Senin, 23 September 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Rabu, 04 Sep 2019, 20:00:10 WIB, 2 View Tim Redaksi, Kategori : News
Bagi Interisti, Teriakan Monyet Kepada Lukaku Bukanlah Rasisme - Gudang Berita Viral

gudangberitaviral.com-Sebuah surat terbuka dari fans Inter Milan, menjadi pembahasan sangat ramai di media sosial sepanjang hari ini (4/9).

Inti dari pernyataan itu adalah pembelaan Interisti kepada suporter Cagliari yang sudah melakukan tindakan rasisme kepada striker baru Inter, Romelu Lukaku.



Lukaku menjadi sasaran rasisme dalam pertandingan Inter melawan tuan rumah Cagliari di Sardegna Arena, 2 September lalu. Dalam laga itu, Inter menang 2-1. Gol kemenangan I Nerazzurri dicetak oleh Lukaku melalui sepakan penalti pada menit ke-72.

Nah, sebelum Lukaku melakukan tendangan penalti, sejumlah fans Cagliari yang berada di belakang gawang atau tepat di depan Lukaku, beramai-ramai menirukan suara monyet. Tujuannya tentu saja untuk menganggu konsenterasi striker berusia 26 tahun tersebut.

Namun, pemain asal Belgia itu tidak terpengaruh. Dengan sempurna, Lukaku melesakkan bola dengan mengecoh kiper Cagliari Robin Olsen. Setelah mencetak gol, Lukaku menatap dengan dingin kerumunan fans Cagliari yang sudah melecehkannya.

Aksi rasisme kepada Lukaku tersebut memantik kemarahan banyak orang. Salah satunya adalah legenda Prancis yang pernah bermain untuk Parma dan Juventus, Lilian Thuram.

”Ketika kamu menjadi orang berkulit hitam, kamu akan menerima penghinaan rasial setidaknya sekali dalam hidupmu,’’ kata Thuram kepada surat kabar yang berbasis di Roma, Corriere dello Sport.

”Ini bukan hanya soal sepak bola. Sangat munafik mengatakan bahwa ini murni soal urusan suporter. Bagus sekali mengetahui bahwa pemain-pemain berkulit hitam berdiri bersama Lukaku. Tetapi itu tidak cukup. Kami butuh orang-orang kulit putih untuk menemukan solusi atas masalah mereka. Jika mereka merasa lebih penting dari orang kulit hitam dan mengekspresikannya lewat teriakan-teriakan menirukan suara monyet, itu berarti mereka mengalami inferiority complex,’’ lanjut pria 47 tahun itu dengan tajam.

Meski kecaman kepada aksi fans Cagliari meluas, sikap sangat aneh diperlihatkan Interisti. Ultras Inter, Curva Nord, dalam sebuah tulisan di Facebook mengklaim bahwa teriakan menirukan suara monyet kepada Lukaku itu merupakan bagian dari kultur pendukung sepak bola di Italia.

Curva Nord juga menulis bahwa mereka mungkin akan melakukan hal serupa kepada lawan-lawan Inter di masa depan.

’’Kami sangat menyayangkan bahwa kamu mengira apa yang telah terjadi di Cagliari merupakan rasisme,’’ tulis surat terbuka berbahasa Inggris dan Italia yang tertuju kepada Lukaku itu. ”Kamu harus paham bahwa Italia tidak seperti negara-negara Eropa utara lainnya di mana rasisme adalah masalah SESUNGGUHNYA.”

’’Kami paham bahwa bagimu, itu (teriakan monyet) tampak sebagai rasisme. Namun sebetulnya tidak demikian. Di Italia, kami menggunakan beberapa ‘cara’ untuk ‘membantu tim kami’ dan mencoba untuk membuat lawan kami gugup. Itu bukan rasisme, namun hanya membuat mereka kacau saja,’’ lanjut surat terbuka itu.

Menanggapi pernyataan tersebut, Thuram mengatakan bahwa pemikiran aneh dari Curva Nord tersebut lahir karena otoritas sepak bola Italia seakan melakukan pembiaran. Mereka diam saja. Padahal sebelum Lukaku, sudah ada beberapa pemain kulit hitam yang menjadi korban rasisme di Cagliari. Misalnya, mantan penyerang muda Juventus yang sekarang bermain untuk Everton, Moise Kean.

’’Di Prancis, misalnya, wasit akan menghentikan pertandingan jika terdengar teriakan homophobia. Dia akan mengeluarkan dua tim dari lapangan. Inilah cara untuk mengedukasi masyarakat. Saya tidak ingat ada tindakan atau pernyataan seperti itu terjadi di Italia,’’ tegas Thuram.

Sementara itu, Presiden Cagliari Tommaso Giulini bereaksi dengan rencana Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) yang akan menutup tribun yang menjadi sumber teriakan monyet itu. Menurut Giulini, hal tersebut bukanlah solusi yang baik.

”Insiden ini menimbulkan kemarahan dan rasa frustrasi bagi kami semua. Padahal, kami adalah pihak pertama yang mengenalkan pendidikan yang beradab kepada suporter muda,’’ ucapnya kepada Radio Popolare.

”Cagliari sama sekali bukan kota yang rasis. Saya sungguh meminta maaf karena citra buruk kami menyebar ke luar negeri. Namun saya berharap kami tidak mendapatkan skors. Penutupan curva bukanlah jawaban. Harusnya, staf keamanan yang bertanggung jawab untuk mengantisipasi supaya insiden tersebut tidak terjadi,’’ imbuhnya.




Sumber: jawapos.com

Tag: News



Borong 3 Penghargaan Emmy Awards 2019, Chernobyl Banjir Pujian - Gudang Berita Viral Borong 3 Penghargaan Emmy Awards 2019, Chernobyl Banjir Pujian
Senin, 23 Sep 2019, 20:00:16 WIB, Dibaca : 0 Kali
Warga Surabaya Tak Tahu Anggota Dewan Sudah Dilantik - Gudang Berita Viral Warga Surabaya Tak Tahu Anggota Dewan Sudah Dilantik
Senin, 23 Sep 2019, 20:00:16 WIB, Dibaca : 0 Kali
Demontrasi Penolakan UU KPK dan RKUHP Bergema di Sejumlah Daerah - Gudang Berita Viral Demontrasi Penolakan UU KPK dan RKUHP Bergema di Sejumlah Daerah
Senin, 23 Sep 2019, 20:00:16 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print