Minggu, 17 November 2019, WIB gudangberitaviral.com - Gudang Berita Viral
Breaking News

Senin, 04 Nov 2019, 17:00:12 WIB, 4 View Tim Redaksi, Kategori : News
Antara Influencer, Buzzer, dan Cyber Troops - Gudang Berita Viral

Istilah buzzer terus menjadi perbincangan. Namun, belum banyak yang paham perbedaan antara buzzer, influencer, dan cyber troops. Salah kaprah di dunia maya pun sering terjadi.

BUZZER secara harfiah bisa dipahami sebagai pendengung. Belum ada definisi jelasnya di Kamus Besar Bahasa Indonesia meskipun sejumlah kata slang seperti kepo dan gebetan sudah masuk. Dengung sendiri diartikan sebagai tiruan bunyi yang bergema. Buzzer menggemakan informasi yang dianggap ”bunyi” agar cakupannya semakin luas.



Mencari buzzer di dunia maya mungkin lebih mudah ketimbang di dunia nyata. Sebagian warganet barangkali bisa membuat list tokoh-tokoh medsos siapa saja yang dianggap buzzer oleh khalayak. Tapi, di dunia nyata, lebih sulit melakukan identifikasi. Siapa bilang mereka mau dikatakan sebagai buzzer?

Kajitow Elkayeni salah satunya. Dia merupakan penulis opini yang cukup aktif di Facebook. Salah satu opini terakhirnya, sebelum halaman Facebook-nya tidak aktif pada Minggu (3/11) siang, adalah soal Projo. Selama dirinya berkiprah sebagai penulis opini, ungkap Kajitow, akunnya pernah beberapa kali nonaktif karena melemparkan kritik kepada pihak-pihak tertentu.

Istilah buzzer, sebut Kajitow, mencuat dan jadi perhatian publik begitu diberitakan Tempo. Di kalangan mereka sendiri, Kajitow mengakui, istilah itu kerap dipakai sekadar untuk bercandaan. ”Dulu ada. Tapi sekadar guyon dan ngejek-ngejek. Kemudian ada framing, istilah buzzer menjadi sangat negatif sehingga influencer pun risi karena disamakan dengan buzzer,” ujarnya Selasa (29/10).

Menurut Kajitow, orang-orang seperti dirinya dan sejumlah penulis opini beken lainnya bukan buzzer. Melainkan influencer. Dua istilah itu dibedakan berdasar cara kerjanya. Influencer bekerja sukarela, menulis isu berdasar opini dan informasi yang mereka dapatkan dari berbagai sumber. Buzzer sebaliknya, menulis sesuai pesanan pihak yang merekrut atau memakai jasa mereka. Namun, buzzer awalnya berkonotasi positif.

Kajitow mengakui, memang ada buzzer yang kemudian menulis materi yang menyerang pihak lawan. Namun, buzzer dan influencer masih berpegang pada fakta. Sedangkan orang-orang di balik akun yang menyebarkan hoaks atau propaganda lebih tepat disebut cyber troops. ”Itu cyber troops mestinya. Ada kelompok lain yang jahat, memang ada. Kerjanya bikin propaganda. Nah, kadang umpan ini dimakan influencer, agak rumit sih,” paparnya.

Kajitow sendiri sebagai influencer bekerja berdasar informasi yang dimiliki dan timing. Dia awalnya menggunakan medsos untuk tulisan yang lebih sastra. Menulis opini sebagai salah satu hobi saja. Kajitow memulai hobi beropini tersebut pada 2012. Dia butuh waktu cukup lama hingga bisa menjadi salah seorang influencer politik yang dikenal saat ini.

Influencer idealnya murni menulis opini. Materi artikel didapat dari berbagai sumber. Pertama adalah data empiris yang dirasakan atau didapatkan langsung oleh influencer tersebut. Kedua, data bisa datang dari sumber tepercaya dalam partai politik atau lembaga yang menjadi sasaran opini mereka. Nah, yang ketiga cukup menarik. ”Ketiga ini ada sedikit bumbu, istilahnya,” jelas Kajitow.

