleh serangkaian cara beragama dan cara berpikir yang eksklusif dan jumud.

Kendati demikian, tidak berarti kita boleh untuk berlengah-lengah terhadap fenomena eksklusivitas yang sedang melanda. Kita harus berbenah untuk memperbaiki keadaan. Apa pun yang terjadi, karakter bangsa kita yang open minded harus tetap dijaga dengan formula-formula yang lebih kreatif dan sangkil.

Teladan Nabi

Dalam konteks perempuan yang membawa anjing ke dalam masjid, sebuah kisah seorang badui yang kencing di dalam masjid bisa dijadikan renungan dan teladan bersama. Sekali peristiwa ketika Nabi Muahmmad SAW bersama para sahabat sedang di dalam masjid, tiba-tiba datang seorang badui dan seketika itu juga ia kencing di pojok masjid.

Sahabat marah dan segera berlari ke arah badui itu. Melihat kondisi itu, Nabi segera mencegah para sahabat. Dengan penuh kelembutan, Nabi segera menasihati dan memberi tahu sang badui. Rampung memberikan nasihat, Nabi segera memerintah para sahabat untuk mengambil air untuk menyucikan bekas air kencing tersebut. ”Fa innama bu‘itstum muyassiriin wa lam tub’atsu mu‘assirin.” Kalian diutus untuk memberikan kemudahan-kemudahan, bukan malah membuat kesulitan-kesulitan. Sebaris kalimat itu menghunjam di dada para sahabat.

Ala kullihal, bagaimanapun, sebagai umat beragama yang hidup di negara yang bineka, kita harus bisa saling menghormati keyakinan, ritus, amaliah, atribut, serta tempat-tempat peribadatan. Saling menghargai dan menghormati adalah dua kata kunci yang bisa dijadikan modal utama dan garansi atas terselenggaranya kehidupan berbangsa dan beragama yang sejuk dan damai dalam bingkai keberagaman. (*)

*) Sekretaris jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama




Sumber: jawapos.com

Tag: News



 Pamor Kuat Rizal Ramli di Mata Pemimpin  - Gudang Berita Viral Pamor Kuat Rizal Ramli di Mata Pemimpin
Senin, 19 Agu 2019, 03:00:04 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Sanchez Semakin Dekat Merapat ke Inter Milan  - Gudang Berita Viral Sanchez Semakin Dekat Merapat ke Inter Milan
Senin, 19 Agu 2019, 03:00:03 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Shaqiri Mulai Gerah di Liverpool  - Gudang Berita Viral Shaqiri Mulai Gerah di Liverpool
Senin, 19 Agu 2019, 03:00:03 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print