Bumbu itu diracik dari diskusi dengan pihak ketiga yang merupakan bagian dari lembaga yang ditulis. Misalnya, Kajitow pernah menulis opini tentang PDI Perjuangan. Saat mengonfirmasi data ke parpol tersebut, informan internal bisa memberikan masukan. ”Misalnya, Bro, salah ini. Ya saya ralat,” ungkapnya. Jika demikian, memang hasil tulisannya tidak lagi 100 persen opini pribadi seperti idealnya tulisan influencer.

Hasil tulisan influencer itu yang kemudian kerap disebarkan buzzer atau cyber troops. Buzzer, lanjut Kajitow, umumnya berangkat dari influencer. Dia punya follower yang cukup banyak dengan kemampuan menulis yang dianggap baik. Pihak-pihak tertentu kemudian menawarkan apakah influencer itu bersedia membuat konten sesuai pesanan.

Di sinilah, tegas Kajitow, terletak batas antara status buzzer dan influencer yang melekat pada seseorang. Namun, dia menegaskan bahwa menjadi buzzer tidak serta-merta merekrut orang. ”Nggak mungkin kan tiba-tiba, eh kamu kubayar sekian ya. Padahal, dia nggak bisa nulis,” jelas dia. Sebaliknya, hal itu berlaku dalam pembentukan cyber troops.

Cyber troops sengaja direkrut parpol, lembaga, atau tokoh berpengaruh. Tugasnya menyebarkan propaganda atau hoaks. Bentuknya tidak harus artikel atau utas, bisa juga meme cocokologi. ”Cyber troops itu kan mesin, senjata. Kalau perintahnya libas ya libas. Secara habit-nya memang merusak atau melumpuhkan lawan,” terangnya.

Materi yang disebarkan cyber troops umumnya dikompilasikan juga dari influencer dan buzzer. Persebaran informasi yang cepat dan tumpang-tindih itulah yang membuat masyarakat sulit membedakan ketiganya.

Terkait bayaran, lanjut Kajitow, memang berlaku untuk buzzer yang dikontrak secara politik atau cyber troops. Namun, hal itu tidak berlaku untuk influencer. Termasuk juga relawan. Umumnya hanya mendapat uang bensin dalam sekali kegiatan kampanye, tetapi tidak ada kontrak politik. ”Orang seperti Denny (Denny Siregar, penggiat medsos, Red) pun nggak bisa disebut buzzer karena nggak ada kontrak politik akan jadi komisaris apa atau dibayar berapa per bulan,” lanjut Kajitow.

Tidak spesifik ke isu-isu politik, Lini Zurlia juga memilih disebut influencer ketimbang buzzer. Namanya kerap muncul dalam aksi-aksi massa dan mahasiswa beberapa waktu lalu. Akunnya bahkan sangat aktif mengabarkan update selama demonstrasi berlangsung. ”Mungkin aku bisa masuk kategori itu (buzzer), tapi ya atau tidaknya tergantung follower yang menilai,” ungkapnya.

Lini memilih menjadi influencer beberapa isu tertentu karena ingin meng-counter opini-opini yang beredar. Dia memilih hanya isu-isu tertentu yang dipahami. Misalnya isu tentang RUU KPK dan lingkungan. Untuk lingkungan, contohnya, dia akan menggunakan data-data Walhi, Jatam, dan Green Peace. Lini biasanya menulis opini dalam bentuk utas disertai tagar. Lewat tagar itulah opininya bisa tersebar ke warganet yang juga turut meramaikan tagar tersebut.

Buzzer Boleh asal Positif

ILUSTRASI: Influencer berbeda dengan buzzer. (pixabay)

ANGGAPAN bahwa buzzer selalu buruk sebenarnya tidak tepat, terutama jika ditarik ke belakang. Awalnya istilah buzzer digunakan untuk personal yang menyebarkan informasi soal produk tertentu. Lebih pada tujuan pemasaran dan ekonomi bisnis.

Perannya kemudian merambah politik ketika politisi menggunakan media sosial sebagai salah satu saluran kampanye.

Center of Innovation Policy and Governance (CIPG) pernah melakukan penelitian pada 2017. Datanya memang cukup lama, tetapi kembali dimunculkan di tengah mencuatnya polemik buzzer. Peneliti CIPG Klara Esti mengungkapkan, lembaganya menemukan data bahwa pola rekrutmen buzzer politik tidak berbeda dengan buzzer untuk produk pada umumnya.

Pihak-pihak yang hendak menggunakan jasa buzzer akan melihat beberapa kriteria. Misalnya jumlah pengikut dan seberapa besar amplifikasi unggahannya untuk khalayak. ”Mereka mempunyai kemampuan amplifikasi pesan dengan cara menarik perhatian dan membangun percakapan. Mereka juga bergerak dengan motif tertentu. Karakter umumnya jaringan luas, kemampuan produksi konten yang baik, dan persuasif,” papar Klara.

Penyebaran pesannya sendiri dilakukan tidak hanya melalui akun media sosial. Malah, belakangan ini, buzzer atau yang disebut cyber troops itu juga bergerilya lewat layanan pesan singkat seperti WhatsApp. Mereka menyebarkan link yang seolah-olah dibuat seperti media mainstream untuk meningkatkan kredibilitas di mata penerima pesan. ”Muncul kesan kayaknya kalau sudah dimuat di media, isu itu sudah pasti benar,” lanjutnya.

Menurut Klara, perlu ada penentuan definisi yang jelas untuk buzzer, influencer, dan cyber troops. Tujuannya, pihak-pihak yang berkepentingan bisa menemukan solusi atau kebijakan yang tepat untuk mengatur arus informasi melalui pasukan itu. ”Yang menyebarkan hoaks nggak harus dibilang buzzer karena nanti rancu,” lanjutnya.

Keberadaan buzzer sendiri sebenarnya tidak perlu ditekan. Analis media sosial Ismail Fahmi atau yang dikenal dengan Drone Emprit menjelaskan, setiap negara setidaknya pasti punya buzzer. Kelompok tersebut dibutuhkan untuk mempromosikan program-program pemerintah. ”Kekurangannya adalah ketika buzzer dipakai untuk menutup suara publik atau menyerang lawan. Sehingga publik sulit menyampaikan opini,” jelasnya.

Kelemahan yang terjadi di Indonesia, menurut Ismail, para buzzer atau cyber troops digunakan untuk menyebarkan sebanyak-banyaknya informasi yang justru tidak penting atau tak relevan dengan kepentingan masyarakat. ”Banyak isu ekonomi, bagaimana berkompetisi dengan internasional. Kita tidak menyalahkan buzzer. Mereka bisa sukarela atau bagian dari konsultan publik,” lanjutnya.

Ramainya isu buzzer seharusnya bisa menjadi perhatian dan bahan evaluasi pemerintah. Alih-alih untuk menutupi kritik publik terhadap kebijakan-kebijakan mereka, pemerintah bisa memanfaatkan daya amplifikasi buzzer untuk program-program yang lebih esensial. ”Misalnya, ketika (pemerintah) menyusun kebijakan publik atau programnya, buzzer bisa digunakan untuk menyebarkan (rancangan kebijakannya, Red),” terang Ismail.




Sumber: jawapos.com

Tag: viral, berita viral, hot news, news, gudang berita viral, jawapos, tribunnews, kompas, Antara Influencer, Buzzer, dan Cyber Troops

Tag: News



 Kalau Ahok Jadi Bos BUMN,Rizal Ramli Bilang Begini  - Gudang Berita Viral Kalau Ahok Jadi Bos BUMN,Rizal Ramli Bilang Begini
Minggu, 17 Nov 2019, 05:00:08 WIB, Dibaca : 0 Kali
 Jerman Hantam Belarusia, Belanda Imbang  - Gudang Berita Viral Jerman Hantam Belarusia, Belanda Imbang
Minggu, 17 Nov 2019, 05:00:07 WIB, Dibaca : 1 Kali
 Open Signal: Pengguna di Desa Belum Tersentuh 4G  - Gudang Berita Viral Open Signal: Pengguna di Desa Belum Tersentuh 4G
Minggu, 17 Nov 2019, 05:00:04 WIB, Dibaca : 0 Kali






Buffer Digg Facebook LinkedIn Pinterest Reddit StumbleUpon Tumblr Twitter VK Yummly Print